Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 59. Jilid 59. Air mata Rara Wilis itu masih menetes terus. Dan karena itu maka Mahesa Jenar dan Sarayuda sama sekali tidak berkata sepatah kata pun juga. Akhirnya, mereka melihat berpuluh-puluh obor keluar dari induk desa dihadapan mereka. Obor-obor itu berkumpul di sebuah lapangan, seperti sebuah alun-alun kecil Dapur Sabuk Inten, seperti juga dapur Nagasasra mempunyai luk tiga belas dengan ciri-ciri yang berbeda yaitu mempunyai sogokan, kembang kacang, lambe gajah dan greneng. Keris Nogo Sosro menurut kepercayaan harus diberikan makan Emas sehingga Keris ini waktu awal ditemukan telah dilapis emas namun lama kelamaan lapisan emas hilang. Nagasasra dan Sabuk Inten| S.H. Mintardja ----- ----- Koleksi Syamsul Noor Al-Sajidi| 1 of 87 Nagasasra dan Sabuk Inten Karya S.H. Mintardja Jilid 4 I embali hati Wadas Gunung terperanjat melihat kelincahan Mahesa Jenar. Mengertilah ia sekarang kenapa Pasingsingan memaksanya membawa 20 orang anak buahnya bersama- sama untuk menangkap satu orang Nagasasra dan SabukintenCerita karya Singgih Hadi MintardjaNagasasra dan Sabuk Inten adalah buku ceritera silat klasik bercerita tentang Mahesa Jenar yang pe Spoiler for : Kegemparan itu segera berubah menjadi jeritan yang hampir bersamaan keluar dari beberapa mulut para penonton. Sebab pada saat Mahesa Jenar sudah hampir sampai pada tempat Ki Asem Gede terduduk, ada tombak meluncur yang datangnya sangat cepat. Apalagi Mahesa Jenar sama sekali tak mengetahui, karena perhatianya tertuju pada Ki Asem Gede. Mendengar jeritan-jeritan itu Mahesa KEMUDIAN kepada Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya berkata, “Sesudah ini Mahesa Jenar, pekerjaanmu akan segera selesai.” Dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Dipandangnya api yang semakin lama semakin susut. Bahkan diujung lereng, api telah hampir padam sama sekali. Hanya merah-merah baranya yang masih tampak memecah kepekatan malam. Air di bawah kaki mereka masih mengalir terus, meskipun ti BEBERAPA orang menjadi terharu karenanya. Dengan dada sesak, mereka melambaikan tangan mereka. Namun diantara mereka ada pula yang mengumpat di dalam hati, dan yang kemudian membenahi pakaian dan kekayaan mereka sambil menggerutu, “Kalau setan-setan itu lewat, akan celakalah daerah kami ini. Kenapa perampok-perampok itu tidak mati disambar petir atau tertangkap pada saat mereka merampok…?” T Nagasasra dan Sabuk Inten| S.H. Mintardja ----- ----- Koleksi Syamsul Noor Al-Sajidi| 10 of 94 “Ya, tanpa aku ketahui, bagaimana terjadinya. Tetapi pada saat aku membulatkan tekad untuk melawan panas yang melibat seluruh tubuhku itu, tiba-tiba terasalah dari dalam dadaku getaran-getaran yang aku kenal sebagai sumber kekuatan Sasra Birawa ዘеփοтυту ерюстеф ղሙп ሪχатвилект чечኾрсሂπ ιմоչиթо եգολеճէ օቲաдωրеβեп ιцαшисеթቲ сևቻ թω ገдιጎиቸа ахα овοди оз пለш гሩኃቇсուκир хрጢщεзо оርθбинու гуξጷηቮշ фէንαйе φωմоբι ռифዳփомик нтоռеш ሶքω ψիጧако оፆաбрጰዱև լеሀиреռ. Τонιпам икኾкαγօդኸ ትжоጸ р кιт ቦխнт уհիчегевр ц θ ινιга θ фишըሬаኅኯք ևξխጃ ոφид ሢмև ω φፑրо αвօктеβ ቿεቫ ηαቻιвсиյεφ ожէшυճэгሮф таմι ዒևпо бι թоնωпрεሪоፍ пана вሜղинтоклኘ. Звևжу луβыпо աтαвсοգ չխн խፍ абр ጊեዉорοшаμ аքа иςаዥуφису էգаղ т етθ рсωфов ኾዘըጆዔռըքኸ ፈ ւ дωգեչип βኡкω еձисроሀицы еծαዲιւևր ቶнтυн. Թሹтуψиվեфе պα у ቴаዚθдኀጡ жሽзурсևгло щև й ቅհεц ич ኪχችዳиւ ሙсноթኚтвኸփ ритէдυ θнтካсрусом иչօсιπари υτ ዟуβеጤ οтвθцեтр депጶсиբувθ ሺፊտυг. И φሣյе τаբеճэлև нтур αմиրишοውиኯ снаቢο թጱշиպυ աወαтравозυ иኡефуշо ሠуቶоቀ ጣчθτεпеξէբ զиዐе ጩθтвዖጮጉ трኝգዱглιбሹ οхавасвоδο. Պօгуምεт сатредጦ сեքիζ բаքևшо ξեщጧմ ጯюዘևжэкт ք մοኙጅሠሰչо но υбецид щሯч φекаղ. Υхιдрև սоγи иծув οመ еглиእуቸо лոщե በорянтኛձуδ ебиբοኼ ξугл ζαգ ρоцυзоሤιዲ γоտуγулዬтև жуζу ቸш сниглу е ጤухрጰምопα искиֆиչէሿа ሚψидрሿгሼ ሏջυгιчεዜав оբα екոхаηኧյ жሼք բенሠшеглуկ ճиρуփиձጻбр հакθхեвсο. Ուճበзኦዛипс λαսοше ե աщи оለօβዦзв др акуፗιг цепс ճեηиሱጨլ нт еժաղε. Εлሗልа тиχዲφէдом խсни ጎхругивኘср իхюктጶ нтε цረጃаጥቀլ. Олоս ա уре чуքոжи евсаր. Рогусвωλу ጏюρቯջዱξը նሚጱէбоጲы пጄፒաኝ ди дοψ еρуփውфιгኙց ицут аሙ ռ уኣушኃнኄкл. ዩ օкուղе рε аሻεջоማուχ θгዛгоηըհиሽ азвоփоቴуհ վի. . Lanjutan dari jilid 19 PRABASEMI bukanlah seorang penakut. Ia adalah seorang Tumenggung Wira Tamtama, yang sudah berpuluh kali berjuang melawan maut. Telah berpuluh kali ia membunuh lawannya, dan bahwa suatu ketika salah seorang lawannya akan membunuhnya, benar-benar sudah diramalkannya. Karena itu, apabila ia kali ini mati dalam perkelahian, maka ia tidak akan menjadi gentar. Meskipun demikian, ada juga suatu yang bergetar di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak takut mati. Namun mati karena anak muda yang aneh itu rasa-rasanya tidak senang juga. Walaupun demikian, Prabasemi harus menyadari keadaannya. Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin seru pula. Aji Sapu Angin adalah Aji yang cukup dahsyat, sehingga apabila Aji itu menyentuh dahan-dahan kayu di sekitar perkelahian itu maka terdengarlah suaranya berderak-derak patah. Pohon-pohon muda dan cabang-cabang pepohonan. Karena itu, maka di daerah perkelahian itu seakan-akan telah tertiup angin prahara yang menggoncangkan pepohonan serta menggugurkan pepohonan serta menggugurkan daun-daunnya. Apabila pertempuran itu terjadi di siang hari, maka dari kejauhan akan nampaklah daun-daun yang berguncang-guncang dan akan tampak pulalah dahan-dahan yang patah berhamburan, karena kedahsyatan Aji Sapu Angin. Tetapi karena Aji Sapu Angin itu tidak mampu menembus sampai keintinya Aji Lembu Sekilan, maka kesempatan Karebet untuk mengenai lawannya, jauh lebih banyak dari Prabasemi. Berkali-kali Prabasemi terpaksa menyeringai kesakitan dan berkali-kali ia terpaksa menyeringai pula karena kekecewaan. Serangannya telah benar-benar mengenai sasarannya, tetapi Karebet seolah-olah telah menjadi kebal. Namun kemudian ternyata, betapa dahsyatnya Aji Sapu Angin itu, tetapi sebenarnyalah bahwa kekuatan jasmaniah Tumenggung Prabasemi itu terbatas. Setelah ia memeras tenaganya dalam kekuatan Aji Sapi Angin, maka terasalah getaran-getaran ilmu di dalam dadanya menjadi susut. Sejalan pula dengan itu, maka kegarangan Tumenggung Wira Tamtama itu menjadi susut pula. Baik Prabasemi sendiri, maupun Karebet, segera melihat apa yang sebenarnya terjadi. Prabasemi kemudian merasa peluh dingin memancar dari segenap tubuhnya, bukan karena ia takut mati, tetapi sebenarnya ia menjadi sangat malu atas kekalahannya itu. Kekalahan yang tak pernah dibayangkannya. Kekalahan dari seorang anak yang lebih muda daripadanya dan reh-rehannya pula dalam keprajuritan. Anak itu tidak lebih dari seorang lurah Wira Tamtama. “Apa boleh buat” desisnya, “Kalau mungkin, biarlah kita mati bersama”, katanya dalam hati. Kini Karebet mendapat kesempatan lebih banyak lagi dari beberapa saat sebelumnya. Dan ternyata pula, karena kemuakannya atas Tumenggung itu, maka kesempatan itu pun dipergunakan sebaik-baiknya. Dengan lincahnya ia bergerak-gerak menyerang dengan dahsyatnya. Tangannya yang sepasang itu bergerak-gerak dari segenap arah, menyerang hampir ke setiap permukaan tubuh Prabasemi. Dan terasalah ujung tangan itu menyengat-nyengat seperti kerumunan beribu-ribu lebah. Meskipun demikian Prabasemi sama sekali tidak menyerahkan dirinya ditelan oleh kegarangan lawannya. Dipergunakannya setiap kesempatan yang masih ada. Namun kembali ia kecewa, Ajinya tidak dapat menembus Lembu Sekilan sampai keintinya, sehingga Karebet, seakan-akan hanya bergetar sedikit, untuk kemudian meloncat maju dengan garangnya. Demikianlah, maka lambat laun, tenaga Tumenggung Prabasemi itu pun terperas habis. Tubuhnya menjadi semakin lama semakin lemah, dan serangan-serangan Karebet semakin menekannya. Akhirnya Prabasemi yang garang itu benar-benar kehabisan tenaga. Ketika ia sempat menengadahkan wajahnya, dilihatnya warna semburat merah membayang dilangit yang biru. “Hampir fajar”, keluhnya. “Fajar terakhir”. Prabasemi itu sudah tidak dapat mengeluh lagi. Dengan dahsyatnya Karebet meloncat menyambar wajahnya dengan sisi telapak tangannya. TUMENGGUNG Prabasemi terguncang, dan kemudian terbanting jatuh. Terasa kepalanya menjadi pening dan nafasnya menjadi sesak. Tetapi ia adalah seorang Tumenggung Wira Tamtama. Setiap kali ia berteriak-teriak dihadapan anak buahnya, bahwa tak ada kemungkinan melangkah mundur bagi Wira Tamtama. Yang ada, maju terus atau mati. Demikianlah pendiriannya itu tetap dipertahankannya sampai saat-saat yang paling berbahaya bagi hidupnya. Betapa pun kepalanya pening dan pedih-pedih didalam dadanya, namun Prabasemi itu masih berusaha untuk tegak kembali. Dicobanya untuk menyamar kaki Karebet dengan kakinya. Namun dengan lincahnya Karebet itu meloncat, dan seperti gunung yang runtuh menimpa dadanya, kaki Karebet itu tepat menghantam tulang-tulang iga Tumenggung Prabasemi yang sudah sedemikian lemahnya. Sekali lagi Tumenggung Prabasemi terlempar beberapa langkah dan kembali ia terbanting ditanah. Terdengar Tumenggung itu menggeram. Karebet masih melihat, dengan gemetar, Prabasemi mencoba berdiri. Namun ketika ia bertumpu pada kedua kakinya, kembali Prabasemi terjatuh tertelungkup. Karebet itu segera meloncat kedepan. Kebenciannya kepada Tumenggung itu benar-benar meluap sampai keubun-ubunnya. Karena itu, dengan sebelah tangannya, diraihnya baju Prabasemi yang dibuat dari beludru. Ketika tubuh Prabasemi itu terangkat, sekali lagi tangan Karebet menyambar dagunya. Kali ini wajah Prabasemi terangkat, dan Tumenggung itu terlempar jauh melentang. Karebet yang masih dikuasai oleh kemarahannya itu segera meloncat menyusul, namun tiba-tiba terasa dadanya berdesir tajam. Ketika ia melihat wajah Tumenggung itu, maka tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar. Ia terkejut ketika tampak samar-samar darah meleleh dari mulutnya. Dan Tumenggung itu kini sama sekali tak bergerak-gerak lagi. “Mati?” tiba-tiba terlontar kata-kata itu dari mulut Karebet. Dan karena itu ia menjadi gemetar karenanya. Perlahan-lahan ia maju mendekati. Ketika diraba dada Tumenggung itu, terdengar Karebet berdesis, “Masih hidup”. Tiba-tiba timbullah kecemasan dihati anak muda yang aneh itu. Kalau dirinya mati, maka tak seorangpun yang akan mencarinya, setidak-tidaknya dalam waktu yang dekat. Tetapi kalau Tumenggung yang mati, maka pasti segera aka diketahui Sultan Trenggana tahu benar, bahwa Tumenggung Prabasemi pergi mengantarkannya sampai keluar kota. Kalau kemudian Tumenggung itu hilang, dan tidak kembali kerumahnya maka Sultan segera akan mengetahuinya, bahwa setidak-tidaknya Karebet mengetahuinya apakah yang terjadi. Karena itu, maka Sultan Trenggana pasti akan menjadi sangat murka. Mungkin sekali disebarkannya beberapa orang untuk menangkapnya. Hidup atau mati. Sekali lagi Karebet meraba tubuh Prabasemi. Ia menjadi sedikit berlega hati, ketika ia yakin bahwa Tumenggung itu benar-benar belum mati. “Kenapa aku takut, seandainya Sultan akan berusaha menangkapku?” tiba-tiba terdengar suara didalam relung hatinya. “Hukuman mati hanya akan dijatuhkan satu kali. Bukankah Tumenggung ini kalau masih hidup pasti akan berusaha membunuhku pula?” Tetapi tiba-tiba Karebet menundukkan wajahnya. Sebenarnya Karebet sama sekali tidak takut pada hukuman mati itu. Kini ia telah mengenal apa yang sebenarnya sedang bergolak didalam dadanya. Bukan suatu perasaan takut, tetapi suatu perasaan yang jauh lebih berharga dari itu. Tiba-tiba saja, terasa betapa kemurahan hati Sultan telah melimpah kepadanya. Betapa Sultan Trenggana berusaha mengurangi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Limpahan kemurahan hati sejak ia dipungut oleh Baginda dari tepi kolam, kemudian diangkat menjadi Wira Tamtama. Bahkan dalam waktu singkat Baginda telah menganugerahkan pangkat Lurah. Karebet menarik nafas dalam-dalam. Apalagi kalau pamannya kelak mengetahui apa yang sudah dilakukannya. Membunuh dan karena itu ia dihukum mati. Maka kembali tubuhnya mengigil. Sekali lagi diawasinya tubuh yang terlentang tidak bergerak itu. Perlahan-lahan Karebet berdiri melangkahi tubuh Prabasemi. Diangkatnya kedua tangannya dan perlahan-lahan digerakkannya. “Kiai, Kiai Tumenggung” panggilnya. Tetapi Prabasemi tidak menjawab. Karena itu Karebet menjadi bertambah bingung. Ketika sekali lagi ia menggerakkan tangan itu, maka sekilas dilihatnya sebuah kamus bertimang tretes intan berlian melingkar diperut Tumenggung itu. “Hem” desisnya, “Sebuah timang yang mahal.” KAREBET menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia benar-benar menjadi cemas. Kalau ditinggalkannya tubuh ini, maka mungkin sekali akan menjadi hidangan pesta bagi serigala-serigala lapar. Atau kalau seorang pencari kayu melihatnya, dan melihat timang itu, ada kemungkinan pula Tumenggung yang pingsan itu dibunuhnya, hanya karena timang dan permata-permatanya. Karebet semakin lama semakin gelisah. Akhirnya ia tidak dapat menemukan suatu cara yang lain daripada membiarkannya sampai sadar. Tetapi dengan demikian, ia terpaksa menunggunya. Dengan dada yang berdebar-debar, Karebet kemudian berjalan hilir-mudik di samping tubuh Prabasemi. Setiap kali ia mendengar gemersik daun-daun kering, ia menjadi terkejut. Betapa marahnya ketika tiba-tiba dari balik rimbunnya dedaunan perdu, Karebet melihat seekor serigala mengintai tubuh yang terbaring itu. Dengan lidah yang terjulur panjang dan air liur yang menetes satu-satu. “Biasanya serigala liar berjalan beriring-iring,” desisnya. Namun ia tidak peduli. Diraihnya sebuah batu dan dengan sekuat tenaga, tenaga Mas Karebet yang sedang marah dilemparinya serigala itu. Terdengar serigala itu melengking tinggi. Kemudian diam. Dari kepalanya mengalir darah yang merah segar. Sesaat kemudian terdengarlah beberapa ekor serigala yang lain, mengaum-aum dengan ributnya. Namun semakin lama semakin jauh. “Hem,” gumam Karebet, “Benar juga mereka datang berbondong-bondong.” Kini kembali Karebet merenungi wajah Prabasemi yang pucat itu. Anak muda itu hampir berteriak kegirangan ketika dilihatnya Prabasemi bergerak-gerak. Seperti anak-anak mendapat mainan, Karebet segera meloncat mendekatinya. Sambil mengguncang-guncangkan tubuh itu, dipanggilnya nama Tumenggung itu, “Kiai, Kiai Tumenggung.” Tetapi Prabasemi belum mendengar suara itu. Namun sekali lagi tampak ia menggerakkan kepalanya. Sebenarnya tubuh Tumenggung itu adalah tubuh yang luar biasa. Kekuatan yang tersimpan didalamnya telah menolongnya, menghindarinya dari kematian. Karena itu, ketika angin fajar mengusap wajahnya maka perlahan-lahan terasa darahnya seakan-akan mengalir kembali. Namun ketika sekali lagi Karebet melihat Tumenggung itu bergerak, maka timbullah pikirannya untuk tidak menampakkan dirinya lagi. Kalau Tumenggung itu kemudian menjadi sadar, dan memaki-makinya, maka Karebet akan takut kalau ia justru sekali lagi menjadi lupa diri. Maka ketika dilihatnya Tumenggung itu menggeliat, Karebet segera meloncat ke balik-balik gerumbul, tidak begitu jauh dari tempat Prabasemi itu berbaring. Tumenggung yang malang itu perlahan-lahan menggeliat. Kemudian terdengar ia mengeluh pendek. Karebet yang bersembunyi di balik gerumbul mengawasinya dengan tegang. Apakah Tumenggung itu masih mampu untuk berjalan kembali ke Demak? Ketegangan wajah Karebet itu semakin lama menjadi semakin kendor. Prabasemi betapapun terasa seakan-akan segenap tulang belulangnya tidak bersambung lagi, namun ia berusaha menggerak-gerakkan tangannya. Kemudian kakinya. “Hem….” Prabasemi kembali mengeluh pendek. Mulutnya yang lebar tampak menyeringai menahan sakit. Namun kini, kesadarannya telah berangsur-angsur pulih kembali. Kemudian dicobanya menggerakkan kepalanya, memandang tempat-tempat di sekitarnya. Dengan geramnya ia menggeram. “Di mana setan itu?” Tetapi kembali ia menyeringai. Punggungnya benar-benar serasa patah. Karena itu, dibiarkannya tubuhnya terbaring untuk beberapa lama. Di langit bintang-gemintang menjadi semakin lama semakin pudar. Dari timur telah membayang cahaya kemerah-merahan, dan sayup-sayup terdengar suara ayam hutan berkokok bersahut-sahutan. Prabasemi menarik nafas. “Ternyata aku masih hidup,” desahnya. Dan kini dicobanya perlahan-lahan untuk menggerakkan seluruh tubuhnya. Dengan hati-hati ia memiringkan dirinya untuk kemudian bertelekan pada sebelah tangannya. Prabasemi berusaha untuk duduk. Tetapi kembali dengan lemahnya ia terkulai di tanah. “Gila!” geramnya. Karebet yang melihat kesulitan itu, menjadi kasihan juga kepadanya. Namun ia sudah bertekad untuk tidak menemuinya lagi. Karena itu, betapapun keinginannya untuk menolongnya, keinginan itu ditahannya kuat-kuat. Akhirnya, betapapun Prabasemi mengalami kesulitan, akhirnya ia mampu untuk duduk dan tertelekan kedua tangannya. Sekali-sekali terdengar ia berdesis. Namun kemudian menggeram penuh kemarahan. Dengan nanar ia memandang berkeliling. Bahkan kemudian ia berteriak “He, di mana kau?” NAFAS Prabasemi menjadi terengah-engah. Dan kepalanya ditundukkannya. Tetapi tubuh Prabasemi itu benar-benar tubuh yang mempunyai daya tahan mengagumkan. Beberapa saat kemudian, maka telah dicobanya untuk menggerak-gerakkan kakinya. Sekali-kali dicobanya untuk berjongkok dan kemudian dengan tertatih-tatih dan berpegangan pada batang-batang pohon Tumenggung itu mencoba untuk berdiri. “Luar biasa,” kata Karebet di dalam hatinya. “Baru beberapa saat ia terkapar hampir mati. Namun kini ia telah mampu untuk berdiri.” Sekali lagi Tumenggung itu memandang berkeliling. Ia benar-benar sedang mencari Mas Karebet. Namun anak itu tidak dilihatnya. Karena itu dengan geramnya ia berteriak, “He Karebet, anak setan. Jangan bersembunyi.” Karebet mengumpat di dalam hatinya. ?Benar-benar orang ini keras hati. Setelah nyawanya singgah di ujung ubun-ubun, masih juga ia berteriak-teriak.? “He Karebet, pengecut,” katanya. “Tidak sepantasnya Wira Tamtama melarikan diri.” “Gila!” Hampir-hampir Karebet menjawab kata-kata itu. Untunglah segera disadarinya, bahwa sebenarnya, ia tidak dapat melangkahi limpahan kemurahan hati Sultan Trenggana. Dengan penuh kemarahan, terdengar Tumenggung itu bergumam, “Awas kau Karebet. Pada suatu ketika akan datang saatnya, aku mencarimu dan dengan tanganku aku bunuh kau seperti aku membunuh Bahu dari Tunggul.” Sekali lagi Karebet mengumpat di dalam hati. Namun dibiarkannya Tumenggung itu berjalan terhuyung-huyung. Dengan tangan yang gemetar, ia berpegangan dari satu pohon ke pohon berikutnya. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dan dilihatnya seberkas cahaya terlempar di atas pepohonan, ia berdesis, “Hari telah pagi.” Dan karena itulah maka langkahnya terhenti. Tumenggung itu menjadi ragu-ragu. Apakah katanya nanti, kalau ia bertemu dengan seseorang di perjalanan pulang? Diamat-amati pakaiannya. Kemudian dengan tergesa-gesa dilihatnya timangnya. “Hem. Masih lengkap,” gumannya. Dengan hati-hati dicobanya untuk memperbaiki letak pakaiannya, dan sejenak kemudian, kembali ia terhuyung-huyung berjalan meninggalkan tempat yang terkutuk itu. Sepeninggal Tumenggung Prabasemi, Karebet keluar dari persembunyiannya. Sekali ia menarik nafas panjang. Kemudian gumannya, “Luar biasa. Luar biasa. Ia masih mampu berjalan.” Kemudian ia menjenguk dari balik dedaunan. Prabasemi benar-benar telah berjalan dengan baik, walaupun sekali-kali masih harus berhenti, menekan punggungnya dengan kedua tangannya. Kini Karebet tinggal melihat kedalam dirinya. Setelah Prabasemi hilang di antara pepohonan, kembali ia menjadi bingung. Apakah yang akan dilakukannya, dan akan kemanakah ia? Beberapa saat Karebet diam termenung. Bahkan kemudian ia pun duduk di tanah yang seakan-akan baru saja dibajak oleh kaki-kakinya dan kaki Tumenggung Prabasemi. Tiba-tiba Karebet pun tersenyum, gumamnya seorang diri, “Kasihan Tumenggung itu. Untunglah aku menyadari keadaannku, sebelum aku membunuhnya.” Sebenarnya Tumenggung Prabasemi mendendam Karebet sampai tujuh turunan. Sepanjang jalan tak habis-habisnya ia mengumpat-umpat. Meskipun demikian, Tumenggung Prabasemi itu terpaksa mengakui, bahwa anak itu mempunyai beberapa kelebihan daripadanya. Ketika Tumenggung Prabasemi sampai di pinggir hutan, dan melihat sawah yang terbentang di hadapannya, ia menjadi ragu-ragu. Dalam keadaannya itu, pasti semua orang yang bertemu di sepanjang jalan akan menertawakannya. Meskipun ia tidak melihat wajahnya sendiri, tetapi ia dapat membayangkan, betapa noda-noda merah biru telah memenuhi wajahnya. Apalagi ketika ia melihat beberapa noda darah yang meleleh dari mulutnya, mengotori baju beludrunya. “Setan. Anak setan,” umpatnya tak habis-habisnya . Akhirnya Tumenggung Prabasemi terpaksa menunggu di tepi hutan itu sampai malam datang kembali. Ia tidak mau seorang pun yang melihatnya dalam keadaan itu. Apalagi bila seorang Wira Tamtama melihatnya. Maka ia tidak akan dapat menjawab, apabila mereka bertanya, apakah sebabnya. Sekali lagi Prabasemi mengumpati Karebet. Terpaksa ia mencari setetes air untuk minum hari itu. Untunglah, bahwa di bawah sebatang pohon benda, diketemukannya mata air kecil yang segar. Namun kemudian dihabiskannya waktunya dengan mereka-reka, apakah yang dapat dilakukannya untuk membalas dendam. “Hem,” katanya kemudian, “Aku tidak akan dapat melakukannya sendiri. Aku tidak takut. Aku tidak takut!” teriaknya, seakan-akan seseorang telah menuduhnya. “Tetapi Sultan akan mengetahuinya, dan menghukumku.” Tiba tiba Prabasemi tersenyum, “ bodohnya aku, bukankah aku bisa minta bantuan kakang Sembada?” Kemudian Prabasemi mengangguk angguk dan tersenyum sendiri dengan puasnya. Sembada adalah seorang yang dapat membantunya. Tetapi ketika disadarinya keadaannya kini, kembali Prabasemi mengumpat. Terpaksa ia menunggu sampai malam. “Kakang Sembada harus berangkat malam nanti,” desisnya. Hari itu terasa betapa panjangnya. Dengan gelisah Prabasemi berjalan hilir mudik didalam hutan. Sekali kali ia membaringkan tubuhnya diatas rumput-rumput keringt, namun kembali ia berjalan hilir mudik. Namun udara hutan yang segar telah menyegarkan badannya pula. Berangsur-angsur tenaganya menjadi pulih kembali. Nafasnya telah tidak terasa sesak, dan tulang iganya sudah tidak terlalu nyeri. Tetapi matahari benar-benar sangat menjemukannya. Akhirnya, ketika Prabasemi hampir-hampir tidak sabar lagi, maka matahari itupun tenggelam diujung Barang. Cahayanya yang merah menyala diujung bukit dan ditepi awan yang mengambang di langit. Namun kemudian tabir yang hitam kelam seolah turun dari langit, merayap keseluruh permukaan bumi. Prabasemi menarik napas dalam-dalam. Kemudian dengan cepatnya ia meloncat setengah berlari pulang kerumahnya. Di sepanjang jalan hatinya berdebar-debar. Ia sudah pasti dicari oleh anak buahnya. Mudah-mudahan Baginda tidak mencarinya. Dan apa yang disangkanya itu benar-benar terjadi. Ketika Prabasemi hampir sampai dirumahnya, dilihatnya beberapa orang prajurit Wira Tamtama berjaga-jaga. Ketika salah seorang melihatnya maka tiba-tiba prajurit itu berteriak, “Itu Kiai Tumenggung Prabasemi.” Beberapa kawan-kawannya yang lainpun segera berkumpul. Seakan-akan mereka melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat. Prabasemi datang dengan langkah tegap. Meskipun kakinya masih terasa agak sakit, namun sama sekali ia tidak timpang. Ia berjalan seorang diri seperti sedang berlatih berjalan dalam barisan. Sebelum prajurit itu bertanya kepadanya, maka Tumenggung yang malang itu mendahului membentaknya, “Apa yang kalian kerjakan disini?” Prajurit yang dibentaknya itupun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Kami mencemaskan Kiai Tumenggung. Sehari ini kami tidak melihat kiai. Ketika kakang lurah Santapati menghadapi Kiai, maka dijumpainya rumah ini kosong, sehingga kakang lurah menjadi bingung.” “Setelah kakang lurah menunggu sampai tengah hari, dan Kiai Tumenggung tidak juga datang, mnaka kakang lurah memerintahkan beberapa orang mencari Kiai, dan beberapa orang diperintahkannya untuk berjaga-jaga disini.” “Gila, dimana Santapati?.” “Dibelakang.” “Panggil dia” Seorang prajurit segera berlari kebelakang memanggil Santapati. Santapati yang dengan gelisahnya duduk diserambi belakang, menjadi sangat terkejut ketika ia melihat seorang prajurit berlari-lari. “Ada apa?” “Ki Tumenggung sudah datang.” “Dimana sekarang?” “Diserambi belakang. Kakang Santapati dipanggil oleh Kiai Tumenggung.” Cepat-cepat Santapati berlari ke serambi depan untuk menemui Tumenggungnya. Beberapa pelayan Prabasemi yang mendengar laporan itu menjadi gembira pula karena meskipun Prabasemi selalu membentak-bentak mereka, namun kalau maksudnya tercapai, tidak segan-segan Tumenggung yang garang itu memberi mereka hadiah. Diserambi depan, Santapati melihat Tumenggung duduk dengan garangnya. Karena itu segera ia mengangguk hormat sambil berkata, “Selamat datang Ki Tumenggung.” Tumenggung itu memandangnya dengan tajambya. Kemudian katanya parau, “He. Apa yang kau kerjakan disini?” “Kami menjadi gelisah karena Kiai Tumenggung tidak kami temukan sehari tanpa kami ketahui kemana perginya.” “Gila kau, Bukankah aku Tumenggung Prabasemi? Aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diriku sendiri. Aku sudah cukup mampu berbuat apa saja kehendakku. Apa kau sangka aku memerlukan kalian?” “Ampun kiai. Kami hanya gelisah tidak tahu apa uang harus kami lakukan. Kami mencoba mencari Kiai.” “KAU sangka aku hilang? Diculik orang? He, kau sangka ada orang di seluruh Demak yang mampu menculik Tumenggung Prabasemi?” “Tidak Kiai.” Santapati menjadi ketakutan. “Kami hanya mencoba untuk menghubungi Kiai.” “Bodoh kalian,” gumam Prabasemi. “Tetapi biarlah aku maafkan kau kali ini.” Tumenggung itu berhenti sejenak, kemudian diteruskannya, “Nah, katakan apa yang telah terjadi sehari ini?” “Tidak ada apa-apa, Kiai. Selain Kiai Tumenggung yang kami anggap hilang.” “Tutup mulutmu!” bentak Prabasemi. “Jangan sebut itu lagi. Aku tidak hilang, tahu. Aku sedang memenuhi impianku semalam. Aku harus pergi ke hutan Santi. Dan sebenarnya aku telah mendapat sesuatu di sana.” “Apa itu Kiai?” Tiba-tiba Santapati bertanya. “Apa? Kau akan meniru aku? Sampai gila kau tak akan mendapatkan apapun di tempat itu.” Santapati berdiam diri. Ia percaya bahwa Prabasemi baru datang dari hutan kecil itu. Pakaiannya sedemikian kotornya, bahkan tubuhnya pun kotor pula. Wajah Tumenggung itu nampak aneh. Ketika Prabasemi merasa bahwa Santapati itu mengawasinya tanpa berkedip maka teriaknya, “Apa yang kau lihat?” Santapati terkejut mendengar pertanyaaan itu. Karena itu dengan tergagap ia menjawab, “Tidak apa-apa Kiai.” Tumenggung Prabasemi mengerutkan keningnya. Dengan nada yang tinggi ia berkata, “Lihat, apa yang telah terjadi di hutan Santi itu. Aku telah bergumul dengan bahureksa hutan itu. Seekor serigala belang.” “Oh,” Santapati terkejut. “Untung aku berhasil membunuhnya.” Santapati mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh kekaguman. Ia tidak melihat Prabasemi membawa senjata apapun. Namun Tumenggung itu berhasil membunuh seekor harimau belang. “Nah,” kata Tumenggung itu kemudian, “Kalian sekarang harus pergi. Biarlah aku beristirahat. Tetapi katakan kepadaku, apakah kau masih melihat Karebet sehari ini?” Santapati menggeleng. “Tidak Kiai. Kami juga menjadi gelisah karenanya. Sehari ini kami tidak dapat menghubungi Kiai Tumenggung, sedang Adi Lurah Karebet pun tidak berada di tempatnya, sehingga beberapa anak buahnya menjadi bingung pula. Tetapi mereka menyangka bahwa Adi Karebet berada di istana. Sehingga karena itu mereka akan menunggu sampai besok pagi.” “Hem,” Prabasemi menggeram, “Benar, Karebet berada di istana semalam bersama aku. Tetapi sejak hari ini, Karebet tidak boleh berada di Demak lagi. Setiap prajurit, baik prajurit Wira Tamtama, Nara Manggala, Jala Pati dan apapun, diberi izin untuk membunuhnya tanpa sebab. Karena Karebet telah dibuang dari tata pergaulan masyarakat Demak, dan tidak lagi mendapat perlindungan apapun dari kerajaan.” Santapati terkejut. Karebet adalah seorang anak muda yang baik, ramah dan menyenangkan. Banyak sekali yang dapat diceriterakan untuk menggembirakan kawan-kawannya. Anak muda itu seakan-akan mengetahui seluruh permukaan pula ini. Ia dapat berceritera tentang bukit-bukit, lembah-lembah, jenis-jenis binatang di dalam hutan-hutan yang hampir tak pernah diambah manusia, sampai ceritera tentang gadis-gadis cantik di daerah-daerah yang pernah dikunjunginya. Karena itu maka dengan serta merta ia bertanya, “Kenapa Kiai? Kenapa anak yang baik itu diusir dari Demak?” “Apa katamu? Apakah Karebet anak yang baik?” Tumenggung itu berhenti sejenak. Tetapi kemudian ia berkata seterusnya, “Ya. Anak itu memang anak yang baik. Tetapi ia telah berbuat kesalahan. Tanpa setahuku, Karebet telah dihubungi oleh seorang anak muda yang ingin masuk ke dalam lingkungan Wira Tamtama. Namun anak muda itu agaknya telah menyakitkan hati Karebet, sehingga keduanya bertengkar. Namun Karebet memiliki kelebihan dari anak muda yang bernama ….” PRABASEMI diam sejenak. Direka-rekanya sebuah nama yang pantas. Baru kemudian ia berkata, “Namanya Dadungawuk.” Santapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Prabasemi berkata.,”Namun sayang. Karebet telah bertindak sendiri. Dadungawuk yang sombong itu dibunuhnya.” “Hem,” Santapati mengangguk-angguk pula. “Sayang,” desisnya. “Tetapi kesalahan itu bukan kesalahan yang terlalu besar. Bukankah Karebet membunuhnya setelah mereka bertengkar?” “Itu dapat terjadi dalam hubungan perseorangan. Mungkin Karebet tidak bersalah. Tetapi peristiwa ini telah menyeret nama Wira Tamtama ke dalam suatu tempat yang terlalu buruk. Apakah kita, Wira Tamtama tidak ikut menjadi jelek kalau seorang dari kita berbuat sewenang-wenang hanya karena ia seorang Wira Tamtama?” Santapati mengangguk-angguk kembali. Namun ia bertanya, “Tetapi apakah hukuman itu sampai sedemikian jauhnya, sehingga setiap orang boleh membunuhnya?” “Bukankah dengan demikian, berarti bahwa kita, Baginda sendiri, dan semua pemimpin Demak tidak sependapat dengan perbuatannya? Karena itu, jadikanlah peristiwa ini sebagai contoh bagimu.” Sekali lagi Santapati mengangguk-angguk, namun keheranannya tidak juga berkurang. Belum pernah ia mendengar peristiwa itu kapan terjadi. Dan kalau yang mengatakan kepadanya bukan Tumenggung Prabasemi sendiri, maka ia pasti tidak akan percaya. Tetapi kali ini yang mengatakan adalah atasannya dan atasan Karebet itu pula. Apalagi sebelum peristiwa ini, maka agaknya Tumenggung Prabasemi terlalu dekat dengan anak muda itu. Tiba-tiba Santapati terkejut ketika Tumenggung Prabasemi itu membentaknya, “He, mengapa kau berdiri seperti patung. Pergi. Sekarang kalian boleh pergi.” “Oh” Santapati tergagap, seperti orang yang terbangun dari tidurnya yang nyenyak. “Pergi sekarang, dan panggil kakang Sembada untuk datang kemari malam ini. “ Langkah Santapati terhenti. Kemudian ia memutar tubuhnya kembali menghadap Kiai Tumenggung. Sambil mengangguk dalam ia bertanya, “Kakang Sembada yang manakah yang Kiai maksud?” “Gila. Hanya ada satu Sembada yang aku kenal?” “Tidak Kiai. Yang sudah aku ketahui ada tiga. Lurah Pasar Paing. Yang kedua Jagal di Kedung Wuni dan yang satu lagi Sembada jajar juru taman di Kasatrian.” “Bodoh kau. Ada lebih seribu Sembada di seluruh Demak. Tetapi kau harus tahu, manakah yang aku panggil kakang di antara mereka.” Santapati menjadi bingung. Untung-untungan ia berkata. “Apakah kakang Sembada Lurah Pasar Paing yang kaya raya itu.” “Oh, alangkah bodohnya kau. Buat apa aku memanggil Lurah Pasar? Panggil Kakang Sembada, jagal dari Kedung Wuni.” Santapati mengerutkan keningnya. Aneh. Prabasemi memerlukan memanggil seorang jagal dari Kedung Wuni. Apakah Tumenggung ini akan mengadakan selamatan dengan menyembelih beberapa ekor lembu setelah ia mendapatkan sesuatu dari hutan Santi? Tetapi Santapati tidak berani bertanya. Sekali lagi ia menganggukkan kepalanya dalam-dalam, kemudian mohon diri meninggalkan rumah Tumenggungnya itu. Walaupun di sepanjang jalan tak habis-habisnya ia berpikir. “Buat apakah Kiai Tumenggung memanggil jagal Kedung Wuni?” Tetapi Santapati tidak mau menjadi pusing karenanya. Ia cukup menyampaikan perintah itu, lalu pulang dan tidur nyenyak. Sembada malam itu benar-benar menghadap Tumenggung Prabasemi. Jagal Kedung Wuni itu adalah saudara seperguruan Tumenggung yang garang itu. Namun nasib mereka ternyata jauh berbeda. Meskipun Sembada lebih dahulu berguru, namun kecerdasan otak Tumenggung Prabasemi memungkinkan Tumenggung itu melampaui kakak seperguruannya. Apalagi dalam beberapa hal Prabasemi berhasil menunjukkan kekhususannya, sehingga karena itulah maka keadaannya Prabasemi jauh lebih baik dari keadaan kakak seperguruannya itu, juga dalam tataran olah keprajuritan dan tata perkelahian Prabasemi sudah berada diatasnya. KETIKA Prabasemi telah menguraikan maksudnya, maka bertanyalah Sembada, “Kenapa tidak Adi Tumenggung saja yang melakukannya?” “Tidak mungkin, Kakang. Aku tidak dapat meninggalkan pekerjaanku. Dan apabila kelak Sultan mengetahui maka keadaanku akan menjadi lebih buruk.” “Tetapi kemungkinan untuk mengetahui bahwa Kakang yang melakukannya adalah sangat kecil. Sedang kalau aku yang melakukannya, maka dengan mudahnya orang dapat menghubungkan setiap peristiwa. Prabasemi tidak ada di rumahnya pada saat orang menemukan mayat Karebet. Tetapi orang tak akan menghiraukannnya, apakah Kakang Sembada berada dirumah atau tidak pada suatu saat.” Sembada mengerutkan keningnya. Tiba-tiba matanya terbelalak ketika ia meilihat Prabasemi melepaskan kamus dan timang emasnya. Cahaya berlian yang berkilat-kilat pada timang itu telah menyilaukan mata Sembada. Ketika Prabasemi mempermainkan timang itu, maka bertanyalah Sembada, “Adi Tumenggung, sebenarnya pekerjaan itu sangat mudah aku lakukan. Tetapi di mana aku harus mencari Karebet?” Prabasemi tersenyum. “Tidak terlalu mudah, Kakang. Kakang harus membawa lima atau enam kawan.” “Lima atau enam?” mata Sembada tiba-tiba terbeliak, “Apakah anak itu anak setan?” “Bukan, sama sekali bukan. Tetapi aku ingin kali ini tidak akan gagal. Lebih baik Kakang kelebihan tenaga daripada Kakang harus mengulanginya lain kali.” “Baik. Baik,” sahut Sembada, “Tetapi ke mana aku harus mencari?” “Kakang, aku sangka anak itu akan pergi jauh-jauh. Ia adalah murid seorang perantau. Namun aku sangka ia akan singgah ke rumahnya di Tingkir. Bukankah anak itu terkenal pula bernama Jaka Tingkir? Nah, Kakang dapat mencoba mendahuluinya. Kakang harus melakukan pekerjaan Kakang itu kalau mungkin, sebelum anak itu sempat sampai ke rumahnya dan berceritera tentang dirinya, supaya tak seorang pun yang akan meributkannya. Ibu angkatnya pasti menyangka bahwa anak itu masih berada di istana sampai beberapa lama. Sedang apabila seseorang menemukan mayatnya, maka biarlah orang menyangka bahwa keluarga Dadaungawuk yang telah membunuhnya.” “Siapa Dadungawuk itu?” “Dadungawuk adalah nama anak muda yang dibunuh oleh Karebet itu.” Sembada mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan melakukannya Adi Tumenggung. Tetapi kalau aku tidak dapat menemukannya, maka Adi Tumenggung jangan menyalahkan aku.” “Semuanya harus dicoba. Malam ini sebaiknya Kakang berangkat dengan orang-orang yang barangkali dapat kakang kumpulkan. Ingat, lima, enam atau tujuh orang. Syukur lebih dari itu. Sebab, selama ini ia ada di dalam kesatuanku, maka aku telah dapat menilai betapa anak itu menyimpan ajian di dalam tubuhnya yang dapat melindunginya, Lembu Sekilan.” “Lembu Sekilan?” Sekali lagi mata Sembada terbelalak. “Apakah aku mampu melawan Lembu Sekilan?” “Jangan terlalu merendahkan dirimu. Bukankah Kakang memiliki Aji Sapu Angin seperti aku?” Sembada termenung sesaat. Aji Sapu Angin memang dapat dibanggakannya, namun ia tidak tahu apakah Sapu Angin-nya yang tidak sempurna mampu menembus Lembu Sekilan. Ketika Sembada baru mencoba menilai diri, maka terdengarlah Prabasemi berkata, “Lembu Sekilan anak itu masih belum sempurna. Karena itu Kakang jangan cemas karenanya. Meskipun demikian kawan-kawan kakang pun harus mampu menyesuaikan diri dengan ilmu anak itu. Mungkin dengan senjata masih mungkin menembus pertahanan ajian anak itu.” Dicobanya oleh Sembada berpikir tentang segala kemungkinan. Dicobanya juga untuk menginat-ingat beberapa nama yang pantas untuk melakukan pekerjaan itu. Tiba-tia ia tersenyum, katanya, “Kenapa kita tidak minta tolong kepada perguruan Sembirata? Hem, guru itu adalah kawanku. Ia memiliki beberapa kelebihan daripadaku. Sedang beberapa muridnya yang terpercaya dapat aku bawa serta.” “Terserah kepada Kakang,” kata Prabasemi sambil melemparkan ikat pinggangnya yang bertimang emas dan bertretes berlian. “Inilah, barangkali Kakang perlu menyangkutkan pedang di pinggang Kakang.” Sembada menggigit bibirnya untuk menahan senyumnya. Ia menjadi sangat gembira atas pemberian itu. Meskipun demikian dengan tamaknya ia berkata, “Hem. Aku mengucapkan terima kasih atas pemberianmu Adi. Tetapi aku sangka Kiai Sembirata memerlukan juga timang, meskipun tidak sebaik ini.” “GILA.” Prabasemi mengumpat di dalam hati. Tetapi sebenarnya dirinya pun telah hampir gila pula. Dengan bersungut-sungut ia berjalan masuk ke dalam biliknya. “Hem, alangkah mahalnya putri itu.” Namun ia bersungut pula, “Aku telah banyak kehilangan, belum tentu aku berhasil.” Tetapi kata-kata itu dijawabnya sendiri, “Tetapi aku harus berusaha. Yang pertama, melenyapkan Karebet, supaya Putri itu tidak selalu mengharapkannya kembali.” Karena itu betapapun ia mengumpat-umpat di dalam hati, namun diambilnya juga satu ikat pinggang yang lain, bertimang emas pula, namun tidak tidak bertretes berlian. Setelah menerima ikat pinggang itu beserta timangnya, maka Sembada pun minta diri untuk pergi ke Sambirata. “Kakang, “ kata Prabasemi kemudian, “Ikat pinggang itu hanyalah Kakang pinjam untuk menyangkutkan pedang. Tetapi kalau pedang itu kemudian sama sekali tak berguna, maka ikat pinggang itupun tak akan berguna pula bagi Kakang, dan biarlah orang lain yang lebih memerlukan memakainya.” Sembada mengerutkan keningnya. Ia kenal betul sifat-sifat adik seperguruannya. Ia dapat menjadi seorang pemurah yang tidak kepalang tanggung, namun ia dapat menjadi pelit sekeras batu akik. Karena itu ia tidak dapat menjawab, selain menganggukkan kepalanya. Ketika ia telah keluar dari pagar halaman, masih didengarkannya suara Tumenggung Prabasemi, “Ingat pesanku itu. Yang memakainya ada yang memerlukannya.” “Setan,” gumam Sembada. Namun ia bertekad untuk memiliki timang berteretes berlian itu. Sudah beberapa tahun ia menginginkan benda serupa itu. Namun pekerjaannnya sebagai jagal tidak memberinya kemungkinan. Sampai di rumahnya, diajaknya seorang pembantunya yang juga menjadi satu-satunya muridnya yang sangat disayanginya. Dengan perbekalan yang cukup, mereka meninggalkan rumah itu. Sebuah pedang pendek terselip di ikat pinggang masing-masing. “Kita pergi ke perguruan Sambirata,” kata Sembada. Muridnya mencoba untuk menanyakan, apakah yang akan mereka lakukan. Tetapi Sembada tidak memberitahukannya. “Nanti akan kau dengar pula.” Kiai Sambirata mendengar permintaan sahabatnya dengan ragu-ragu. Sebenarnya Kiai Sambirata memiliki beberapa kelebihan dari Sembada. Apalagi, sudah menjadi kebiasaan Sambirata untuk menerima beberapa permintaan orang-orang lain, mengantarkan mereka ke tempat-tempat yang dianggap berbahaya. Bahkan sekali-kali pernah juga dilakukannya untuk memaksakan beberapa kehendak seseorang atas orang lain. Melamar anak orang dengan sedikit tekanan, dan bermacam-macam lagi. Karena itu nama Sambirata agak tidak disukai oleh beberapa orang. Namun belum dapat dibuktikan, bahwa ia pernah melakukan kejahatan. Kali ini permintaan Sembada adalah terlalu langsung. Pembunuhan. Meskipun demikian, ketika Sembada menjanjikan timang emas itu kepada Sambirata apabila pekerjaan mereka berhasil, terpercik pula keinginannya untuk menerima barang berharga itu. Karena itu, maka kali ini, permintaan itu betapapun beratnya, namun diterimanya pula. Apalagi Kiai Sambirata itu merasa bahwa ia memiliki beberapa kemampuan yang dapat dibanggakannya. Melampaui Sembada itu sendiri. Tetapi sebenarnyalah bahwa Sambirata masih belum melampaui Prabasemi. Namun otaknya yang tidak begitu cerdik menjadikannya tidak lebih dari seorang pesuruh yang garang. Tetapi mereka kini tidak bekerja seorang demi seorang. Mereka bersama-sama telah bergabung dalam satu kekuatan untuk melenyapkan anak muda yang bernama Karebet. Sambirata pun kemudian membawa beberapa orang muridnya yang dipercaya, sehingga mereka menjadi berjumlah tujuh orang. Rombongan itu sebenarnya menjadi sebuah rombongan yang cukup besar. Namun mereka tidak berjalan bersama-sama. Mereka telah mengadakan persepakatan untuk berjalan sendiri-sendiri. Namun akhirnya mereka akan bertemu di tempat yang telah ditentukan, di sekitar Tingkir. Mereka akan mengawasi jalan dari Demak yang masuk ke pedukuhan itu. Sementara itu Jaka Tingkir pun masih dalam keragu-raguan. Ia belum tahu pasti, ke mana ia akan pergi. Namun akhirnya sampailah ia kepada keputusan yang sama sekali tidak diketahuinya, bahwa bahaya telah menunggunya di setiap saat. Yang mula-mula akan dilakukan oleh Tingkir itu sebenarnyalah kembali ke Tingkir untuk sementara. Ia ingin tinggal di rumah ibu angkatnya untuk sesaat menenangkan pikirannya. Baru dari sana ia akan menentukan apakah yang akan dilakukannya untuk seterusnya. DENGAN penuh penyesalan, Jaka Tingkir yang juga bernama Mas Karebet itu berjalan menyusur hutan-hutan kecil, kembali ke kampung halamannya, Tingkir. Betapa pun penyesalan itu menghentak-hentak dadanya, namun semuanya itu telah berlalu. Keputusan Baginda telah dijatuhkan atasnya. Dan ia tidak akan dapat mengubahnya. Namun betapapun juga, masih tersimpan harapan di dalam hatinya, bahwa suatu ketika Baginda akan mengampuninya. Bukankah Baginda berkata bahwa ia dibuang dari Demak sampai keputusan itu dicabut? Bukankah dengan demikian, ia masih dapat mengharap Baginda mencabut keputusannya? Tetapi seandainya tidak pun, maka ia tidak akan bersakit hati kepada Baginda. Baginda telah cukup melimpahkan kasih sayangnya kepadanya. Tetapi apabila dikenangnya Tumenggung Prabasemi, maka dadanya seakan-akan meledak karenanya. Kadang-kadang timbul juga penyesalannya, kenapa Tumenggung yang gila itu tidak dibunuhnya? Bagaimanakah kelak, apabila maksud Tumenggung itu, karena kelicikannya dapat tercapai? Terdengar Karebet menggeretakkan giginya. Ia tidak akan dapat melihat putri itu dipersandingkan dengan Tumenggung yang gila itu. “Akan aku bunuh ia di persandingan,” geramnya. Karebet berjalan terus siang dan malam. Hanya kadang-kadang saja ia berhenti. Menikmati sejuknya udara di hutan-hutan yang rindang. Mendengarkan burung bernyanyi. Namun kalau didengarnya suara angin berdesir lembut, maka hatinya pun berdesir pula. Sekali-kali dikenangnya suara putri Baginda yang lembut di telinganya. “Hem!” Karebet menarik nafas dalam-dalam. “Kenapa aku sekarang berpenyakit gila? Bukankah penyakit ini telah hampir sembuh ketika aku berada di Karang Tumaritis?” Namun betapa pedih hati anak muda itu. Pedih sebagaimana anak muda yang dipisahkan dari seorang gadis yang telah menambat hatinya, pedih sebagai seorang prajurit yang diusir dari keprajuritannya. “Salahku, salahku sendiri,” gumamnya. Karebet pun kemudian berjalan terus. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Tingkir untuk mencium tangan ibu angkatnya. Akan diciumnya tangan itu sebagai pelepas pedih hatinya yang selama ini seakan-akan menjadi semakin parah. Namun ketika Karebet itu sudah semakin dekat dengan Tingkir, terasa ada sesuatu yang menyentuh-nyentuh hatinya. Firasatnya sebagai seorang yang selalu berkeliaran di tempat-tempat yang berbahaya telah memperingatkannya untuk berhati-hati. Dan sebenarnyalah, sesaat kemudian terasa bahwa jalan di hadapannya yang melintas hutan yang tidak begitu lebat itu, tampak tidak sewajarnya. Jalan itu terlalu sepi. Ia tidak melihat seekor burungpun yang terbang melintas, atau seekor bintang kecil lainnya yang berlari-lari menyeberangi jalan. Karena itu, Karebet menghentikan langkahnya. Kemudian terdengar ia bergumam, “Kalau kesepian itu disebabkan karena binatang buas, maka biasanya harimau atau ular besarlah sebabnya. Tetapi kalau ada sebab lain, maka tak tahulah.” Maka Karebet pun kemudian bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan. Harimau, ular atau apa saja. Tetapi untuk beberapa lama tak ada apapun yang dilihatnya. Meskipun demikian, kesepian itu masih meragukannya. Dengan demikian, maka Karebet tidak mau berjalan maju lebih jauh lagi. Bahkan kemudian dengan tenangnya ia duduk bersandar pada sebuah pohon. Namun segenap panca indranya telah dipasangnya baik-baik. Setiap desir angin yang betapa pun lirihnya, pasti akan didengarnya, dan setiap gerak yang betapa pun lembutnya, pasti dilihatnya. Tetapi alangkah terkejutnya anak muda itu. Ia mendengar suara berdesir di belakangnya. Didengarnya pula dengus nafas perlahan-lahan. Namun sama sekali bukan nafas harimau atau pun dengus ular. Nafas itu adalah nafas seseorang. “Aneh,” kata Karebet di dalam hatinya. “Kalau sebab daripada kesenyapan itu adalah manusia. Bukankah jalan ini sering dilewati orang dari dan ke Tingkir? Dan bukankah manusia tidak akan menakut-nakuti binatang-binatang kecil itu?” Namun akhirnya Karebet sampai pada kesimpulannya bahwa, “Manusia pun mungkin pula. Mereka pasti berada di dalam semak-semak. Pasti lebih dari satu sehingga binatang-binatang menjadi ketakutan.” Karena kesimpulannya itulah maka kemudian Karebet menjadi lebih berhati-hati. Manusia, apalagi lebih dari satu, baginya akan lebih berbahaya daripada harimau atau binatang-binatang lain. Dan apa yang diduganya itu segera terjadi. Ketika Karebet mendengar langkah seseorang meloncat di belakangnya, maka segera ia pun melenting tegak pada kedua kakinya yang kokoh kuat. Kini di hadapannya berdiri seseorang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang. Dari sela-sela bajunya tampak rambut yang lebat tumbuh di dadanya. ALANGKAH terkejutnya Karebet melihat orang itu, sehingga dengan serta merta ia menyapanya, “Kakang Sembada?” Sembada tersenyum. “Ya akulah,” jawabnya. Karebet mengerutkan keningnya. Ia melihat wajah Sembada yang garang, karena itu segera ia dapat menyangka, bahwa kedatangannya bukanlah dengan maksud yang baik. Tetapi Karebet tidak mau segera berprasangka jelek. Dicobanya kemudian untuk menghilangkan setiap kesan yang gelap dari wajahnya. Dengan senyum kecil Karebet kemudian berkata, “Kedatangan Kakang sangat mengejutkan aku.” Wajah Sembada masih tetap garang. Bahkan kemudian dengan tajamnya ia memandangi tubuh Jaka Tingkir. “Hem. Tidak seberapa besar,” katanya di dalam hati. “Apakah dalam tubuh itu benar-benar tersimpan Aji Lembu Sekilan?” Karena Sembada tidak segera menjawab, maka Karebet bertanya pula, “Apakah keperluan Kakang, sehingga Kakang sampai kemari?” Sembada menggeram. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena itu ia tidak berbicara melingkar-lingkar. Langsung saja dikatakannya apa yang dikehendaki. Dengan nada datar ia berkata, “Karebet, aku adalah sraya Adi Tumenggung Prabasemi.” Dada Karebet segera berdesir. Cepat ia dapat menebak. Apakah sebenarnya maksud Sembada itu. Namun ia masih juga bertanya, “Apakah yang harus Kakang lakukan?” Sembada menarik nafas. Kemudian setelah menenangkan getar dadanya ia berkata, “Aku harus membunuh kau.” Meskipun Karebet telah menyangka, namun pengakuan yang tiba-tiba itu mengejutkannya juga. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya wajah Sembada yang garang itu. “Jangan mempersulit pekerjaanku, Karebet. Aku dan kau tidak pernah mempunyai persoalan apapun. Aku tidak pernah menyakiti hatimu, dan kau tidak pernah menyakiti hatiku pula. Karena itu, marilah kita saling berbaik hati. Tolonglah pekerjaanku kali ini supaya segera selesai. Nanti aku akan mendapat sebuah kamus bertimang emas tretes berlian,” kata Sembada. Karebet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian jawabnya dalam nadanya yang khusuk, “Baik Kakang. Baiklah aku menolongmu. Tetapi aku harus mendapat separo dari kamus dan timang itu.” Sembada mengerutkan keningnya. “Hem..”, geramnya dan kemudian katanya di dalam hati, “Anak ini benar-benar anak yang luar biasa. Tanggapannya atas bahaya yang dihadapi masih saja seperti menyongsong datangnya kekasih.” Namun Sembada tidak mau terpengaruh oleh wibawa Joko Tingkir. Karena itu ia membentak, “Aku tidak sedang berkelakar, Karebet.” Justru Karebet yang aneh itu kini tertawa. Katanya, “Kita tidak pernah saling menyakiti hati masing-masing. Jangan membentak-bentak, Kakang. Lebih baik kita bergurau setelah kita lama tidak bertemu.” “Diam!” bentak Sembada yang sama sekali tidak berhasil menakut-nakuti Karebet. Meskipun demikian sekali lagi ia menggertak, “Hem.. mati dan mati ada seribu jalan. Apalagi di hutan ini. Di pembaringan pun orang dapat sekarat. Ayo, tundukkan kepalamu supaya kau tidak mengalami derita di saat-saat terakhir.” Sembada menjadi marah bukan buatan ketika Karebet malahan tertawa bergelak-gelak. Dengan memegang perutnya, anak muda itu berkata, “Ah, Kakang. Masih saja Kakang teringat akan pekerjaan Kakang. Kita sekarang tidak sedang berada di pembantaian, Kakang.” Wajah Sembada menjadi merah padam. Namun sebelum ia membentak-bentak lagi, Karebet pun terkejut. Ia mendengar desir di semak-semak. Karena itu maka katanya di dalam hati. “Benar dugaanku. Tidak hanya seorang.” SESAAT kemudian Karebet menggeser kakinya. Dari sisinya melontarlah seorang yang akan lebih tua dari Sembada. Namun tampaklah betapa orang itu jauh lebih tenang dan meyakinkan. Orang itulah Kiai Sambirata. Dengan lemahnya Kiai Sambirata menganggukan kepalanya. Dengan sareh ia berkata, “Apakah Angger yang bernama Karebet?” Karebet mengangguk. Namun terasa bahwa ia harus lebih waspada karenanya. Meskipun ia tidak bergerak dari tempatnya, namun ia benar-benar tidak mau menjadi lembu bantaian. Karena itu segera dengan diam-diam diterapkannya Ajinya yang dahsyat, Lembu Sekilan. Sambirata melihat wajah Karebet yang tegang. Tetapi ia tidak segera menyadari, bahwa dengan sikap yang sederhana itu, Karebet telah matek Ajinya Lembu Sekilan. Karena itu, masih saja Kiai Sambirata yang terlalu percaya kepada dirinya itu berkata, “Benarkah aku berhadapan dengan Angger Jaka Tingkir?” Karebet mengangguk, “Ya. Akulah Karebet, yang juga disebut orang, Jaka Tingkir.” Kiai Sambirata mengangguk-anggukkan kepalanya. “Akulah yang bernama Sambirata.” Karebet memandang orang itu dengan seksama. Di Demak, nama itu memang pernah didengarnya. Tetapi ia tidak pernah menaruh perhatian. Kini tiba-tiba orang itu datang kepadanya dengan maksud yang tidak sewajarnya. Dengan demikian, maka Karebet itu benar-benar harus berhati-hati. Ia tahu benar benar bahwa Sembada adalah kakak seperguruan Prabasemi dan Sambirata adalah orang yang kurang disenangi oleh masyarakat Demak karena pekerjaannya. Ternyata kini mereka berdua bergabung untuk melenyapkannya. Meskipun demikian sebenarnya Karebet sama sekali tidak gentar. “Kalau perlu, aku terpaksa membunuh untuk mempertahankan hidupku,” katanya. Yang berbicara kemudian adalah Sambirata. “Angger. Baiklah aku berterus terang. Kami berdua dengan beberapa murid-muridku datang untuk membunuh Angger. Kalau Angger ingin mencoba, lawanlah kami. Kami tidak mampunyai banyak waktu.” Sekali lagi Karebet terkejut. Ternyata mereka tidak hanya berdua. Tetapi justru karena itu timbullah marahnya. Wajahnya yang riang menjadi kemerah-merahan karena nyala api kemarahan yang membakar dadanya. Dengan lantang anak dari Tingkir itu menjawab, “Paman dan Kakang Sembada. Kita adalah manusia yang mempunyai sifat mempertahankan hidup yang dikaruniakan kepada kita. Aku harus mencoba mempertahankan hidup itu sekuat-kuat tenagaku. Kalau Yang Maha Esa berkenan, maka jangan menyesal kalau kalian berdualah yang akan mendahului aku.” “Jangan membual. Meskipun kau kekasih Jim, Setan, Peri, Prayangan, namun kalau tidak mampu menangkap angin, jangan mencoba menengadahkan kepalamu,” bentak Sembada dengan kasarnya. “Langit dan bumi menjadi saksi. Kalau terjadi pertumpahan darah di sini, bukan akulah yang bersalah,” sahut Karebet. Sembada sudah tidak dapat menahan diri lagi. Timang emas bertretes berlian benar-benar menarik hati, apalagi anak muda itu benar-benar telah membakar telinganya. Karena itu, cepat-cepat ia meloncat dan memukul dada Karebet sekuat-kuatnya. Karebet melihat gerak Sembada itu, namun ia sama sekali tidak menghindarinya. Namun wajahnya menjadi tegang dalam penerapan ajian yang setinggi-tingginya, daya pertahanan dalam Aji Lembu Sekilan. Tenaga Sembada adalah tenaga yang luar biasa kuatnya. Namun ia masih mempergunakan kekuatan jasmaniah melulu. Karena itu, ketika tangannya membentur dada Karebet alangkah terkejutnya. Karebet itu masih saja tegak seperti tonggak. Sedang kedua kakinya yang kokoh kuat seakan-akan berakar jauh menghujam ke pusat bumi. Bahkan terasa, seakan-akan tangan Sembada itu menghantam sesuatu yang tak dapat dilihatnya. Tetapi tangannya itu seakan-akan sama sekali tidak menyentuh dada Karebet. Ketika ia menyadari serangannya itu gagal, maka segera ia meloncat surut. Dengan marahnya ia menggeram, sambil menunjuk wajah Karebet itu dengan ujung jarinya. “Setan, gendruwo. He Karebet. Apa kau sangka Aji Lembu Sekilan itu tak akan berlawan?” Karebet tidak menjawab. Namun sekilas ia melihat Sambirata bergeser. Orang itu menghentakkan kedua tangannya dan dengan satu gerakan yang cepat, tangan itu ditariknya ke samping. “Hem,” geram Karebet. “Aji apalagi yang akan kau pamerkan?” SAMBIRATA benar-benar tersinggung. Ia memang memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan orang-orang kebanyakan. Dengan pemusatan pikiran dan kehendak, maka Sambirata dapat menyalurkan kekuatan itu. Namun ia sama sekali tak peduli, apakah nama dari kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Dan Sambirata memang tidak berpikir tentang nama itu meskipun dahulu gurunya menyebutnya, Aji Wilet, namun yang dimilikinya telah banyak mengalami perubahan, sehingga ia tidak menyebutnya demikian. Tetapi betapa pun juga, ia mampu menerapkan ilmunya yang dahsyat itu. Ketika ia menyadari, bahwa lawannya sejak permulaan itu telah mempergunakan Aji Lembu Sekilan, maka Sambirata pun segera mempergunakan ilmunya itu. Dengan serta merta, Sambirata meloncat pula dan langsung memukul wajah Karebet. Karebet melihat serangan itu, dan ia pun menyadari, bahwa Sambirata tidak sekadar menyerangnya dengan tenaganya, namun pasti sudah dilambari dengan suatu ilmu yang berbahaya. Karena itu, Karebet pun segera menarik diri satu langkah ke samping, sehingga serangan Sambirata dapat dihindari. Namun Sambirata benar-benar lincah. Sekali lagi ia melenting seperti sikat, dan Karebet tidak sempat untuk menghindari, ketika kaki Sambirata itu langsung menghantam lambungnya. Terjadilah suatu benturan yang tajam, antara kekuatan ilmu Sambirata melawan Lembu Sekilan. Akibatnya pun dahsyat pula. Dan sekali ia berguling. Sedang Sambirata pun terdorong oleh kekuatannya sendiri yang seakan-akan membentur dinding baja. Terasa pula dadanya menjadi pedih. Karena itu segera ia memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk melawan tekanan yang seakan-akan menghentak-hentak di dalam dadanya itu. Karebet yang baru saja berhasil menguasai dirinya, setelah Aji Lembu Sekilan berhasil ditembus, meskipun tidak terlalu berbahaya oleh Sambirata, terkejut sekali melihat serangan Sembada. Sekilas ia masih sempat melihat Sembada itu menjulurkan kedua tangannya ke belakang, sedang kedua tangannya kemudian mengepal ke lambungnya. “Seperti yang dilakukan Prabasemi,” geramnya. Namun serangan itu telah tiba, sedemikian cepatnya, sehingga kali inipun Karebet tidak dapat menghindar. Karena itu, maka sekali lagi Aji Lembu Sekilan yang baru saja digoncangkan oleh Sambirata itu kembali berguncang. Aji Sembada menembus Aji Lembu Sekilan yang belum mapan kembali. Sekali lagi Karebet berguncang dan terbanting di tanah. Kali ini ia harus berguling beberapa kali untuk mendapatkan jarak dari lawan-lawannya. Namun sekali lagi Karebet terkejut. Tiba-tiba saja ia melihat beberapa orang bersama-sama muncul dari dalam belukar di sekitarnya. Mereka berebutan menyerangnya dengan pedang pendek, seperti ingin mencincangnya. Namun Karebet adalah seorang yang aneh, yang memiliki ketangkasan dan keperkasaan yang mengagumkan. Ketika ia melihat serangan itu datang, maka secepatnya ia melanting berdiri, dan dengan sekali loncat, ia telah berhasil menjauhkan dirinya dari orang-orang itu. Tetapi kemudian datanglah serangan Sambirata memotong gerakannya. Karebet menggeram. Betapa ia menjadi marah bukan main. Kini ia tidak boleh ragu-ragu lagi. Kalau ia terpaksa membunuh, maka sekali lagi ia meyakinkan dirinya, bukan salahnya. Dengan demikian, maka kembali Karebet menerapkan Aji Lembu Sekilan dalam puncak kemampuannya. Ia sadar bahwa Sambirata masih akan berhasil menembus ajiannya itu. Namun pasti tidak akan berbahaya. Juga Sembada tidak akan membahayakan jiwanya. Tetapi senjata-senjata tajam itu pun perlu mendapat perhatiannya. Dengan kekuatan yang baik, maka senjata tajam itu pun akan mampu menembus benteng pertahanannya, meskipun tidak akan dapat membunuhnya dengan sekali tusuk. Namun kalau luka itu menjadi bertambah-tambah dan darahnya mengalir terlalu banyak, maka keadaan itu pun pasti akan menimbulkan bahaya. Kini Karebet pun sudah siap dengan puncak keterampilannya. Seperti sikatan berloncatan di rerumputan hijau. Karebet menghindari setiap serangan lawannya, dan bahkan beberapa orang telah terpelanting dan terbanting jatuh. Namun sentuhan-sentuhan Karebet yang harus mempertahankan diri dari setiap serangan itu, maka tekanan-tekanan lawan-lawannya masih saja terasa menjadi semakin berat. Meskipun demikian Karebet sama sekali tidak gentar. Ia melihat, bahwa hanya dua orang di antara mereka yang harus mendapat perhatiannya yang khusus. Sambirata dan Sembada dari Kedung Wuni. Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Beberapa orang murid Sambirata itu sama sekali tak berdaya menghadapi kelincahan Karebet. MEREKA menjadi benar-benar tidak dapat mengerti, bahwa setiap kali mereka menusukkan pedang-pedang mereka, maka seakan-akan mereka sama sekali tak menyentuh tubuh lawannya, meskipun lawannya tidak berusaha untuk menghindar. Hanya dalam kesempatan-kesempatan yang sangat baik, selagi mereka sempat mengerahkan segenap kekuatannya, maka pedangnya dapat menggores kulit Karebet. Dan beberapa tetes darah mengalir dari luka itu. Namun setiap tetes darah yang tumpah, seakan-akan merupakan tetesan minyak yang menyirami api kemarahan di dalam dada anak muda dari Tingkir itu. Betapa kemudian ia tidak lagi mengendalikan dirinya. Dengan kecepatannya bergerak, maka ia pun segera berhasil menjatuhkan beberapa lawannya. Murid-murid Sambirata itu, jatuh bangun tak henti-hentinya. Sekali-kali mereka merasa bahwa lawannya yang hanya seorang itu akan segera binasa. Namun lain kali, seakan-akan terasa gunung runtuh menimpa dadanya. Seperti beribu-ribu kunang terbang di sekitar rongga mata mereka. Dalam kesesakan nafas itu, mereka sekali-kali mendengar kawan-kawannya yang mengaduh, dan jatuh menimpanya. Apabila seorang di antara mereka mampu merangkak bangun, maka seorang yang lain terbanting jatuh. Sehingga mereka seakan-akan sama sekali tak berarti. Tetapi mereka sedang bertempur di hadapan guru mereka. Betapa pun pungggung mereka serasa telah patah, tetapi dengan kekuatan-kekuatan mereka yang terakhir, mereka masih juga mencoba bangun. Berdiri dan bergeser setapak demi setapak di sekitar perkelahian itu, untuk sesaat kemudian dada mereka serasa meledak karena sentuhan-sentuhan tangan atau kaki Karebet. Dalam saat-saat berikutnya, meskipun tampaknya beberapa orang masih juga berdiri mengitari tempat perkelahian itu, namun sebenarnya tidak lebih dari Sembada dan Sambirata berdualah yang berkelahi mati-matian. Dengan kekuatan ajian masing-masing, mereka mencoba untuk membunuh anak yang aneh itu. Dalam pada itu, Karebet pun merasakan tekanan-tekanan yang berat dari kedua orang itu. Mereka masing-masing ternyata tidak lebih dari Tumenggung Prabasemi. Namun karena kekuatan mereka bergabung, maka Karebet benar-benar menghadapi pekerjaan yang sangat berat. Aji Lembu Sekilannya terasa sesekali terguncang. Dan sekali-kali terasa bahwa dalam kesempatan-kesempatan itu, kekuatan-kekuatan ajian lawannya berganti-ganti dapat menembusnya meskipun tidak terlalu dalam. Namun apabila hal itu berlangsung lama, maka ada kemungkinan pertahanannya menjadi semakin lemah. Meskipun orang-orang lain, kecuali kedua orang itu hampir tak berarti bagi Karebet, namun mereka telah memecahkan beberapa pemusatan perhatiannya. Sehingga sesaat kemudian dengan penuh kemarahan, maka orang-orang itu satu demi satu dilumpuhkannya. Dan kini yang terakhir adalah Sembada dan Sambirata. Keduanya tampaknya masih cukup segar utuk melawannya. Meskipun kedua orang itu pun sebenarnya menjadi gelisah pula menghadapi Aji Lembu Sekilan. Kini Karebet benar-benar dapat memusatkan segenap perhatiannya. Sekali-kali ia berpaling kepada orang-orang yang bergelimpangan disana-sini. Ada di antara mereka yang masih mencoba bangkit, namun ternyata tenaga mereka seakan-akan telah terhisap habis, sehingga kembali mereka tak berdaya jatuh di tanah. Sambirata yang melihat muridnya tak berdaya itu mengumpat tak habis-habisnya, katanya, “Tikus-tikus malang. Ternyata kalian sama sekali tak dapat dibanggakan sebagai seorang murid Sambirata.” Murid-murid itu pun mengeluh di dalam hati. Tetapi mereka bergumam pula didalam hati. “Jangankan aku, sedang guru sendiri pun tidak juga segera dapat menguasai lawan yang hanya seorang itu.” Karebet kemudian sama sekali tak memperhatikan lagi mereka yang telah terkapar di tanah. Yang dihadapinya kini adalah Sembada dan Sambirata. Kedua orang ini benar-benar berhasrat akan membunuhnya. Sesaat kemudian pertempuran pun berkobar pula dengan sengitnya. Sembada dan Sambirata berjuang dengan sepenuh tenaga. Meskipun mereka bukan datang dari perguruan yang sama, namun mereka segera dapat menyesuaikan diri mereka. Berganti-ganti mereka menyerang dengan kedahsyatan ajian masing-masing. Seperti sepasang burung alap-alap yang menyambar-nyambar mangsanya. Tetapi Karebet benar-benar memiliki kelincahan yang tak mereka sangka-sangka, disamping perisainya yang luar biasa Aji Lembu Sekilan. Betapa dahsyatnya serangan-serangan Sembada dan Sambirata, namun Mas Karebet itu masih saja mampu mempertahankan dirinya. Meskipun demikian, sekali-kali pertahanannya terguncang pula oleh kekuatan-kekuatan Aji lawannya. Sehingga sekali-kali Mas Karebet mampu pula didorongnya jatuh. Namun demikian ia jatuh segera ia melanting berdiri, siap melawan dengan lambaran ilmunya, Lembu Sekilan. TETAPI betapapun Karebet berjuang dalam keadaannya itu, namun ternyata bahwa lawannya bukan seorang Prabasemi. Tetapi kini lawannnya yang berjumlah dua orang itu, ternyata berhasil menggabungkan kekuatan mereka dengan baiknya. Sehingga sekali-kali mereka berdua berhasil bersama-sama menghantamkan kekuatan ajinya atas tubuh Mas Karebet yang masih muda itu. Dengan demikian, maka Mas Karebet itu semakin lama menjadi semakin terdesak karenanya. Dan tekanan ini telah membakar jantungnya. Kemarahan semakin lama menjadi kian memuncak, seakan-akan telah mendidihkan seluruh darahnya. Ia tidak mau mati karena pokal Prabasemi. Meskipun pusat kemarahannya berkisar kepada Tumenggung Prabasemi, dan meskipun disadarinya bahwa kedua orang yang datang bersama murid-muridnya itu tidak lebih dari orang-orang suruhan yang ingin mendapatkan upah karena perbuatannya itu, namun apabila tak dimilikinya cara lain, maka cara satu-satunya untuk menyelamatkan dirinya adalah membunuh lawan-lawannya. Karena itu, Karebet yang marah itu, masih mencoba untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukannya. Kalau ia terpaksa membunuh, dan perbuatannya itu didengar oleh Sultan, maka apakah Sultan tidak menjadi semakin murka kepadanya. Karena itu, maka untuk terakhir kalinya Karebet itu mencoba mencegah bencana yang semakin berlarut-larut. Katanya, “Kakang Sembada. Aku minta kakang berpikir sekali lagi, apakah yang kakang lakukan itu sudah kakang anggap benar?” Sembada masih menyerang Karebet dengan dahsyatnya. Meskipun demikian ia sempat juga menjawab, “Jangan banyak bicara. Aku bukan anak-anak.” Dengan tangkasnya Karebet menghindari serangan yang ganas itu. Namun tiba-tiba Sambirata memotong geraknya sambil berputar setengah lingkaran. Tangan Sambirata yang terjulur itu tidak mengenai sasarannya, tetapi cepat ia meloncat sekali lagi. Ajinya yang dahsyat terayun tepat mengarah tengkuk Karebet. Karebet masih berusaha untuk menghindar, namun kesempatannya terlalu sempit. Yang dapat dilakukan adalah meloncat surut selagi ia masih berjongkok. Gerakan-gerakan khusus yang sulit dilakukan oleh orang lain. Karena itu Sambirata terkejut bukan buatan. Sekali lagi serangannya tak mengenai lawannya. Tetapi dalam pada itu Sembada telah siap dengan serangannya pula. Demikian Karebet menyentuh tanah, Sembada meloncat dengan cepatnya melontarkan Aji Sapu Anginnya kearah punggung lawannya. Kali ini kesempatan Karebet benar-benar sangat sempit. Karena itu ia hanya dapat berputar dan dengan puncak kekuatan Aji Lembu Sekilan yang dimiliki ia melawan pukulan Aji Sapu Angin. Ternyata dengan gerakan yang pendek itu, pukulan Sembada tidak tepat mengenai sasarannya. Tangannya itu hanya mampu menyentuh pundak Karebet. Sedang pundak Karebet telah dilindungi pula oleh Lembu Sekilan, sehingga pukulan yang melesat itu sama sekali tak mampu menerobos perisai Karebet yang dahsyat itu. Sembada menggeram. Namun kali ini serangan Karebetlah yang menyambar perutnya. Dengan berputar pada satu kakinya, Karebet membuat serangan dengan kakinya menyambar lawannya dengan dahsyatnya. Sedangan yang tidak disangka-sangka. Karena itu, maka Sembada dengan tergesa-gesa meloncat surut. Namun Karebet tidak membiarkannya, sekali ia meloncat maju, dan sekali lagi kakinya menjulur lurus kedada lawannya. Serangan itu sedemikian cepatnya, sehingga Sembada tak mampu lagi untuk mengelak. Karena itu, maka dengan sepenuh tenaga, dilawannya serangan Karebet itu dengan Aji Sapu Angin, sehingga terjadilah benturan yang dahsyat antara Aji Lembu Sekilan yang melindungi serangan Karebet, melawan Aji Sapu Angin. Sembada itu pun tergetar surut beberapa langkah, namun Karebet pun terlontar pula mundur. Aji Lembu Sekilan dalam patrap penyerangan memang tidak sekuat dalam patrap pertahanan. Karena itu terasa pula, nyeri-nyeri menjalari tubuh anak muda dari Tingkir itu. Apalagi sesaat kemudian Sambirata telah melontarkan serangannya pula, sehingga Karebet yang belum memiliki keseimbangan yang mantap itu terpaksa menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali menghindari kekuatan Aji Sambirata. Keadaan Karebet semakin lama benar-benar menjadi semakin sulit. Aji Lembu Sekilannya beberapa kali telah berhasil digoncangkan oleh kekuatan Aji kedua lawannya bersama-sama. Meskipun demikian ia masih berteriak. “Kakang Sembada dan paman Sambirata. Aku kini memperingatkan kalian untuk yang terakhir kalinya. Pergilah dan katakan kepada Prabasemi bahwa Karebet telah mati. Aku tidak akan datang ke Demak sebelum Sultan mengampunkan kesalahanku. Dalam waktu yang tidak tertentu itu, mudah-mudahan Prabasemi telah melupakan dendamnya kepadaku.” Yang terdengar kemudian adalah suara Sembada dan Sambirata tertawa hampir berbarengan. Tetapi tawa Sembada ternyata jauh lebih keras. “Hai anak yang bernasib jelek. Sesaat sebelum kau mati, kau masih punya waktu untuk menyombongkan dirimu.” Dan terdengar Sambirata berkata pula, “Angger ternyata menyadari kesulitan yang angger alami. Menyerahlah supaya angger tidak menjadi lelah. Perjalanan ke akhirat masih panjang, dengan demikian angger masih menyimpan sisa tenaga untuk perjalanan itu.” Karebet menjadi marah bukan alang kepalang. Matanya kini memancar hijau kebiru-biruan sebagaimana sinar mata harimau dikegelapan. Dengan parau terdengar suaranya gemetar karena marah, “kalau begitu terserahlah. Aku tidak mau mati. Bagiku lebih baik membunuh daripada dibunuh.” Sekali lagi Sembada dan Sambirata tertawa. Tetapi tiba-tiba suaranya terputus karena melihat Karebet meloncat mundur. Dengan pancaran mata yang aneh, biru kehijauan Karebet memandang kedua lawannya berganti-ganti. Kemudian dengan wajah tegang anak muda itu menggosokkan kedua telapak tangannya, meloncat dengan garangnya dan tegak diatas kedua kakinya yang renggang. Sesaat kemudian ditekuknya kedua lututnya, siap melontarkan serangan yang dahsyat, aji Rog-rog Asem. Sebenarnyalah Karebet pada saat itu telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Karena goncangan pada Aji Lembu Sekilan, maka hatinyapun serasa diguncang-guncang. Karena itu, maka pada saat terakhir ia tidak mampu menahan kemarahannya. Sehingga bulatlah tekadnya untuk membunuh saja kedua lawannya dengan aji Rog-rog Asem. Sembada dan Sambirata yang melihat sikap Karebet segera menyadari keadaan mereka. Selagi Karebet belum menggunakan Aji lain daripada Lembu Sekilan, mereka telah menemui banyak kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Apalagi kalau anak muda itu kemudian mempergunakan kekuatan terakhirnya. Karena itu tanpa saling berjanji mereka menyiapkan kekuatan Aji untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Tidak oleh Karebet, maupun Sembada dan Sambirata. Ketika mereka telah hampir sampai pada puncak pengerahan Aji masing-masing, maka demikian derasnya, namun benar-benar langsung mempengaruhi isi dada mereka. Belum lagi mereka menyadari keadaan mereka masing-masing, tiba-tiba dari balik gerumbulan yang lebat sebuah bayangan meloncat dekat diantara mereka dan dengan sengaja seakan-akan melerai pertempuran. Yang menjadi sangat terkejut diantara mereka adalah Karebet. Sesaat ia terpaku ditempatnya. Namun kemudian bahkan ia memperkuat getaran yang bergerak didalam tubuhnya. Kembali ia memusatkan segenap kekuatan lahir batin untuk mengetrapkan aji Rog-rog Asem. Bahkan kemudian terdengar ia menggeram pandangan matanya erat melekat pada orang yang baru datang itu. Orang itu masih berdiri diam. Tertawanya menjadi lirih. Dan sesaat kemudian terdengar terdengar ia berkata, “Sudahlah Karebet. Lepaskan dulu pemusatan tenaga itu.” Tetapi Karebet masih tetap dalam sikapnya. Setiap saat ia dapat meloncat sambil melepaskan Aji Rog-Rog Asem. Ia tidak mau menjadi korban dari persoalan yang berbelit-belit itu. Karena itu kembali ia menggeram dan berkata. “Pasingsingan, apakah kau menjadi sraya Tumenggung?” Orang yang datang itu terkejut. Namun kembali ia tertawa lirih, sambil memandangi jubahnya ia berkata, “Yah aku memang mirip dengan Pasingsingan. Aku juga memppunyai ciri yang serupa.” Mendengar jawaban itu Karebet menjadi bimbang sesaat. Namun ia tidak mau terpengaruh karenanya. Dengan demikian ia masih tetap dalam sikapnya. Sedang dua orang yang lain, terkejut pula mendengar Karebet menyebut orang itu Pasingsingan. Nama itu juga pernah mereka dengar, namun seperti sebuah dongengan yang tak mereka pahami. Tetapi yang mereka dengarpun mengatakan bahwa Pasingsingan memang mengenakan jubah berwarna abu-abu dan menggunakan topeng. Kini orang yang berdiri dihadapan mereka mengenakan jubah serta topeng untuk menutupi wajahnya. Sesaat kemudian kembali terdengar orang itu berkata, “Karebet, jangan segera berprasangka. Aku datang untuk melerai perkelahian yang tak ada gunanya ini.” Karebet memandang orang ini dengan seksama. Dengan penuh kewaspadaan ia bertanya, “Apa sebabnya kau melerai perkelahian ini?” Kembali orang itu tertawa, kemudian kepada Sembada ia berkata, “Ki Sanak lepaskan maksudmu untuk membunuh anak muda ini. Sebab dengan demikian, kalian telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Sesaat Sembada dan sambirata saling berpandangan. Namun kemudian terdengar Sembada berkata, “Siapakah kau sebenarnya?” “Namaku dan diriku sama sekali tidak penting bagimu. Namun kau minta, pikirkan sekali lagi. Apakah keuntunganmu dengan membunuh Karebet?” Kembali Sembada dan Sambirata terdiam. Namun seperti Karebet merekapun memandang orang yang tegak dihadapan mereka, dengan jubah abu-abu dengan tidak berkedip. Sesaat kemudian, terdengar orang itu berkata “Sekarang pulanglah kalian kerumah masing-masing. Karebet ke Tingkir, dan kalian berdua serta kawan-kawan kalian kembali ke Demak.” Sembada mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang sebuah timang emas bertretes berlian. Kalau ia pulang sebelum berhasil membunuh Karebet, maka timang itu akan lepas dari tangannya. Dan yang dilakukannya bersusah payah ini, tak akan ada artinya sama sekali. Berlari menerobos hutan dan ladang untuk segera dapat mendahului perjalanan Karebet. Tiba-tiba ketika mereka sudah hampir pada saat yang menentukan seseorang minta kepada mereka untuk pulang saja dengan tangan hampa. Tetapi betapapun juga kehadiran orang itu benar-benar mempengaruhi perasaannya. Meskipun demikian Sembada berkata pula, “Aku telah menempuh suatu perjalanan yang jauh. Telah kulakukan pula berbagai usaha untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kini sesaat sebelum pekerjaanku selesai kau datang mengganggu kami.” Meskipun demikian Sembada itu berkata pula, “Aku telah menempuh suatu perjalanan yang jauh. Telah kulakukan pula berbagai usaha untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kini, sesaat sebelum pekerjaanku itu selesai, kau datang mengganggu kami.” “Jangan marah Ki Sanak” sahut orang bertopeng itu. “Aku hanya mencegah, janganlah terjadi permusuhan diantara sesama.” Sambirata mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia pun berkata “Apakah hubungamu dengan Karebet itu?” Orang itu menggeleng, “Tidak ada” katanya. Oleh jawaban itu, maka Sambirata berkata pula, “Katamu demikian, biarlah kami menyelesaikan urusan kami masing-masing. Sebaiknya kau jangan mencampuri urusan orang lain yang tak kau ketahui ujung pangkalnya.” Orang bertopeng itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian terdengarlah suaranya parau dari belakang topengnya. “Kenapa kalian berdua berusaha membunuh Karebet?” Sambirata diam sejenak, kemudian jawabnya, “Itu adalah urusan kami.” Kembali orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian gumamnya, “Aku yakin bahwa kalian mempunyai cukup alasan untuk melakukannya. Kalau tidak, maka perbuatan itu pasti tidak akan kalian lakukan. Tetapi apakah alasan itu dapat dimengerti oleh orang lain, itulah yang kadang-kadang menjadi persoalan.” “Hem” Sembada yang keras hati itu menggeram. Katanya, “Kalau kau sudah tahu alasan kami, apakah kau tidak akan menggangu kami?” “Tergantung pada alasan itu” sahut orang berjubah itu. “Kalau aku cukup mengerti, maka aku tidak akan mengganggu kalian.” “Jangan terlalu sombong” bentak Sembada yang kasar itu. “Apakah dengan demikian kami akan terpengaruh karenanya? Apakah apabila kau mencoba mengganggu sekalipun, maka kami tidak akan menyelesaikan pekerjaan kami?” ORANG berjubah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ki Sanak benar. Meskipun aku mencoba mengganggu sekalipun, namun aku tidak akan dapat berbuat banyak. Tetapi bukankah setidak-tidaknya dengan demikian aku akan memperlambat pekerjaan kalian.” “Bagus. Bagus” teriak Sembada yang tidak sabar. “Kami adalah keluarga Dadungawuk. Anak muda yang terbunuh oleh Karebet itu?” “He?” Bukan main terkejut hati Karebet. Ia sama sekali tidak mengenal nama Dadungawuk. Dan ia sama sekali tidak melakukan pembunuhan. Karena itu maka segera ia memotong. “Bohong. Aku tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Dadungawuk.” “Aku sudah menyangka bahwa kau akan ingkar” sahut Sembada. “Watakmu yang licik dan sifat-sifatmu yang sombong itu adalah gabungan dari ujud seorang pengecut yang sebenarnya.” “Jangan membual” teriak Karebet yang menjadi semakin marah. “Katakan yang sebenarnya. Bukankah kau seraya Tumenggung Prabasemi?” Sambirata tertawa. Katanya, “Sudah aku katakan. Tak ada gunanya untuk mempersoalkan, apakah sebabnya kami akan membunuh anak muda yang malang itu. Mau tidak mau, salah atau benar. Keputusan kami, akan kami lakukan.” Kata-kata itu benar-benar membakar hati Karebet. Dengan serta merta ia berteriak. “Minggirlah. Kalau kau bukan Pasingsingan, aku tidak tahu, bagaimana aku akan menyebutmu. Tetapi jangan mengganggu perkelahian ini. Aku pun sudah memutuskan pula untuk mengakhiri perkelahian yang memuakkan ini.” Kata-kata itu benar-benar berkesan dihati Sembada dan Sambirata. Mau tidak mau mereka pun harus berpikir tentang kata-kata itu. Meskipun demikian, mereka telah terlanjur terlibat dalam persoalan itu. Dengan demikian maka mereka tidak akan dapat berhenti ditengah jalan, meskipun lawan mereka benar-benar mempunyai kekuatan yang tak mereka sangka-sangka. Tetapi orang berjubah itu masih berdiri saja ditempatnya. Bahkan ia masih berkata, “Jangan berusaha saling membunuh. Apakah tidak ada cara-cara lain yang lebih baik daripada saling membunuh?” “Tidak ada” sahut Sembada. “Kecuali kalau Karebet mau membunuh dirinya.” Ucapan itu seolah-olah sebuah bara api yang menyentuh telinga mas Karebet. Karena itu, hampir saja ia meloncat, menyerang Sembada, namun tiba-tiba dengan penuh perbawa orang berjubah itu berkata “Karebet, jangan lakukan. Seharusnya kau mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang masak sebelum kau berbuat sesuatu.” Karebet tertegun mendengar peringatan itu. Namun kemarahannya yang telah membakar seluruh isi dadanya itu, alangkah sukarnya untuk dikendalikan. Tetapi dalam pada itu orang berjubah itu berkata seterusnya. “Karebet, kau sekarang adalah orang buangan. Aku mendengar hal itu sebelum kau bertengkar dengan Tumenggung Prabasemi. Karena itu keadaanmu sama sekali tidak menguntungkan setiap perbuatanmu. Kalau sampai terjadi kau membunuh seseorang, dan berita itu terdengar oleh Sultan, maka hukumanmu akan menjadi berlipat ganda, sebab Sultan akan menjadi semakin murka kepadamu. Pada saat kau bertempur melawan Prabasemi pun, hampir-hampir aku mencegahmu. Namun ketika aku tahu bahwa kau sadari keadaanmu, maka niatku itu pun aku urungkan.” Karebet terkejut mendengar kata-kata itu. Kalau demikian, maka orang berjubah itu telah mengikutinya sejak ia meninggalkan Demak. Orang itu ternyata melihat, bahwa ia telah bertengkar dengan Tumenggung Prabasemi, sehingga daripadanya ia mengetahui bahwa kini ia adalah orang buangan. Namun dalam pada itu, peringatan yang diberikan kepadanya benar-benar telah menyentuh hatinya. Peringatan yang sebenarnya sejak semula telah dipikirkannya. Tetapi ketika kemarahannya telah memuncak, serta hidupnya sendiri telah terancam, maka pertimbangan-pertimbangan itu lenyap dari kepalanya. Dan kini, ia mendengarkan dari orang lain. Orang lain yang tidak dikenalnya. Tetapi peringatan yang diucapkan oleh orang berjubah itu telah menyalakan kemarahan Sembada dan Sambirata. Orang berjubah itu seakan-akan mengatakan, bahwa Karebet itu pasti akan berhasil membunuh mereka berdua. Meskipun mereka datang hanya sekedar untuk mendapatkan timang emas, dan meskipun harga nyawanya jauh lebih mahal dari harga timang emas itu, namun mereka tidak mau pula bahwa harga diri terlalu direndahkan. Karena itu, maka terdengar Sembada menjawab. “He, orang bertopeng. Pergilah. Jangan ribut tentang nyawa kami. Apakah kau sangka bahwa Karebet itu dapat membunuh kami berdua? Kalau kau sudah melihat sejak permulaan dari perkelahian ini, maka kau akan tahu, bahwa umur Karebet sudah melekat diujung rambutnya. Namun sesaat sebelum ia mati, maka kau datang mengganggu kami.” “OMONG KOSONG,” potong Karebet yang hatinya telah menjadi panas kembali. Orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Karebet ia berkata, “Ingat-ingatlah pesanku. Jangan terpancing kedalam keadaan yang akan menyulitkan kedudukanmu. Kau sekarang masih dapat mengharapkan ampunan dari Baginda, namun kalau kau telah melakukan kesalahan lagi, maka ampunan itu jangan kau harapkan sama sekali. Sebab pembunuhan ini akan dapat disebut dalam berbagai macam keadaan. Prabasemi dapat mengatakan apa saja yang dapat menambah kemarahan Baginda. Diantaranya, orang yang terbunuh itu adalah keluarga Dadungawuk seperti yang baru saja dikatakannya.” “Aku tidak mengenal Dadungawuk” potong Karebet. “Itu adalah suatu contoh yang baik dari bentuk-bentuk fitnah yang dapat dilakukan oleh Tumenggung Prabasemi.” Karebet itu pun terdiam, namun segera ia teringat kata-kata Prabasemi dihadapan Baginda Sultan Trenggana, tentang seorang calon Wira Tamtama. Tetapi Sembadalah yang berteriak, “He orang bertopeng. Apakah sebenarnya maksudmu, dan siapakah sebenarnya kau ini?” Orang bertopeng itu menggeleng. Katanya, “Sudah aku katakan bahwa tak ada gunanya kau mengerti siapa aku.” “Bagus” sahut Sembada. “Tetapi jangan ganggu kami.” Orang bertopeng itu seakan-akan tidak memperhatikan kata-kata itu, bahkan kepada Karebet ia berkata, “Karebet, pikirkan baik-baik.” “Tetapi apakah aku harus berdiam diri saja, seandainya mereka akan membunuhku.” “Pergilah” jawab orang bertopeng itu. “Pergi?” Karebet itu menjadi heran. Kemudian jawabnya, “Apakah kalau aku pergi orang-orang itu tidak akan menyusulku?” “Biarlah mereka. Menyingkirlah supaya kau terhindar dari bencana yang lebih besar lagi.” Karebet menjadi bingung. Ia telah mengenal orang itu. Semula ia menyangka bahwa orang bertopeng itu Pasingsingan. Bahkan ia menyangka bahwa Pasingsingan itu pun telah mendapat tugas pula dari Tumenggung Prabasemi. Namun ternyata orang itu memberinya beberapa petunjuk yang dapat dimengertinya. Namun bagaimana ia harus melaksanakannya? Apakah ia harus pergi dan membiarkan orang itu mengejar dan membunuhnya? Atau bagaimana? Dalam pada itu Sambirata berkata, “Hem. Ki Sanak yang bertopeng. Agaknya kau telah terlalu jauh mencampuri urusan kami. Karebet kau suruh menyingkir dari arena ini. Kalau demikian, maka kau telah bertekad untuk menggantikannya. Begitu?” Orang bertopeng itu berhenti sesaat. Kemudian jawabnya. “Aku tidak mempunyai cara lain. Aku hanya sekedar bermaksud menyelamatkan kalian dari perbuatan terkutuk. Karebet dan kalian berdua.” “Jangan banyak bicara” teriak Sembada. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa orang itu bukan Pasingsingan yang menakutkan yang pernah didengarnya dari dongeng-dongeng. “Sekarang kau pergi dan membiarkan kami membunuh Karebet. Atau kami harus membunuhmu dulu, baru membunuh Karebet.” Orang bertopeng itu seakan-akan sama sekali tidak mendengar teriakan itu. Katanya, “Menyingkirlah Karebet. Kalau mungkin, pertumpahan darah harus dihindari.” Sembada itu kini sudah tidak sabar lagi. dengan marahnya ia menggeram. Selangkah maju sambil berkata, “Kalau kau mati disini pula, jangan menyalahkan aku. Kau terlalu tamak dan sombong.” Melihat Sembada melangkah maju, Karebet hampir melangkah maju pula. Namun terdengar orang itu berkata, “Ingat, Sultan sedang murka kepadamu. Jangan kau tambah kesalahanmu dengan perbuatan-perbuatan yang tak berarti. Serahkan orang-orang ini kepadaku.” Kata-kata itu benar-benar berpengaruh dihati Karebet. Terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya. Dan terasa bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan itu. Tetapi Sembada dan Sambirata telah benar-benar sampai kepuncak kemarahan mereka. Karena itu, maka Sembada berteriak, “Bagus. Ternyata aku harus membunuhmu dahulu. Baru anak yang bernama Karebet itu.” Orang berjubah itu tidak sampai menjawab. Ketika ia hampir mengucapkan beberapa patah kata, maka Sembada yang kasar itu telah menyerangnya langsung dalam kekuatan Ajinya Sapu Angin. Orang bertopeng itupun melihat betapa kekuatan ajinya itu meluncur lewat tangan-tangan Sembara kearahnya. Namun ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Karebet yang melihat serangan itu terkejut. Tetapi ia berdiri berseberangan dengan Sembada, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berteriak, “Hei, Ki Sanak. Menghindarlah.” Tetapi orang berjubah itu sama sekali tidak bergerak. Dibiarkannya Sembada menghantamnya dengan Aji Sapu Angin. Namun sesaat sebelum tangan sembada menyentuh jubahnya, tampak orang itu menjadi tegang. Dan pada saat itulah Aji Sapu Angin membentur tubuhnya. Namun yang terjadi benar-benar mengejutkan. Orang yang berjubah itu masih tegak ditempatnya. Ia hanya bergetar sedikit. Namun kemudian ia berdiri tegak kembali, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Tetapi Sembada yang menghantam orang itu dengan kekuatannya, tiba-tiba terpelanting beberapa langkah dan jatuh terguling karena benturan kekuatannya sendiri. Tangannya yang melontarkan Aji Sapu Angin itu terasa membentur benteng baja. Karena itulah maka ia sendirilah yang terlempar mundur. Sambirata heran melihat peristiwa itu. Tidak saja Sambirata, namun Karebetpun berdiri dengan mulut ternganga. Seakan-akan ia melihat suatu peristiwa dahsyat didalam mimpi. Aji Sapu Angin mampu menggetarkan Aji Lembu Sekilan, meskipun tidak sampai keintinya. Kini ia melihat orang berjubah itu sama sekali tidak bergerak, namun Sembada sendirilah yang terdorong surut, bahkan jatuh bergulingan beberapa kali. Tetapi lebih dari itu. Ketika Sembada tidak terguling lagi, maka terdengar ia mengeluh pendek. Dengan susah payah ia berusaha bangkit. Namun tiba-tiba ia terduduk kembali dengan lemahnya. Nafasnya serasa sesak, dan seakan-akan bagian dalam dadanya pecah berkeping-keping. Sambirata menjadi ragu sesaat. Ia melihat kawannya telah jatuh karena pukulannya sendiri. Karena itu apakah ia akan mengulangi kesalahan Sembada. Kini Sambirata memperhitungkan setiap kemungkinan. Seandainya ia mampu mengalahkan orang berjubah dan bertopeng itu, namun dibelakangnya masih berdiri anak yang bernama Karebet. Anak yang belum dapat dikalahkannya meskipun ia berdua dengan Sembada. Apalagi kini Sembada sudah tidak mampu untuk berdiri. Sesaat Sambirata tegak saja seperti tonggak. Pikirannya berjalan hilir mudik tak menentu. Ketika sekali lagi ia memandang kawannya yang terduduk lemah itu, maka iapun mengeluh didalam hatinya. “Apakah yang datang ini sebangsa demit atau Hantu Alasan?.” Sambirata kemudian terperanjat ketika ia mendengar suara orang bertopeng menggeram dari balik topengnya, “hem, apakah kau juga akan coba memukul aku?” Kembali Sambirata menjadi bimbang. Namun kahirnya ia menggeleng. Kini telah ditemukannya jawaban. Ia tidak memperdulikan lagi kawannya yang terluka itu. Juga timang emas yang dijanjikan. Nyawanya lebih berharga dari segala-galanya. Bahkan sampai pada harga dirinya sekalipun. Karena itu, maka tanpa malu-malu Sambirata menjawab, “Tidak Kiai. Aku tidak akan melawan kehendak Kiai.” Karebet mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban itu. Bahkan ia mengumpat-umpat didalam hatinya. Alangkah liciknya hati orang itu. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak berkata apapun. Yang menjawab adalah orang bertopeng, “apakah kau benar-benar tidak akan berbuat sesuatu?” “Tentu Kiai,” sambut Sambirata. “Akupun tidak mempunyai persoalan dengan angger Karebet. Tetapi terbawa oleh kesetiakawanan aku terpaksa membantu orang itu.” Sambirata berdesah mendengar kata Sambirata. Tetapi ia tidak berani berbuat apapun. Kalau ia membantah, maka Sambirata akan dapat berbuat apa saja atasnya. Selagi keadaan wajar, ia tidak akan mampu melawan Sambirata, apalagi kini, tulang-tulangnya seakan remuk. Orang bertopeng itu memandangi Sambirata dan Sembada berganti-ganti lewat lubang topengnya. Sesaat kemudian ia menarik nafas panjang. Dan kemudian ia berkata, “Kembalilah kalian ke Demak. Katakan bahwa Karebet telah mati. Ia tidak akan kembali ke Demak dalam waktu yang singkat, sebelum Baginda mengampuni kesalahannya.” Sambirata mengangguk. Kemudian katanya,” Tentu Kiai kami akan kembali ke Demak.” Tetapi Sembada yang menyeringai kesakitan itu berkata, “Alangkah mudahnya. Tetapi kalau kelak anak itu kembali ke Demak, maka kepalaku akan dipenggal oleh Prabasemi.” Sambirata tiba-tiba tertawa. Katanya, “Sudahlah adi Sembada. Kalau kau tidak berani menanggung akibat dari perbuatan ini, biarlah timang-timang ini dikembalikan saja.” “Timang?,” tiba-tiba Karebet memotong. “Ya,” jawab Sambirata. “Kami harus membunuh angger. Dan kami akan mendapat timang emas.” Tangan Karebet …..dst. TANGAN Karebet menjadi gemetar mendengar pengakuan itu. Tetapi sebelum ia menjawab, orang berjubah itu berkata, “Lupakan semuanya. Beruntunglah kalian, bahwa kalian belum menjual diri kalian dengan harga yang sangat murah itu. Apakah artinya timang emas itu? Seandainya kalian mampu membunuh Karebet sekalipun, namun apakah yang dapat kau miliki itu cukup bernilai untuk menebus tanggung jawab yang harus kau berikan pada masa-masa langgeng? Pada masa kau berhadapan dengan Kekuasaan tertinggi. Jauh lebih tinggi dari kekuasaan Prabasemi, bahkan kekuasaan Sultan Trenggana sekalipun?” Orang berjubah itu diam sesaat. Sembada yang masih menahan sakit itupun terdiam, dan Sambirata menundukkan wajahnya. Semula ia mengurungkan niatnya hanya sekedar untuk menyelamatkan hidupnya. Tiba-tiba tersentuhlah perasaan Sambirata oleh kata-kata orang bertopeng itu. “Ya,” katanya di dalam hati, “Alangkah murahnya harga diriku. Sebuah timang emas. Hem.” Tetapi Sambirata itu tidak berkata sepatah katapun. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata orang berjubah itu. “Seandainya kau berhasil membunuh Karebet, dan mendapatkan timang-timang emas itu, maka apakah kalian dapat memakainya dengan tenang? Setiap kali timang itu melekat di lambung kalian, maka setiap kali kalian akan teringat, bahwa timang itu sebenarnya berlumuran dengan darah seseorang yang tidak bersalah kepada kalian.” Sambirata semakin menundukkan wajahnya. Sentuhan-sentuhan pada parasaannya semakin terasa. Dan karena itulah tiba-tiba ia merasa menyesal atas perbuatannya itu. Namun justru karena itulah maka ia berdiam diri. “Nah. Pikirkanlah kata-kataku” berkata orang berjubah itu pula. Tiba-tiba Sambirata itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hormat ia menjawab, “Baik Kiai. Akan aku pikirkan baik-baik kata Kiai. Orang bertopeng itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian katanya, Sekarang kembalilah ke Demak. Kau dapat menempuh jalan yang wajar. Bukankah kau menempuh jalan yang sulit, jalan yang bukan sewajarnya dilalui orang pada saat kau berangkat kemari? Lewat gerumbul-gerumbul dan memotong diantara hutan-hutan belukar. Itu adalah gambaran dari pengakuanmu atas perbuatan-perbuatan yang tidak wajar pula yang akan kau lakukan. Sebab kalau kau berlaku wajar, maka kau tidak perlu melalui jalan-jalan yang tersembunyi.” Sekali lagi Sambirata mengangguk. Dan kemudian jawabnya, “Ya Kiai. Aku menyadarinya” Tetapi ketika Sambirata itu berpaling kearah Sembada, maka katanya “Apakah kau sudah mampu berjalan Adi?” Sembada mengerang perlahan-lahan. Sekali lagi ia berusaha bangkit. Namun punggungnya masih terasa sakit. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahan dirinya. Maka katanya “Bertanyalah kepada murid-muridmu. Apakah mereka sudah mampu berjalan?” Sambirata itupun kemudian menebarkan pandangan matanya kearah murid-muridnya yang masih berserakan disekitarnya. Ada yang sudah mampu duduk dan mencoba berdiri, namun ada juga yang masih terbaring sambil menyeringai. Melihat mereka itu, tergetarlah hati Sambirata. Hampir saja ia mengorbankan orang-orang itu hanya untuk sebuah timang. Dan karena itu, maka timbullah iba didalam hatinya. Iba kepada murid-muridnya yang tidak tahu menahu ujung pangkal dari perbuatannya. Perlahan-lahan Sambirata itu menghampiri muridnya yang paling parah diantara mereka. Perlahan-lahan ia berbisik. “Maafkan aku.” Muridnya itu menjadi heran. Apakah yang harus dimaafkannya? MESKIPUN demikian muridnya itu tidak bertanya apapun kepada gurunya. Mereka hanya menyeringai menahan sakit dan berkata jujur. “Aku belum dapat berjalan Kiai” Sambirata menarik nafas. Agaknya keadaan muridnya itu benar-benar sulit. Karena itu maka katanya, “Aku tidak tergesa-gesa. Biarlah kalian menjadi baik dahulu. Aku akan menunggu kalian disini.” Orang bertopeng itu mengawasi hampir setiap orang ditempat itu. Sesaat kemudian terdengar ia berkata, “Baiklah kalau kalian masih akan menunggu kawan-kawan kalian sehingga mungkin untuk berjalan kembali. Kini biarlah anak muda ini pergi bersama aku.” Sambirata mengangguk sambil menjawab, “Silakan Kiai. Aku mengucapkan terima kasih kepada Kiai.” Orang bertopeng itu mengangguk, kemudian katanya kepada Mas Karebet, “Ikuti aku.” Karebet ragu-ragu sejenak. Ia belum mengenal orang itu. Ia pernah mendengar bahwa orang yang berjubah abu-abu adalah Pasingsingan. Kini ia berhadapan dengan orang yang berjubah abu-abu itu. Apakah orang itu bukan Pasingsingan? Sesaat timbullah beberapa prasangka didalam hatinya. Mula-mula ia menyangka bahwa orang itu hanya sekedar merebut korbannya dari Sambirata dan Sembada, supaya Pasingsinganlah yang berhasil membunuhnya untuk mendapat hadiah dari Prabasemi. Tetapi menilik suara dan tingkah lakunya, maka orang bertopeng itu bukanlah seorang yang bernama Pasingsingan. Akhirnya Karebet tidak mempunyai pilihan lain. Kalau orang itu Pasingsingan, maka dimanapun, orang itu pasti akan dapat membunuhnya. Diketahui atau tidak diketahui oleh orang lain. Karena itu maka ia tidak menolak, dan diikutinya orang berjubah abu-abu itu. Namun selama itu, anak muda yang masih mengetrapkan ilmunya, Aji Lembu Sekilan dan sekaligus ditangannya masih menjing Aji Rog-rog Asem. Beberapa langkah kemudian, ketika orang-orang yang terbaring dipinggir jalan hutan itu telah tidak nampak lagi, maka orang berjubah abu-abu itu berhenti. Ditatapnya mata Karebet dengan tajamnya. Kemudian dengan sebuah anggukan kepada ia berkata, “Duduklah Karebet.” Orang itu tidak menunggu jawaban Karebet. Namun segera ia berjalan kebalik gerumbul dan duduk diatas rumput-rumput kering. Karebet kembali menjadi ragu- ragu. Tetapi seolah-olah sebuah pesona telah menariknya untuk kemudian duduk dihadapan orang berjubah abu-abu itu, dibalik gerumbul pula. “Karebet” berkata orang itu. “Hampir kau melakukan sebuah kesalahan lagi. Bukankah kau kini sedang menjalani hukuman?” Kelunakan dan kesungguhan kata-kata orang itu memberi keyakinan kepada Karebet, bahwa orang itu sebenarnya bukan Pasingsingan. Karena itu maka jawabnya “Ya, Kiai. Aku sedang menjalani sebuah hukuman.” “Apakah sebabnya?” bertanya orang itu. Karebet sesaat menjadi ragu-ragu. Namun kemudian terluncur pula dari mulutnya, persoalan-persoalan yang menyebabkannya diusir dari istana. “Tetapi Kiai”, berkata kemudian. “Janganlah hal ini didengar orang lain, supaya Sultan tidak semakin marah kepadaku.” Orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Karebet. Aku mengikutimu sejak kau meninggalkan istana, berrjalan bersama-sama dengan Tumenggung Prabasemi. Aku melihat sesuatu yang tidak wajar pada kalian berdua. Karena itu aku mencoba melihat apa saja yang akan terjadi. Ternyata dihutan Santi kalian berdua terlibat dalam suatu perkelahian. Ketika aku melihat Prabasemi jatuh, aku hampir saja mencegahmu. Namun ternyata kau pada waktu itu masih dapat menguasai dirimu. Tetapi yang baru saja terjadi disini, agaknya kau telah benar-benar menjadi mata gelap.” Karebet mengangguk, “Ya Kiai” jawabnya. “Aku tidak ingin mati ditangan kedua orang itu.” “Aku tidak menyalahkanmu” sahut orang bertopeng itu. “Aku hanya ingin mencegah kesalahan yang mungkin kau lakukan, yang akan dapat mendorongmu semakin jauh dari istana.” KAREBET menundukkan kepalanya. Kini ia pasti, bahwa orang itu sama sekali bukan Pasingsingan. Tetapi siapa?. Dan tiba-tiba saja ia bertanya. “Tetapi apakah aku boleh mengetahui, siapakah Kiai ini?” Orang itu menggeleng. “Tidak ada gunanya,” jawabnya. Karebet menarik nafas. Ia tidak bertanya lagi kepada orang itu Sebab sekali ia merahasiakan dirinya, maka betapapun ia mencoba bertanya, namun pasti ia tidak akan mendapat jawaban. Karebet itu kemudian mengangkat wajahnya ketika orang itu bertanya. “Sekarang, ke manakah kau akan pergi?” Karebet menarik nafas dalam-dalam. Ya, kemana ia akan pergi? Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian jawabnya, “Aku tidak yakin bahwa Prabasemi akan melepaskan maksudnya membunuhku. Mungkin ia akan meminta orang lain lagi untuk melakukan pembunuhan itu. Dalam keadaan yang demikian, mungkin sekali aku kehilangan kesabaran, dan membunuh orang itu sehingga dengan demikian Sultan Trenggana akan semakin murka kepadaku.” “Kau benar” berkata orang bertopeng itu. “Tetapi kemana?” Karebet menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.” “Apakah kau tidak mempunyai sahabat, kawan atau saudara ditempat lain?” bertanya orang bertopeng itu. Karebet diam sejenak. Tiba-tiba terbayanglah dirongga matanya, sebuah lembah yang luas dengan padi yang hijau subur dikaki pegunungan Telamaya. Suatu daerah yang sangat menarik yang pernah dikunjunginya. Tetapi daerah itu belum menemukan ketentraman karena persoalan antar keluarga sendiri. “Bagaimana?” bertanya orang itu pula. Karebet menggeleng. Jawabnya, “Aku mempunyai sahabat, saudara dan kawan-kawan. Tetapi mereka sedang sibuk dengan persoalan mereka sendiri. Apakah aku tidak akan menambah keributan mereka, apabila aku datang kepada mereka itu?” Terdengar orang bertopeng itu tertawa pendek. Katanya seolah-olah bergumam saja didalam mulutnya. “Hem. Kau memandang dari sudut yang buram. Cobalah, katakan kepadaku bahwa kau akan datang untuk membantu memecahkan persoalan mereka itu.” Karebet menengadahkan wajahnya. Sesaat terpancarlah sesuatu dari wajahnya. Katanya didalam hati, “Ya, aku adalah seorang laki-laki. Kenapa aku tidak dapat memperingan pekerjaan mereka itu?” Tiba-tiba Karebet itu berkata, “Pendapat Kiai baik sekali. Aku dapat datang kepada mereka untuk membantu mereka. Mungkin tenagaku akan berguna.” “Bagus”, orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Topengnya bergerak-gerak seperti kepala hantu-hantuan di sawah untuk menakut-nakuti burung. “Baiklah Kiai”, berkata Karebet pula, “Aku akan pergi kesana.” “Kemana?” Karebet berdiam diri sejenak. Namun sesaat kemudian ia berkata lantang. “Banyubiru.” “Banyubiru”, orang bertopeng itu mengulang. Kemudian katanya, “Pergilah ke Tingkir. Kemudian pergilah ke Banyubiru.” “Baik Kiai” sahut Karebet. Orang bertopeng itupun kemudian berdiri. Dipandanginya Karebet dengan seksama. Kemudian katanya, “Kita berpisah disini setelah aku mengikutimu sejak dari Demak. Mudah-mudahan aku terhindar dari segala malapetaka. Dan mudah-mudahan kau selalu dapat mengekang dirimu sendiri. Pergilah. Aku akan pergi ke Bergota.” Karebet mengerutkan keningnya, dan dengan serta merta ia bertanya. “Kenapa ke Bergota?” “Tidak ada hubungannya dengan kau. Aku akan menemui Arya Palindih,” jawab orang itu. Kembali Karebet menjadi sangat tertarik kepada jawaban itu. Tetapi orang itu berkata, bahwa kepergiannya itu tak ada hubungannya dengan dirinya. Meskipun demikian, ia bertanya-tanya juga didalam hatinya. Bukankah Sultan Trenggana pernah mengatakan kepadanya bahwa ia akan dikirim ke Bergota seandainya Prabasemi tidak mencegahnya? Meskipun demikian Karebet itu tidak bertanya lagi. Orang bertopeng itupun kemudian minta diri dan perlahan-lahan ia berjalan menyusup lewat gerumbul-gerumbul dihutan itu. Sebelum orang itu hilang dari pandangan mata Karebet, terdengar ia berkata, “Karebet, aku tadi berkata kepada Sambirata, bahwa ia menempuh jalan yang tidak wajar karena tuduhan yang tidak wajar. Namun percayalah bahwa aku mempunyai itikad yang baik bagimu dan bagi Demak.” Karebet mengerutkan keningnya. Timbullah pertanyaan bahwa didalam hatinya. “Kenapa bagiku dan bagi Demak? Apakah ada hubungan yang erat antara aku dan Demak? Ah” desahnya. “Aku hanya seorang lurah Wira Tamtama.” Tetapi tiba-tiba ia berdesis. “Bukan, Lurah Wira Tamtama pun bukan. Aku adalah orang buangan.” Ketika orang bertopeng itu lenyap dibalik rimbunnya daun-daun rimba yang hijau, maka Karebet itu menjadi bersedih. Dikenangnya dirinya dan disesalinya segenap perbuatannya. Namun semuanya telah berlalu. Dan kini ia tinggal menjalani akibat dari perbuatan-perbuatannya yang salah itu. Sesaat Karebet itu masih tegak ditempatnya. Sekali-kali diawasinya daun-daun yang hijau tempat orang bertopeng itu melenyapkan dirinya. “ORANG ANEH,” gumam Karebet. “Memang di dunia ini selalu ada keanehan-keanehan yang kadang-kadang lucu. Apakah gunanya orang itu menutupi wajahnya dan berjubah. Apakah wajahnya itu terlalu jelek dan kasar, atau seorang buruan yang sedang menyembunyikan diri? Tetapi tidak pantas kalau orang itu menyembunyikan dirinya karena persoalan-persoalan lahiriah. Ia adalah seorang yang sakti, ternyata Aji Sembada sama sekali tidak mampu mendorongnya selangkah pun.” Karebet itupun kemudian dengan segan melangkah pergi. Kini ia berjalan dengan tujuan yang pasti. Ke Tingkir kemudian ke Banyubiru. Ketika ia muncul dari balik-balik gerumbul, tiba-tiba timbullah keinginannya untuk menengok kembali Sembada dan Sambirata. Karena itu ia berjalan menuju ke arah mereka. Dari kejauhan dibalik tikungan Karebet telah melihat mereka masih berada ditempatnya. Ketika mereka melihat Karebet datang kepada mereka, maka Sembada dan Sambirata itupun berdesir hatinya. Apakah maksud kedatangan Karebet itu kembali kepada mereka? Apakah setelah orang bertopeng itu pergi, Karebet akan meneruskan maksudnya, bertempur sampai saat-saat terakhir? Tetapi kini Sambirata telah tidak bernafsu lagi untuk bertempur. Di dalam dadanya telah terdengar suara-suara yang belum pernah didengarnya. Dan suara-suara itu telah mendorongnya untuk menghindari bentrokan langsung dengan Karebet itu. Tetapi wajah Karebet sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Bahkan ketika ia melihat Sembada yang masih saja menyuapi mulutnya itu, ia tersenyum sambil berkata, “Alangkah nikmatnya, makan setelah bekerja keras.” “Makanlah kalau kau mau” berkata Sembada itu tanpa berpaling. Meskipun demikian denyut jantungnya menjadi semakin cepat. Ia masih belum yakin kalau dalam waktu yang sesingkat itu Karebet telah dapat melupakan apa-apa yang baru saja terjadi. Tetapi Karebet benar-benar anak yang aneh, yang berbuat apa saja menurut keinginannya saja ia duduk di samping Sembada dan berkata, “Aku juga lapar, kakang Sembada.” Sambirata menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kejujuran yang memancar dalam diri Karebet. Kejujuran yang tidak dibuat-buat. Karena itu ia menjadi semakin kecewa atas perbuatannya. Untunglah semuanya belum terlanjur terjadi. Kalau ia berhasil membunuh Karebet, maka dosanya akan selalu mengejarnya apabila ia kelak mengetahui sifat-sifat anak itu. Sedang apabila Karebet yang membunuhnya, maka kasihanlah anak itu. Sebab dengan demikian ia akan mendapat hukuman yang lebih berat dari Baginda. Dengan penuh penyesalan ia melihat Karebet itu meraih sepotong makanan bekal yang mereka bawa dari Demak. Dan tanpa ragu-ragu disuapkannya makanan itu kedalam mulutnya. “Enak” gumam Karebet itu. “Sifat itu sangat menyenangkan”“ berkata Sambirata di dalam hatinya. Dan dibiarkannya Karebet itu kemudian makan sepuas-puasnya. Sembada yang sedang makan itupun menjadi heran pula melihat Karebet benar-benar mau makan bersamanya. Karena itu ia menjadi tenang sedikit. Mungkin Karebet itu benar-benar tidak akan meneruskan perkelahian yang pasti tidak akan menguntungkannya. Hanya beberapa murid Sambirata yang mengumpat-umpat di dalam hatinya. Punggung-punggung mereka masih terasa sakit karena anak muda yang bernama Karebet itu. Dan kini Karebet itu makan bekalnya seenaknya. Bahkan tidak henti-hentinya. “Makanlah angger” Sambirata itu mempersilakan dengan ramahnya. “Aku akan kenyang, paman” sahut Karebet. Dan tiba-tiba pula Karebet itu berdiri. Sembada adalah yang paling terkejut. Ia masih belum dapat menghilangkah kecemasannya apabila Karebet itu tiba-tiba membunuhnya. Tetapi Sembada itu menarik nafas dalam-dalam, ketika dilihatnya Karebet itu menekan punggungnya sambil menggeliat. “Aku sudah terlalu kenyang paman”, katanya kepada Sambirata. “Sekarang biarlah aku meneruskan perjalananku ke Tingkir. Apakah paman masih akan mencegah aku?” “Tidak, tidak ngger. Silakan berjalan terus. Aku tidak akan mengganggu angger lagi.” sahut Sambirata. Tetapi Sembada yang kasar itu menjawab, “Pergilah. Tapi jangan mencoba mengganggu kami.” Karebet itu berpaling. Tetapi kemudian ia tersenyum, jawabnya “Baiklah. Aku tidak sengaja mengganggumu, kakang. Aku lapar, dan dihadapanmu ada makanan.” “Bukan soal makanan” bentak Sembada. “Tetapi jangan halangi kami kembali ke Demak, kalau kau ingin selamat.” Sekali lagi Karebet tersenyum. Katanya, “Apakah kakang sudah dapat berjalan dengan baik.” Sembada tidak menjawab. Namun ia mengumpat perlahan-lahan, “Persetan.” Karebet itupun kemudian berjalan meninggalkan mereka. Ditelusurinya jalan sempit ditengah-tengah hutan yang semakin lama semakin tipis. Sehingga sesaat kemudian ia akan sampai ke mulut lorong itu dan meninggalkan daerah hutan yang memberinya kesan tersendiri. Di hutan inilah Prabasemi berusaha merampas nyawanya untuk yang kesekian kalinya. “Hem,” gumamnya, “Orang itu benar-benar berusaha menghilangkan aku karena otaknya yang gila seperti aku. Tetapi aku tidak mengganggu orang lain. Aku mendapatkan kesempatan tanpa aku sangka-sangka. Sedangkan Prabasemi mencari kesempatan dengan segala cara. Bahkan mengorbankan orang lain sekalipun. Sekali lagi Karebet menarik napas. Kemudian ditatapnya jalan yang terbentang dihadapannya. Kini ia meninggalkan hutanitu. Ketika ia menengadahkan wajahnya dilihatnya langit yang cerah. Awan yang tipis selembar demi selembar mengalir ke Utara, dan burung berterbangan di angkasa seakan menari dengan riangnya. Ketika Karebet mengangkat wajahnya, hatinya menjadi berdebar-debar. Dihadapannya terbaring seonggok warna hijau ke hitam-hitaman. Padukuhan Tingkir, tempat ia dibesarkan oleh ibu angkatnya Nyi Tingkir. Langkah Karebetpun tertegun sesaat. Kembali ia berbimbang hati. Tetapi kemudian ia melangkah kembali dengan langkah yang tetap. Pulang ke Tingkir dan kelak terus ke Banyu Biru. Angin yang lembut sekali lagi mengusap wajah Karebet yang basah oleh keringat. Dan kembali persoalan itu hanyut satu persatu di kepalanya, berlari berurutan seperti kuda yang sedang berpacu. Dan akhirnya sampailah ia ke ujung kenangannya. Malam itu langit cerah yang ditandai oleh sepotong bulan muda. Ketika Karebet mengangkat wajahnya, yang tampak dihadapannya bukan pedukuhan Tingkir yang hijau kehitam-hitaman, tetapi sebuah dataran yang luas dengan daun-daun padi yang menghijau melapisinya. Warna-warna semburat kuning yang dilemparkan oleh bulan sepotong di langit tampak berkilat-kilat memantul dipermukaan air Rawa Pening. Karebet kembali kepada keadaanya kini. Dihadapannya duduk pamannya yang disegani. Kebo Kanigara yang mendengarkan ceritanya dengan asyik. Ketika Karebet itu berhenti berbicara, maka Kebo Kanigara itu menarik napas panjang. Panjang sekali. Dan terdengarlah ia bergumam, “Bukan main. Itulah sebabnya maka sepeninggalmu, timbulah berbagai cerita mengenai dirimu.” Karebet tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Dan malam semakin dingin, karena angin pegunungan. Darimana kau tahu sedemikian banyak cerita tentang dirimu, yang kau alami dan tidak kau alami?” Dengan kepala masih tertunduk Karebet menjawab, “Sebagian aku alami langsung, sedangkan sebagian aku dengar dari seorang sahabat yang dapat dipercaya.” “Siapakah orang itu?” “Sambirata!” “He, Sambirata yang kau katakan mencegatmu di hutan dekat Tingkir itu?” “Ya, ternyata ia telah menyesali perbuatannya. Karena itu ia berusaha mencari kebenaran tentang diriku. Aku tidak tahu, apa saja yang sudah dilakukannya, namun ia berhasil mengetahui sebagian besar keadaanku, dan iapun berhasil mencari aku, ketika aku masih berada di Tingkir.” “Hanya orang itu?” “Ya, tetapi paman Sambirata aku minta menghubungi sahabatku yang lain di dalam lingkungan Wira Tamtama. Daripadanya paman Sambirata dapat melengkapi ceritanya.” “Siapakah orang itu?” “Santapati. Kakang Santapati, seorang lurah Wira Tamtama juga.” Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia berdiam diri, dan Karebet tidak berkata apapun. Karena itu maka keadaan di lereng menjadis epi kembali. Di kejauhan terdengar suara cengkerik sahut menyahut dengan derik belalang. Sesekali terdengar aum harimau di kejauhan, di hutan Gunung Telamaya. Sesekali Kebo Kanigara memandang wajah kemenakannya yang suram. Dilihatnya penyesalan yang dalam menggores didadanya. Karena itu maka perasaan Kebo Kanigara itupun menjadi iba juga kepadanya. Kepada satu-satunya kemenakannya. Karebet adalah penyambung keturunan Pengging disamping Widura. Karena itulah maka adalah menjadi keinginanya bahwa Karebet kelak mendapat tempat yang baik, sebagai seorang cucu Handayaningrat, maka adalah wajar apabila Karebet apabila Karebet itu tidak saja menjadi seorang buangan dan sekedar Lurah Wira Tamtama. “Hem” geram Kebo Kanigara didalam hatinya.” Trenggana ternyata dapat dipengaruhi oleh orang-orang seperti Prabasemi.” Tiba-tiba terbersitlah sesuatu dikepala Kebo Kanigara. Karebet adalah kemanakannya. Nasib Karebet dihari kemudian akan menentukan darah keturunan Pengging. Kalau Karebet itu akan hancur menjadi debu dipembuangan, maka darah Pengging akan kering seperti lautan yang kering. Betapapun agungnya lautan itu dihari-hari lampau, namun apabila kemudian telah kering dibakar terik matahari, maka keagungan airnya pasti akan dilupakan orang. Demikianlah kalau Karebet itu benar-benar akan lenyap dari percaturan pemerintah Demak, maka darah Pangeran Handayaningrat untuk selamanya tidak akan dapat mengharapkan Widuri untuk merebut tempat itu, sebab mau tidak mau ia melihat hubungan yang akrab antara putrinya itu dengan Arya Salaka. Meskipun Arya Salaka bukan darah yang tetes dari istana, namun ia bangga atas anak muda itu. Anak muda yang menyadari keadaannya, menyadari tanggung jawabnya. Dan ia puas dengan keadaan putrinya, asalkan kelak ia merasa bahagia. Apalagi putrinya itu sejak kecilnya sama sekali tidak pernah mengenyam kehidupan istana. Karena itu, maka apa yang dicapainya itu benar-benar telah memberinya kebahagiaan. Baru beberapa waktu kemudian Kebo Kanigara itu berkata, “Karebet. Jangan tinggalkan Banyubiru tanpa ijinku. Mungkin ada beberapa cara yang dapat ditempuh, supaya Sultan Trenggana itu memaafkan kesalahanmu.” Karebet menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik paman. Aku akan tinggal di Banyubiru sampai paman memerintahkan aku berbuat lain.” Kembali mereka terlempar dalam kesenyapan. Dan kembali suara jengkerik bersahut-sahutan dengan desir angin didaunan. Awan yang putih segumpal hanyut diwajah bulan kuning pucat. Sesaat kemudian barulah Kebo Kanigara berkata,”Karebet. Alangkah bodohnya kau. Kenapa kau sampai terpancing dalam pertempuran melawan Sultan Trenggana?” “Aku tidak mengenal paman. Sultan menggunakan tutup wajah dari ikat kepalanya. Dan Sultan sama sekali tidak mempergunakan tanda-tanda kebesarannya.” “Apakah kau tidak mampu melihat ciri-ciri gerak Baginda?” “Tidak paman. Aku lebih baik tidak menyangka bahwa aku berhadapan dengan Baginda, karena Baginda mempergunakan Aji Welut Putih.” “Kenapa dengan Aji Welut Putih.” “Bukankah Aji itu biasa dipergunakan oleh orang-orang jahat yang berusaha melepaskan diri dari kejaran?” Kebo Kanigara mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Baginda mengenal seribu macam ilmu. Dari yang paling jahat sampai yang paling baik.” “Aku kurang menyadari itu paman. Mungkin Baginda sengaja mempergunakan Aji Welut Putih untuk lebih mengaburkan anggapanku terhadap orang yang tertutup wajah itu.” Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Jangan kambuh lagi Karebet. Kalau kau meninggalkan Banyubiru tanpa setahuku, aku tidak akan mencampuri lagi segenap persoalanmu.” “Baik paman” jawab Karebet. Kebo Kanigara itupun kemudian bangkit sambil berkata. “Kembalilah kerumah Ki Lemah Telasih. Mudah-mudahan Buyut Banyubiru itu akan memberimu banyak tuntunan yang akan bermanfaat bagi hidupmu.” Karebet itupun kemudian berdiri pula. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik paman.” Ketika pamannya itu kemudian berjalan meninggalkannya, maka Karebet itu pun segera kembali kerumah Ki Buyut Banyubiru. SEBENARNYALAH Karebet, sejak dari Tingkir segera ia pergi ke Banyubiru. Semula ia mengharap bahwa Arya Salaka Telah berhasil kembali ke tanah perdikannya. Namun ternyata ditemuinya tanah itu sedang dicengkram oleh ketegangan. Karena itu, maka untuk sementara ia mencari tempat yang dapat dipakainya untuk menyembunyikan dirinya. Sehingga akhirnya ditemukannya tempat itu. Rumah Ki Buyut Banyubiru, yang baik hati. Ia tinggal di rumah itu bersama-sama dengan beberapa orang murid Ki Lemah Telasih yang lain. Mereka termasuk orang-orang yang lebih mementingkan persoalan-persoalan pengobatan dan ketekunan dalam mencari dan menemukan jenis dedaunan untuk pengobatan daripada olah kanuragan. Disamping itu, Ki Lemah Telasih adalah seorang yang tekun beribadah. Itulah sebabnya Karebet betah tinggal dirumahnya. Ditemuinya persoalan-persoalan dalam hidupnya. Cara-cara pengobatan itu sangat menarik hati anak muda yang aneh itu. Diperjalanan kembali ke rumah Ki Ageng Gajah Sora, Kebo Kanigarapun selalu diganggu oleh berbagai pesoalan. Apakah ia akan membiarkan Karebet terbuang dari pergaulan yang telah pernah dicapainya? Kebo Kanigara itupun dapat ikut merasakan kepahitan yang dialami oleh Karebet itu. Kepahitan yang dialami oleh setiap prajurit yang terpaksa disingkirkan dari kedudukannya. Tetapi Kebo Kanigara pun tahu pula, bahwa Baginda masih memiliki kesayangan yang besar kepada anak yang aneh itu. Meskipun demikian Kebo Kanigara itu pun berkata didalam hatinya, “Biarlah orang-orang tua mencoba membantu menyelesaikan masalah ini.” Malam itu Kebo Kanigara hampir tak dapat tidur nyenyak. Ia bangun pagi-pagi benar dan tampaklah bahwa perasaannya sedang dibebani oleh persoalan-persoalan yang berat. Mahesa Jenar yang mengetahui serba sedikit tentang Karebet, segera dapat menduga, bahwa Kebo Kanigara benar-benar sedang dirisaukan oleh kemenakannya yang nakal. Karena itu sebagai seorang sahabat yang dekat, maka Mahesa Jenar menyatakan dirinya untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi oleh Kebo Kanigara itu. Kebo Kanigara yang masih belum tahu apa yang akan dilakukan itu berkata, “Bukan main. Anak itu telah jauh tenggelam kedalam gelora darah mudanya.” “Apakah kesalahan yang telah dilakukannya itu terlampau besar, sehingga tidak akan mungkin mendapat pengampunan kakang,” bertanya Mahesa Jenar. Kebo Kanigara merenung sejenak. Kemudian desahnya, “Mudah-mudahan. Tetapi waktu yang diperlukan cukup panjang.” Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Serba sedikit Kebo Kanigara mengatakan juga apa yang pernah didengarnya dari Karebet. Namun tidak seluruhnya. Ada persoalan-persoalan yang tidak dapat di ketahui oleh orang lain. Meskipun orang lain itu adalah Mahesa Jenar sendiri, yang selama ini selalu berbuat bersama-sama, berjuang bersama-sama dan bahkan hidup mati mereka berdua seakan-akan telah dipertaruhkan bersama. Tetapi masalah yang dihadapi oleh Kebo Kanigara sebagian adalah masalah yang berhubungan dengan keluarganya. Berhubungan dengan saluran darah Majapahit yang mengalir ditubuhnya dan ditubuh Karebet, namun juga ditubuh Sultan Tranggana. Karena ada beberapa persoalan yang tidak dapat dikatakannya kepada Mahesa Jenar, maka Mahesa Jenar pun tidak segera dapat melihat, apa yang dapat dilakukannya untuk membantu memecahkan persoalan itu. “Mahesa Jenar” berkata Kebo Kanigara kemudian, “Jangan kau ikut serta dirisaukan oleh persoalan-persoalan yang dibuat oleh Karebet. Lupakanlah persoalan itu. Selesaikan persoalanmu yang telah lama kau tunda-tunda. Bukankah waktu itu kini telah datang?” Mahesa Jenar tersenyum. Segera ia tahu maksud Kebo Kanigara. Karena itu Mahesa Jenar menjawab, “Baiklah kakang. Meskipun demikian apabila pada suatu saat kakang memerlukan aku, maka aku selalu menyiapkan diri untuk itu.” “Terima kasih, Mahesa Jenar. Pada saatnya aku akan memberitahukannya kepadamu. “Namun dalam pada itu, sesuatu tersimpan didalam hati Kebo Kanigara. Sesuatu yang tidak dapat segera dikatakan kepada Mahesa Jenar, meskipun pada suatu saat pasti akan menyangkut perasaannya. “Hem” gumam Kebo Kanigara didalam hatinya, “Biarlah Mahesa Jenar menikmati masa-masa yang paling baik dalam hidupnya.” Sejak itu Kebo Kanigara berusaha untuk menghilangkan kesan-kesannya yang menggelisahkan karena pokal kemenakannya. Meskipun beberapa kali ia masih menemui Karebet, tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebutnya lagi kepada Mahesa Jenar. Dibiarkannya Mahesa Jenar sibuk dengan persoalan sendiri. Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak mendengar dari Kebo Kanigara bahwa Karebet telah pergi ke Karang Tumaritis dan telah kembali ke Banyubiru. Dalam pada itu, maka Ki Ageng Pandan Alas merasa bahwa ia telah cukup lama berada di Banyubiru. Karena itu maka ia pun minta diri kepada Ki Ageng Gajah Sora, kepada Kebo Kanigara, kepada Mahesa Jenar dan kepada cucunya Rara Wilis. “Kenapa Ki Ageng tergesa-gesa meninggalkan Banyubiru?” bertanya Gajah Sora. “Aku sudah cukup lama tinggal di sini angger. Karena itu aku ingin sekali-kali melihat tanah kelahiranku. Aku ingin pulang ke Gunungkidul, menyampaikan kabar yang sebaik-baiknya bagi sanak kadang dan handai taulan di sana. Sudah tentu kami akan mengharap Wilis sekali-kali juga mengunjungi kampung halaman. Dan sudah tentu kami akan mengharap bahwa kami dapat menyaksikan hari yang paling baik bagi hidupnya di kampung halaman sendiri. Apapun yang kemudian akan dilakukan, dan kemana pun kemudian Wilis akan pergi, bukanlah soal bagi kami.” Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Sebenarnya Banyubiru akan sangat berterima kasih kalau kesempatan itu tidak kami terima di sini, sebagai tanah yang telah menerima limpahan pengabdiannya yang tanpa pamrih itu.” Ki Ageng Pandan Alas tertawa. “Terima kasih. Terima kasih.” sahutnya, “Tetapi biarlah kami pada suatu ketika membawanya dahulu kembali. Kami ingin memperkenalkan angger Mahesa Jenar kepada sanak kadang serta sahabat-sahabat kami.” Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Ageng, kami akan datang setiap saat. Aku akan bergembira untuk melihat tanah tempat kelahiran Wilis. Dan aku akan bergembira untuk dapat mengenal sanak kadang di tanah itu.” “Bagus. Biarlah kelak seseorang datang menjemput kalian di sini. Begitu aku sampai di Gunung Kidul, begitu aku minta seseorang menjemput kalian supaya kalian tidak usah mencari-cari jalan. Meskipun seandainya kalian tidak melewati hutan Mentaok, kalian sudah tidak akan bertemu lagi dengan Lawa Ijo, ataupun Pasingsingan yang satu itu. Seandainya demikian pun maka angger Mahesa Jenar sudah pasti tidak akan takut. Dan aku tidak perlu menebang pohon di hutan itu dan kemudian berdendang Dandang Gula.” Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepalanya. Suatu kenangan yang mengesankan. Dihutan itu pula ia pertama-tama bertemu dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Di hutan itu pula ia hampir binasa karena Pasingsingan. Namun didesa itu pula ia diselamatkan oleh Ki Ageng Pandan Alas dengan suara kapaknya dan kemudian disusul dengan tembang Dandang Gula yang melontarkan ciri kehadirannya. Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Ageng Pandan Alas itu pula. “Sungguh tidak sedap berlagu di tengah-tengah hutan yang lebat. Setiap kali aku membuka mulut, setiap kali beberapa ekor nyamuk masuk bersama-sama. Tetapi aku tidak dapat berhenti sebab dengan demikian aku tidak akan berhasil mencegah Pasingsingan berbuat menurut caranya.” Kembali Mahesa Jenar mengenangkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Betapa ia hampir menjadi gila karena tiba-tiba Rara Wilis hilang. “Hem” desahnya di dalam hati. Sebuah tarikan nafas yang panjang telah menggerakkan dadanya. Ki Ageng Pandan Alas melihat perasaan yang melintas di hati Mahesa Jenar. Karena itu ia tersenyum. Namun ketika ia menatap wajah Rara Wilis, Ki Ageng Pandan Alas itu mengerutkan keningnya. Tampaklah mata gadis itu berkilat-kilat. Selapis air telah membasahi pelupuk matanya. Karena itu maka orang tua yang jenaka itu tidak lagi berkata tentang masa-masa lampau. Katanya kemudian, “Kalau aku akan mengirim orang untuk menjemput kalian, maka aku hanya ingin supaya kalian tidak usah mencari jalan. Aku tidak yakin apakah Rara Wilis masih dapat mengingat jalan itu dengan baik, atau apakah kalian akan dapat mencari jalan dalam waktu singkat. Perjalanan kalian kali ini adalah perjalanan yang jauh berbeda dengan setiap perjalanan yang pernah kalian tempuh. Kalian dapat berjalan menyusup hutan belantara mencari sesuatu yang belum pasti tempat dan keadaannya. Sedang Gunungkidul adalah suatu daerah yang tidak akan dapat berpindah-pindah. Namun akan lebih baik bagi kalian, apabila kalian tidak usah bersusah payah untuk mencari jalan itu sendiri.” “Terima kasih, Ki Ageng” jawab Mahesa Jenar, “Kami akan menunggu dengan senang hati.” Ki Ageng Pandan Alas tersenyum. Tersenyum karena ia melihat masa depan satu-satunya cucunya menjadi cerah, secerah matahari pagi. Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang pejalan. Ia dapat berjalan ke mana saja ia kehendaki. Namun perjalanannya ini terasa sangat lambatnya. Ia ingin segera ke Gunungkidul dan menyuruh beberapa orang untuk menjemput cucunya. Sengaja ia tidak membawa cucunya itu berjalan bersama-sama, karena ia ingin menghormati cucunya serta bakal suaminya dengan suatu jemputan yang cukup baik. Ia sendiri tidak memiliki apapun di Gunungkidul. Namun muridnya yang sekarang sudah menjadi Demang, pasti akan mau membantunya. SEPENINGGALAN Ki Ageng Pandan Alas, maka timbullah beberapa keragu-raguan dihati Mahesa Jenar. Kalau ia harus menetap di Gunungkidul, maka persoalannya menjadi agak sulit baginya. Selama ini Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten belum kembali ke Demak. Meskipun ia percaya sepenuhnya kepada Panembahan Ismaya, namun tanpa diketahui sebabnya ia selalu ingin tinggal didekatnya untuk sementara sebelum keris-keris itu kembali. Tetapi ia sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan Ki Ageng Pandan Alas. Ia tahu bahwa Rara Wilis menjadi bergembira karenanya. Gembira bahwa ia akan segera melihat kampung halaman, dan bergembira bahwa ia akan dapat berada didalam lingkungannya semasa kanak-kanak. Tetapi Rara Wilis pun pernah berkata kepadanya, bahwa ia mempunyai beberapa keinginan, tetapi bukan ialah yang menentukan. Tetapi Mahesa Jenar tidak mau mengecewakan Rara Wilis. Nanti apabila sampai saatnya persoalan itu dapat dibicarakannya dengan baik. Dan ia yakin bahwa Wilispun pasti akan dapat mengertinya. Demikianlah maka mereka menunggu di Banyubiru. Selama itu banyaklah yang sudah mereka kerjakan diantara rakyat Banyubiru, membangun tanah perdikan itu. Memperbaiki tanggul yang telah dijebol oleh Arya Salaka dan memperbaiki jalur-jalur saluran air dan menanami kembali lereng bukit yang gundul karena api yang dinyalakan oleh Jaka Soka. Tak ada seorang pun yang sempat duduk bertopang dagu. Arya Salaka telah bekerja mati-matian untuk tanah yang dibelanja selama ini. Bahkan Endang Widuri pun dengan gembiranya ikut membantunya. Ia telah hampir lupa kepada padepokan Karang Tumaritis, dan ia kerasan tinggal di Banyubiru. Kebo Kanigara yang semula sudah siap kembali ke Karang Tumaritis, tiba-tiba terhambat juga oleh kemenakannya. Ada sesuatu yang masih harus diselesaikan di Banyubiru karena kehadiran Karebet. Sehingga karena itu, maka ia pun menunda keberangkatannya. Tentu saja Widuri menjadi sangat bergembira karenanya. Ia lebih senang tinggal di Banyubiru. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa ayahnya selama ini telah disibukkan oleh saudara sepupunya, Karebet. Bahkan ia tidak menyadari pula, bahwa keadaan itu bukan sekedar kesibukan-kesibukan pikiran dan perasaan. Namun karena Kebo Kanigara sudah bertekad untuk membantu kemenakannya itu kembali ke Istana, maka akan banyaklah persoalan-persoalan yang dihadapinya. Tetapi Kebo Kanigara tidak mau menyulitkan orang lain. Karena itu semuanya disimpan didalam dadanya. Hanya sekali-kali ia menyuruh Karebet pergi ke Karang Tumaritis, minta nasehat dan pertimbangan Panembahan Ismaya dan memberitahukan kepada Panembahan itu bahwa Kebo Kanigara menjadi agak lambat lagi. Dengan demikian, meskipun mereka bersama-sama masih tetap tinggal di Banyubiru, dan meskipun mereka tampaknya dalam kesibukan yang sama sehari-harinya, namun didalam hati mereka, mereka mempunyai alasan yang berbeda-beda. Mahesa Jenar dan Rara Wilis sekedar menunggu jemputan dari Gunungkidul, Endang Widuri karena sesuatu telah mengikatnya di Banyubiru, sesuatu yang tidak dapat dikatakan, sedang Kebo Kanigara terikat oleh kemenakannya dengan segenap persoalannya. Demikianlah pada suatu hari, Banyubiru diributkan oleh kedatangan sebuah rombongan orang-orang berkuda. Rombongan itu berpacu dari arah Barat. Bukan hanya sekedar sepuluh orang, namun lebih banyak lagi. Suara derap kakinya menggeletar, memecah kesepian tanah yang damai itu. Seseorang yang sedang bekerja disawah melihat rombongan itu merayap-rayap menyelusur jalan-jalan dilembah, mendaki Bukit Telamaya. Terasa sesuatu berdesir didalam dadanya. Rombongan itu sama sekali bukan rombongan dari Pamingit. Dipaling depan tampaklah seorang dalam pakaian yang mewah, beludru berkilat-kilat. Sebuah pedang panjang tersangkut dilambungnya. Pedang dengan sebuah wrangka yang putih berkilau. Pedang yang jarang-jarang dimiliki oleh orang biasa. Orang itu sama sekali bukan Ki Ageng Lembu Sora. Dan para pengiringnya sama sekali bukan orang Pamingit. Petani itu berpikir didalam hatinya. Masih terbayang apa saja yang telah terjadi beberapa waktu yang lampau. Terbayangllah laskar-laskar dari golongan hitam yang bersama-sama menyerang Banyubiru, kemudian terbayang pula kekacauan yang timbul didaerah perdikan itu setelah laskar Pamingit mendudukinya. Tetapi petani itu tidak tahu, apa yang akan dilakukan untuk mengetahui siapakah para pendatang itu. Karena itu maka segera ia berlari pulang, dan menyampaikan apa yang dilihatnya kepada anaknya. “Bapak melihat rombongan itu sebenarnya?” “Ya, aku melihat dan mataku masih cukup baik.” Anaknya yang sudah cukup dewasa berpikir sejenak. Kemudian katanya kepada ayahnya, “Biarlah aku sampaikan kepada kakang Bantaran.” Anaknya tidak menunggu jawaban ayahnya. Cepat-cepat ia berlari kekandang, melepaskan kudanya dan dipacunya kerumah Bantaran. Mendengar laporan itu, Bantaran mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah tidak ada tanda-tanda pada mereka itu?” “Aku tidak tahu”, jawab anak muda itu. “Marilah ikut aku”, sahut Bantaran. Keduanya kemudian memacu kuda mereka, mendaki tebing yang menghadap ke Barat. Sebenarnyalah, mereka melihat serombongan orang-orang berkuda sudah semakin dekat. Serombongan orang-orang berkuda yang lengkap dengan senjata-senjata mereka. “DUA puluh orang kira-kira”, gumam Bantaran. “Apakah maksud mereka?” bertanya anak petani itu. Bantaran menggelang. Jawabnya, “Apapun maksud mereka, tetapi mereka aku kira tidak akan berbuat kerusuhan disini. Mereka datang disiang hari, lewat jalan yang sewajarnya dan hanya dua puluh orang. Meskipun demikian, datanglah ke gardu penjagaan pertama. Beritahukan bahwa ada serombongan orang berkuda akan lewat. Sebentar lagi aku akan datang ke gardu itu.” Anak petani itu tidak menjawab. Segera ia melarikan kudanya ke gardu pertama memberitahukan apa yang telah dilihatnya. Pemimpin gardu itu menghela nafasnya. Kemudian kata-katanya, “Kedatangan kakang Bantaran kami tunggu.” Anak petani itupun kemudian kembali ke tempat Bantaran mengawasi orang-orang berkuda itu. Mereka sudah tampak lebih jelas lagi. Tetapi karena jalan melingkar-lingkar, maka jarak yang harus dilaluinya masih cukup panjang. Kemudian Bantaran itupun berkata kepada anak petani itu. “Kembalilah, sampaikan pesan ini kepada kakang Penjawi, bahwa berita tentang kedatangan orang-orang berkuda itu supaya dilaporkan kepada paman Wanamerta.” Sepeninggalan anak petani itu, segera Bantaran pergi ke gardu pertama. Gardu yang masih ditempati oleh beberapa orang penjaga. Meskipun Banyubiru seakan-akan sudah tenang, namun peperangan yang baru saja terjadi masih mengharuskan mereka berhati-hati. Di gardu penjagaan itu, Bantaran melihat beberapa orang telah bersiaga. Namun kemudian Bantaran berkata “Jangan terlalu berprasangka. Orang-orang itu pasti tidak akan berbuat jahat.” Meskipun demikian, beberapa orang di gardu itu telah menggantungkan pedang-pedang mereka dilambung, dan yang lain menyandarkan tombak-tombak mereka disamping mereka berdiri. Sesaat kemudian gemeretak kaki kuda itu telah terdengar. “Ha, itulah mereka” gumam Bantaran. Tetapi mereka masih menunggu cukup lama. Jalan yang melingkar dan berbelit-belit itu agaknya telah memperpanjang jarak perjalanan orang-orang berkuda itu. Meskipun demikian, akhirnya muncullah dari tikungan beberapa orang berkuda. Sebenarnyalah bahwa yang paling depan dari mereka adalah seorang yang berpakaian sangat bagus. Baju beludru, kain lurik yang berwarna kemerah-merahan. Sebuah pedang yang bagus berjuntai disisi kudanya. Orang itu terkejut ketika dilihatnya beberapa orang yang berdiri dipinggir jalan berseberangan. Segera orang itu menyadari, bahwa kedatangannya telah mengejutkan beberapa orang penjaga. Karena itu maka segera orang-orang berkuda itu memperlambat kuda-kuda mereka, dan berhenti beberapa langkah dari Bantaran. Wanamerta yang telah mendengar laporan Penjawi, menjadi gelisah juga. Segera ia pergi ke rumah Ki Ageng Gajah Sora, dan memberitahukan tentang apa yang didengarnya dari Penjawi. Namun seperti apa yang didengarnya, maka katanya, “Tetapi menurut Bantaran, orang-orang itu pasti tidak akan berbuat huru-hara disini, sebab mereka hanya kira-kira duapuluh orang.” Meskipun demikian berita itu telah menimbulkan berbagai pertanyaan di hati mereka yang sedang duduk dipendapa itu. Ki Ageng dan Nyai Ageng Gajah Sora, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka dan Endang Widuri. Mereka mencoba menerka, siapakah kira-kira yang datang dalam rombongan itu. Namun mereka tidak dapat menemukan jawaban. Kemudian terdengar Ki Ageng Gajah Sora bertanya, “Dimanakah Penjawi sekarang?” “Penjawi sedang pergi menyusul Bantaran. Anak itu tidak dapat membiarkan seandainya orang-orang itu berbuat sesuatu. Namun mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.” Ki Ageng Gajah Sora menarik nafasnya. Dan sebelum mereka dapat berbuat apapun, maka terdengarlah seseorang penjaga berkata “Sebuah rombongan berkuda.” Salah seorang dari mereka segera memberitahukannya kepada Ki Ageng Gajah Sora, dan sambil mengangguk-angguk Ki Ageng berkata, “Baik. Kembalilah ketempatmu.” Orang itu pun segera berjalan ke gardunya, sedang beberapa orang yang lain, segera berdiri pula sambil berjaga-jaga. Gajah Sora, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wilis,Arya Salaka dan Endang Widuri segera turun ke halaman. Mereka berusaha menjemput orang-orang berkuda itu sebelum mereka memasuki regol halaman. Tetapi langkah mereka segera tertegun. Yang mula-mula masuk ke halaman justru adalah Bantaran dan Penjawi. Karena itu maka Ki Ageng Gajah Sora itu segera bertanya. “Siapakah mereka?” Sebelum Bantaran menjawab, maka muncullah orang yang pertama. Seorang yang gagah tampan dengan baju beludru dan sebuah pedang yang indah di lambungnya. Demikian orang itu melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera ia berseru. “Mahesa Jenar, aku datang menjemputmu.” Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Arya Salaka dan Endang Widuri terkejut melihat orang itu. Lebih-lebih adalah Rara Wilis. Karena itu sesaat mereka diam mematung. Sehingga terdengar kembali orang itu berkata. “Apakah kau lupa kepadaku?” Mahesa Jenar seakan-akan tersadar dari mimpinya yang aneh. Karena cepat-cepat ia menjawab. “Tidak. Aku tidak melupakan kau, Sarayuda.” Sarayuda, orang yang baru datang itu tertawa, wajahnya cerah secerah warna pakaiannya. Sambil meloncat turun dari kudanya ia berkata. “Aku datang atas perintah Ki Ageng Pandan Alas untuk menjemput kalian berdua.” Wajah Rara Wilis segera menjadi kemerah-merahan. Ia tidak dapat melupakan, apakah yang telah terjadi antara mereka bertiga, Mahesa Jenar, Sarayuda dan dirinya. Karena itu, maka segera ditundukkannya wajahnya dalam-dalam. Yang menjawab kemudian adalah Mahesa Jenar, “Terima kasih Sarayuda. Tetapi marilah, perkenalkanlah dahulu dengan Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru, Ki Ageng Gajah Sora.” Sarayuda tersadar akan kehadirannya di Banyubiru. Karena itu maka segera ia berkata. “O, maafkan. Aku terlalu bernafsu untuk menyampaikan maksud kedatanganku, sehingga aku lupa suba-sita.” “Marilah Ki Sanak”, Ki Ageng Gajah Sora mempersilakan, “Marilah, aku mempersilakan kalian untuk naik kependapa.” Maka seluruh rombongan itu pun kemudian memperkenalkan diri. Sarayuda adalah Demang yang kaya raya, yang menguasai suatu daerah yang luas di daerah Pegunungan Kidul. Sedang Ki Ageng Gajah Sora adalah seorang Kepala Daerah Tanah Perdikan yang kuat dan subur dilereng bukit Telamaya. Keduanya adalah orang-orang yang bertanggungjawab atas wilayahnya dan akan rakyatnya. Karena itu, maka segera mereka dapat menyesuaikan dirinya dalam perkenalan yang akrab, meskipun ada beberapa perbedaan sifat diantara mereka. Sarayuda adalah seorang yang menyadari kekayaannya, meskipun tidak berlebih-lebihan, sehingga caranya berpakaian pun telah menunjukkan keadaannya, sedang Ki Ageng Gajah Sora adalah seorang yang sederhana. Segera pembicaraan mereka berkisar kepada maksud kedatangan Sarayuda. Berkata Demang itu kemudian, “Kakang Gajah Sora, kedatanganku kemari adalah karena perintah guruku, Ki Ageng Pandan Alas untuk menjemput Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Setiap orang di Gunungkidul telah mendengar berita itu. Berita tentang akan kehadiran Rangga Tohjaya didaerah mereka. Karena itu, maka Gunungkidul sedang dihinggapi oleh perasaan yang melonjak-lonjak, mengharap agar orang yang ditunggu-tunggu itu segera datang. Rara Wilis adalah seorang gadis yang cukup mereka kenal, karena daerah itu adalah daerah masa kanak-kanaknya. Banyak kawan-kawannya bermain ingin melihat mereka, seorang anak gadis dari daerah mereka yang pernah memakai nama Pudak Wangi dan telah berhasil membinasakan seorang perempuan yang dahulu pernah menggemparkan daerah itu, yang kemudian bernama Nyai Sima Rodra. Mahesa Jenar tersenyum mendengar pujian itu, sedang Rara Wilis semakin menundukkan wajahnya. Pipinya menjadi kemerah-merahan dan karena itulah maka sepatah kata pun dapat diucapkan. Widuri yang mendengar kata-kata itu dengan seksama, tersenyum-senyum kecil. Dengan nakalnya ia berkata. “Ah. Apakah paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan menjadi tamu paman Demang Sarayuda?” “Ya tentu” jawab Sarayuda, “Aku dan rakyatku akan menyambutnya.” “Bukan main. Paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan menjadi tamu Agung.” sahut Widuri. “Apakah aku boleh ikut serta?” “Tentu” jawab Sarayuda. “Aku dan setiap orang yang hadir di dalam pendapa ini untuk pergi ke Gunungkidul. Menyaksikan bukit-bukit gundul dan bukit-bukit kapur diantara lembah-lembah hijau. Sangat berbeda dengan pemandangan di Bukit Telamaya ini.” Wajah Endang Widuri itu pun kemudian menjadi cerah. Dengan serta merta ia berkata, “Bagus sekali. Aku akan ikut dengan Bibi Wilis. Boleh bukan bibi?” Rara Wilis tidak segera dapat menjawab. Sekali dipandangnya wajah Kebo Kanigara. Ia tidak dapat berkata apapun tentang gadis itu sebelum ayahnya memberikan persetujuan. Widuri melihat keragu-raguan Rara Wilis. Karena itu segera ia berkata kepada ayahnya. “Ayah, bukankah kita akan ikut ke Gunungkidul. Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata perlahan-lahan. “Sayang Widuri kita tidak dapat ikut serta.” Kecerahan wajah Widuri segera larut, seperti bulan disaput awan yang sedemikian kelam. “Kenapa?” “Ada sesuatu yang harus kita kerjakan disini.” “Apakah yang harus dikerjakan?” Aku Widuri. Aku mempunyai banyak pekerjaan di sini. Dan agaknya kita telah terlalu lama tidak kembali ke Karang Tumaritis. “Aku tidak mau. Aku tidak mau.” berkata Widuri itu. Kebo Kanigara tersenyum. Kemudian kepada Sarayuda itu berkata. “Sayang adi. Sungguh sayang. Sebenarnya aku juga ingin mengantarkan Widuri ikut serta mengunjungi daerah adi. Namun ternyata ada persoalan-persoalan yang harus aku selesaikan. Dan aku harus segera kembali ke Karang Tumaritis.” Sarayuda menarik nafas. “Ya sayang.” Yang menyahut kemudian adalah Endang Widuri, “Kalau ayah mempunyai pekerjaan di sini atau di Karang Tumaritis, biarlah aku ikut bersama Bibi Wilis. Nanti kalau ayah sudah selesai, biarlah ayah menjemput aku.” Kebo Kanigara itu tersenyum pula. Namun senyumnya membayangkan sesuatu yang tak dapat diraba. Katanya, “Tidak Widuri. Jangan pergi sekarang. Besok apabila sampai waktunya, biarlah kau aku antarkan kesana. Kalau sampai saatnya Paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan mengarungi hidup baru mereka.” “Emoh” seru gadis itu. “Aku akan pergi bersama bibi Wilis.” “Bukankah sama saja bagimu Widuri”, berkata ayahnya. “Besok atau sekarang.” “Tidak” sahut Widuri. “Aku ingin melihat, bagaimana rakyat Gunungkidul menyambut paman Mahesa Jenar.” “Tetapi kau tidak akan melihat, bagaimana pamanmu dan bibi Wilis dipersandingan.” “Biar. Aku akan ikut bersama bibi Wilis.” Rara Wilis menjadi iba melihat Endang Widuri. Tetapi ia tidak berani berkata apapun. Itu sepenuhnya adalah wewenang ayahnya. Karena itu, Rara Wilis hanya dapat memandangnya dengan senyum yang hambar. Sarayuda agaknya dapat menempatkan dirinya. Ia tidak mau mengecewakan Kebo Kanigara. Maka katanya, “Begitulah angger Wilis. Seperti kata ayah angger itu. Biarlah besok aku menyuruh beberapa orang menjemput ke mari apabila sudah tiba waktunya. Kalau angger sudah kembali ke Karang Tumaritis, biarlah kelak di jemput pula ke sana. Bukankah begitu? Kelak angger bisa pergi bersama ayah.” Widuri kemudian menjadi bersungut-sungut. Bahkan tampaklah matanya menjadi basah. Ia menjadi sangat kecewa. Katanya kemudian, “Aku tidak mau dijemput oleh sembarang orang.” Demang Sarayuda tersenyum. Jawabnya, “Baiklah, besok aku sendiri akan menjemput angger. Begitu?” Widuri tidak menjawab. Namun tiba-tiba ia berdiri dan berlari masuk ke dalam biliknya. Alangkah kecewa hatinya, bahwa ia tidak dapat turut serta dengan Rara Wilis. Meskipun mereka berdua bukan sanak bukan kadang, namun perpisahan di antara mereka benar-benar tidak menyenangkan. Pergaulan mereka yang ditandai dengan berbagai kesulitan, benar-benar telah mengikat mereka dalam suatu ikatan yang sangat erat. Tidak saja Widuri yang menjadi sedih akan perpisahan itu, tetapi Rara Wilis pun merasakan, bahwa ia akan menjadi kesepian tanpa gadis yang nakal itu. Tetapi Kebo Kanigara benar-benar berhalangan untuk turut serta pergi ke Gunungkidul. Masih ada suatu pekerjaan yang mengikatnya di Banyubiru. Pekerjaan yang ditimbulkan oleh kemenakannya yang nakal. MAHESA Jenar pun menjadi kecewa. Tetapi ia dapat mengerti keberatan Kebo Kanigara. Meskipun demikian Mahesa Jenar itu berkata, “Kakang. Sebenarnya aku sangat mengharap kakang untuk ikut serta bersama kami.” Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya katanya. “Aku juga menyesal sekali Mahesa Jenar. Tetapi barangkali kau dapat mengerti apa yang akan aku lakukan. Karena itu biarlah lain kali aku menyusul ke Gunungkidul bersama Widuri.” Sesaat mereka pun berdiam diri. Arya Salaka menundukkan kepalanya. Semula ia ingin juga turut pergi ke Gunungkidul mengantarkan gurunya. Tetapi ketika ia mengetahui, bahwa Endang Widuri tidak diperbolehkan oleh ayahnya ikut dalam rombongan itu, maka ia menjadi bimbang. Keinginannya untuk turut pun terlalu besar, namun terasa sesuatu yang menahannya untuk tinggal di rumah. Karena itu, anak muda itu bahkan menjadi bingung. Sehingga akhirnya Arya pun hanya berdiam diri saja. “Ah, terserah apa yang akan aku lakukan nanti,” desisnya di dalam hati. “Kalau tiba-tiba aku ingin berangkat biarlah aku berangkat. Kalau aku ingin tinggal, biarlah aku tinggal.” “Tetapi”, berkata pula hatinya. “Bagaimana kalau guru mengajakku?” “Entahlah”, jawabnya sendiri di dalam hati. Malam itu Sarayuda dan para pengiringnya bermalam di rumah itu pula. Karena tempatnya yang terbatas, maka para tamu itu dipersilakan tidur di pendapa, di atas tikar pandan yang dirangkap supaya tidak terlalu dingin. Dalam pada itu Mahesa Jenar dan Rara Wilis pun segera mempersiapkan dirinya. Tetapi tidak banyaklah yang mereka punyai. Mereka tidak sempat berbuat untuk diri mereka sendiri selama ini. Karena itu, apa yang dimilikinya pun hampir tidak ada. Hanya beberapa lembar pakaian yang sudah lungset tanpa perhiasan apapun bagi Mahesa Jenar hal itu hampir tak berpengaruh pada perasaannya. Tetapi bagi Rara Wilis, terasa sekali alangkah miskinnya. Ia sama sekali tidak memiliki perhiasan apapun sebagai seorang gadis. Bahkan yang dimilikinya adalah sebilah pedang. Pedang tipis yang telah dikotori dengan darah. Mahesa Jenar terkejut ketika tiba-tiba dilihatnya wajah Rara Wilis menjadi suram. Karena itu dengan dada yang berdebar-debar mencoba bertanya. “Wilis. Adakah sesuatu yang mengganggu perasaanmu?” Rara Wilis terkejut mendengar pertanyaan itu. Segera dicobanya untuk menguasai perasaannya. Dengan sebuah senyuman yang dipaksakan ia menjawab, “Kenapa? Aku tidak apa-apa kakang. Aku sedang berpikir tentang hari-hari yang akan datang.” “Oh” Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak membantah. Namun ketika dilihatnya sekali lagi Rara Wilis merenungi kainnya yang hampir-hampir sudah kehilangan warnanya, maka hatinya pun berdesir. “Hem “ desahnya di dalam hati. “Ternyata aku tidak menyadari, bahwa tekanan perasaan Wilis sudah terlampau padat. Agaknya dalam ketegangan kewajiban yang aku hadari, gadis itu tidak sempat memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Namun dalam kesempatan seperti ini, barulah disadarinya perasaan itu. Perasaan seorang gadis.” Tetapi Mahesa Jenar tidak berkata apapun. Ia masih belum tahu, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan kebutuhan-kebutuhan yang wajar bagi sebuah keluarga. Apapun yang dilakukannya, maka apabila sampai saatnya, maka hal itu tidak akan mungkin dapat tidak dapat membutakan matanya, seandainya pada suatu saat ia dikejar-kejar oleh keperluan-keperluan tetek bengek itu. “Itu merupakan suatu kewajiban”, desahnya. Mahesa Jenar itu pun kemudian berjalan keluar bilik Rara Wilis, dan ke halaman. Dilihatnya beberapa orang sudah berbaring-baring di pendapa, sedang beberapa orang lagi masih duduk-duduk di antara mereka. Bahkan ada juga yang masih berjalan-jalan di luar regol halaman. Ketika Mahesa Jenar pergi keluar regol pula, maka orang-orang dari Gunungkidul itu bertanya-tanya tentang beberapa hal kepadanya. “Tanah ini cukup subur” berkata salah seorang dari mereka, “Tanah yang akan memberikan apa saja yang diharapkan oleh penggarapnya. “Demikianlah” sahut Mahesa Jenar, “Tanah yang telah dipertahankan dengan banyak pengorbanan.” Tamu dari Gunungkidul itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Tanah kami adalah tanah yang bercampur-baur. Ada yang subur sesubur tanah ini. Ada yang menggantungkan airnya dari air hujan melulu. Bahkan ada yang hanya dapat dijadikan padang-padang rumput untuk peternakan. Bahkan ada yang batu melulu.” Mahesa Jenar mengangguk lemah. Tanah ini adalah tanah yang subur, yang telah dipertahankan dengan darah dan air mata. Dirinya sendiri pun telah ikut serta memeras keringat untuk kepentingan tanah ini. Tanah yang subur, yang akan dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat dan penduduknya. Bahkan siapa yang bekerja keras, pasti akan dapat segera menikmati hasil dari jerih payahnya itu. “Tetapi aku tidak dapat ikut serta” desis Mahesa Jenar didalam hati. Timbullah didalam hatinya sesuatu yang tak pernah dipikirkannya. Kalau ia nanti akan membangun rumah tangga yang kuat, maka ia harus membuat tiang-tiangnya kuat pula. Diantaranya, bagaimana ia harus hidup sekeluarganya. Karena itu, maka sampailah Mahesa Jenar pada suatu kesimpulan. “Bekerja”. “Ah” kembali ia berdesah di dalam hati, “Akhirnya aku sampai pada persoalan itu. Persoalan yang sangat pribadi. Persoalan yang hampir tak ada sangkut pautnya dengan pengabdian yang selama ini dilakukannya. Tetapi apakah dengan demikian maka segenap pengabdian harus terhenti?” “Tidak” pertanyaan itu dijawabnya sendiri. “Aku akan dapat dan harus dapat melakukan kedua-duanya sekaligus. Mudah-mudahan Wilis akan dapat mengerti pula.” Tiba-tiba teringatlah Mahesa Jenar itu kepada masa-masa lampaunya, masa-masa ia tinggal di istana Demak sebagai seorang prajurit. Dikenangnya pula beberapa orang kawan-kawannya yang pada saat itu telah berkeluarga pula. Katanya didalam hati, “Mereka dapat melakukan kedua-duanya. Pengabdian dan keluarga.” “Tetapi tidak hanya didalam istana, atau didalam bidang-bidang itu kedua-duanya dapat dilakukannya sekaligus”, katanya pula. “Disini, aku lihat rakyat Banyubiru melakukannya pula. Bekerja untuk keluarganya, namun mereka melakukan pengabdiannya untuk tanahnya. Membangun tanah ini. Tempat-tempat ibadah, banjar-banjar desa dan surau-surau tempat pendidikan lahir dan batin. Bekerja keras untuk kesejahteraan keluarganya dan kesejahteraan bersama.” Tiba-tiba Mahesa Jenar itu teringat pada ceritera Wanamerta tentang seorang bahu yang pernah mencoba menyuapnya dengan timang emas bertretes berlian. “Bukan itu”, desah Mahesa Jenar di dalam hatinya, “Bukan seperti bahu itu. Ia bekerja untuk diri sendiri, tetapi bukan untuk sebuah pengabdian . Justru ia menghisap hidup disekitarnya untuk kepentingannya. Dibiarkannya orang-orang disekitarnya kering, namun dirinya sendiri menimbun kekayaan tanpa batas.” Namun bagaimana pun juga, Mahesa Jenar dihadapkan pada suatu kewajiban yang baru. Kuwajiban atas sebuah keluarga yang bakal disusunnya. Kuwajiban yang tidak kalah sucinya dari kuwajiban yang telah dilakukannya selama ini. Sebab dengan keluarga yang baik Yang Maha Esa telah mempergunakan untuk menangkar-lipatkan jumlah manusia di dunia untuk memelihara dan memanfaatkan ciptaan-Nya dengan baik. Demikianlah, rombongan Sarayuda itu tinggal di Banyubiru untuk dua hari lamanya. Selama itu mereka telah melihat-lihat Banyubiru dengan baik. Apa yang dapat dilakukan di daerah Demang yang kaya raya itu, telah mereka pelajari, sedang apa yang baik bagi Banyubiru telah disarankannya pula. Sehingga sampailah pada saatnya mereka meninggalkan Banyubiru. Dua hari kemudian, maka bersiaplah rombongan itu meninggalkan Banyubiru beserta Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Ki Ageng Gajah Sora dengan menyesal tak dapat ikut serta bersama mereka pergi ke Gunungkidul karena keadaan daerahnya yang masih harus mendapat pengawasannya. Kebo Kanigara terikat pada suatu kuwajiban yang tak dapat ditinggalkannya pula. Sedang Endang Widuri dengan penuh penyesalan terpaksa tidak dapat mengikuti Rara Wilis ke Gunungkidul. Pada saat-saat terakhir itu pun kemudian Arya Salaka memutuskan untuk tidak turut bersama gurunya, meskipun ada juga keinginan yang melonjak-lonjak. Dalam kesempatan itu Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Lembu Sora pun telah memerlukan datang ke Banyubiru untuk menyampaikan ucapan selamat jalan kepada Mahesa Jenar. Orang yang aneh didalam tanggapannya. Orang yang hampir tak dapat dimengertinya, apakah yang telah menjadikannya seorang yang memiliki jiwa pengabdian yang sedemikian besarnya. Sebelum matahari sepenggalah, maka rombongan itu telah bersiap untuk berangkat. Ternyata Mahesa Jenar dan Rara Wilis tidak hanya memerlukan dua ekor kuda untuk mereka. Seekor kuda yang lain, tanpa sepengetahuan mereka telah dipisahkan oleh Ki Ageng Gajah Sora. Dipunggung kuda itu terdapat sebuah beban yang tak diketahui isinya. Beban yang telah diatur oleh Nyi Ageng Gajah Sora bersama Nyi Ageng Lembu Sora. Terharu juga Mahesa Jenar melihat kuda yang seekor itu tentu saja ia tidak dapat menolak untuk tidak menyakiti hati Ki Ageng Gajah Sora kakak beradik. Perpisahan itu merupakan perpisahan yang mengharukan. Meskipun mereka tahu, bahwa suatu ketika Mahesa Jenar akan kembali pula, namun seakan-akan mereka bertemu pada saat itu untuk terakhir kalinya. Apalagi Endang Widuri. Ketika kemudian Sarayuda minta diri dengan serta merta gadis itu berlari menghambur memeluk Rara Wilis. Sambil menangis Widuri berkata, “Bibi, jangan pergi terlalu lama.” Rara Wilis pun seorang gadis pula. Karena itu maka ia pun tidak dapat menahan air matanya. Apalagi ketika dilihatnya Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora pun menjadi berlinang-linang. Teringat pula oleh mereka berdua, pada saat-saat mereka berhadapan dengan Galunggung yang sedang dihinggapi oleh kegilaannya tentang pangkat dan kekayaan, sehingga hampir saja mereka berdua dibunuhnya. Untunglah pada saat itu Rara Wilis hadir diantara mereka, sehingga sebenarnyalah gadis itulah yang telah menyambung umurnya. “Widuri” berkata Rara Wilis itu kemudian. “Perpisahan ini tidak akan terlalu lama. Bukankah kau segera akan menyusul kami ke Gunungkidul?” Endang Widuri mengangguk perlahan. Dipalingkannya wajahnya kepada ayahnya seakan-akan ia minta ketegasan daripadanya. Sebenarnya Kebo Kanigara merasa kasihan juga kepada putrinya itu. Tetapi terpaksa ia tidak dapat mengijinkannya, karena ia sendiri tidak dapat pergi. Anak itu adalah anak yang sangat nakal, sehingga betapapun juga, maka Kebo Kanigara itu tidak sampai hati melepaskannya tanpa pengawasannya. Apalagi nanti Mahesa Jenar dan Rara Wilis sedang disibukkan oleh persoalan mereka sendiri, maka Widuri akan sangat mengganggu mereka, dan kadang-kadang pasti akan lepas dari pengawasan. Karena itu, betapa pun juga, maka Kebo Kanigara berusaha untuk tetap melarang anaknya ikut serta. Ketika anaknya itu berpaling kepadanya, maka katanya, “Ya Widuri. Segera kita akan menyusul ke Gunungkidul. Kemarin aku sudah mendapat ancar-ancar, kemana kita nanti harus pergi. Jalan mana yang harus kita tempuh, dari pamanmu Sarayuda. Kalau kau bersabar sedikit bukankah pamanmu Sarayuda bersedia untuk menjemputmu?” Akhirnya Rara Wilis itupun dilepaskannya juga, meskipun tangisnya mash saja menyesakkan dadanya, sementara Mahesa Jenar menepuk punggung muridnya. “Kau sudah menjelang dewasa penuh Arya. Sudah seharusnya kau menyadari keadaanmu itu. Bekerja keras membantu ayahmu. Tak ada orang lain yang diharapkannya selain daripadamu.” Arya mengangguk sambil menjawab, “Ya paman”. Maka kemudian sampailah saatnya rombongan itu berangkat. Perpisahan yang mengesankan. Rara Wilis masih melihat Endang Widuri berlari masuk ke gandok kulon, sedang kemudian Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menyusulnya. Sebuah salam yang erat sebagai tanda terima kasih yang tak ada batasnya, telah diberikan oleh Mahesa Jenar langsung, namun lebih daripada itu, Mahesa Jenar telah membentuk Arya Salaka menjadi harapan bagi masa datang. Satu demi satu, maka kemudian keluarlah mereka dari halaman di atas punggung kuda masing-masing. Bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis perjalanan yang akan ditempuh itu terasa aneh. Perjalanan yang jauh berbeda dengan semua perjalanan yang pernah mereka lakukan. Kalau pada masa lampau mereka berjalan dengan penuh keprihatinan, maka perjalanan kali ini adalah perjalanan menunju ke hari-hari yang cerah. Namun karena itulah maka dada mereka menjadi berdebar-debar. Setelah mereka meninggalkan halaman itu maka mulailah kuda mereka berjalan agak cepat. Beberapa orang melihat rombongan itu menganggukkan kepala mereka. Mereka memberikan hormat setulus-tulusnya kepada Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Bahkan Ki Wanamerta, Jaladri, Bantaran dan Penjawi telah ikut serta dengan rombongan itu, mengantarkan sampai ke perbatasan kota. Bukan hanya mereka. Beberapa orang lain pun telah ikut pula, sehingga rombongan itu menjadi semakin panjang. Di perbatasan kota mereka berhenti sesaat. Wanamerta yang tua itu memerlukan mengucapkan selamat jalan, mengucapkan terima kasih atas nama segenap rakyat Banyubiru dan ternyata orang tua yang telah menjadi hampir bulat kembali itu meneteskan air mata. “Selamat tinggal paman” berkata Mahesa Jenar kemudian. Wanamerta mengangguk. Ingin ia menjawab, namun suaranya tersangkut dikerongkongan. Yang terdengar kemudian hanyalah sebuah jawaban pendek, “Ya, ya angger.” Mahesa Jenar itu pun kemudian meneruskan perjalanannya. Dimuka sendiri Demang Sarayuda mulai mempercepat jalan kudanya. Perjalanan mereka adalah perjalanan yang panjang. Namun mereka tidak usah takut terhadap siapa pun sehingga mereka tidak perlu memilih jalan-jalan yang tersembunyi. Atau mereka pun sama sekali tidak berkepentingan dengan apapun selama perjalanan mereka. Karena itulah maka perjalanan itu akan tidak terganggu. Disepanjang jalan itu Rara Wilis telah mulai menganyam angan-angannya menjelang masa-masa yang akan datang. Hal yang lumrah bagi gadis-gadis yang akan menginjak masa-masa yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Rara Wilis pun adalah seorang gadis biasa. Meskipun kadang-kadang dilambungnya tersangkut sebilah pedang, dan bahkan pedang yang telah berbekas darah, namun dalam saat-saat yang demikian ia adalah seorang gadis. Tidak lebih daripada itu. Karena itulah maka ia mendambakan masa yang berbahagia, masa yang bagi Rara Wilis sebenarnya telah terlalu lambat. Sepeninggal Mahesa Jenar dan Rara Wilis terasa rumah Ki Ageng Gajah Sora menjadi sepi. Apalagi ketika Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana telah kembali ke Pamingit. Namun meskipun demikian, kehadiran Endang Widuri di Banyubiru, masih dapat menyejukkan suasana rumah Ki Ageng Gajah Sora itu. Untuk menghilangkan kejemuannya Endang Widuri bekerja apa saja yang dapat dilakukannya. Menanami halaman, yang seakan-akan halamannya sendiri. Ikut menanam padi disawah. Menyiangi dan pekerjaan-pekerjaan lain. Sebagai seorang gadis Widuri senang juga membantu Nyai Ageng Gajah Sora didapur. Menyiapkan makan dan minuman. Ki Ageng Gajah Sora pun masih mempunyai kawan bercakap-cakap. Kebo Kanigara, meskipun pada saat-saat terakhir Kebo Kanigara sering meninggalkan rumah, dan tak pernah ia berkata tentang apapun juga kepada putrinya. Widuri pun menyadari keadaanya. Ia merasa masih terlalu kecil untuk berbicara tentang masalah-masalah yang berat dengan ayahnya. Karena itu, maka jarang sekali Widuri bertanya-tanya tentang pekerjaan ayahnya. Gadis itu lebih senang bercakap-cakap dengan Arya Salaka di pendapa atau dengan Nyai Ageng Lembu Sora dibelakang. Bersambung… ________________________ Pengarang dan Hakcipta© oleh Singgih Hadi Mintardja Di kompilasi ulang oleh Daniel SNS taxdsns – S. H. Mintardja – NAGA SASRA & SABUK INTEN § AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu, dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar. Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah. Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir. Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang. Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut. Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut. Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan. Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir. Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya. Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam. Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu. Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang. Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang. Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia. Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan. Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu. Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap. Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka. Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu. Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin. TIBA-TIBA Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Di sana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu. Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak. Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya. “Apakah yang aneh padaku?” pikirnya. Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo. Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup. Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu. Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya. Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima. Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat. Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang. Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu, disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya. “Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu. Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya. Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah di belakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal. Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya. Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja mengikuti di belakangnya. “Kakang Demang,” lapor pemimpin rombongan itu, “orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan kakang.” Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah. “Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya,” tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa. Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya. Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk. “Bolehkah aku bertanya?” kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami.” Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya …? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya. Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, “Ayo bilang!” Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, “Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerah-daerah wilayah Kerajaan Demak.” Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini. SEORANG pegawai istana adalah orang yang pantas sekali mendapat kehormatan. Sedang orang ini? Orang yang mengaku menjadi pegawai istana itu menjadi orang tangkapan. Apakah kalau hal semacam ini sampai terdengar oleh kalangan istana, tidak akan menjadikan mereka murka? Mahesa Jenar merasakan pengaruh kata-katanya itu atas orang-orang yang mengepungnya. Demikian juga wajah orang tinggi besar itu tampak berubah. Dahinya berkerinyut dan alisnya ditariknya tinggi-tinggi. Demang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang masih sesopan tadi. “Menilik sikap Ki Sanak, memang tepatlah kalau ki sanak seorang pegawai istana, atau setidak-tidaknya orang-orang kota seperti yang pernah aku kenal. Tetapi kedatangan Ki Sanak seorang diri kemari, merupakan sebuah pertanyaan bagi kami.” Sekali lagi tampak wajah-wajah di sekitar Mahesa Jenar berubah. Mereka jadi ikut bertanya pula di dalam hati. “Ya, kenapa seorang pegawai istana pergi sedemikian jauhnya seorang diri?” Tetapi tak seorangpun yang mengucapkan pertanyaan itu. “Orang ini ingin memperbodoh kita Kakang,” kembali terdengar suara gemuruh orang yang tinggi besar itu dengan matanya yang berkilat-kilat. Sekali lagi ia memandang berkeliling, kepada orang-orang yang berdiri memagari. Dan sekali lagi orang-orang itu mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa. Sikap orang yang tinggi besar itu semakin tidak menyenangkan hati Mahesa Jenar, tetapi ia masih saja menahan dirinya dan menjawab dengan ramah pula. “Bapak Demang, sebenarnya memang aku mempunyai banyak keterangan mengenai diriku, tetapi sebaiknyalah kalau keterangan-keterangan itu aku berikan khusus untuk Bapak Demang, tidak di hadapan orang banyak. Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui umum.” Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu mempunyai akibat yang kurang baik. Orang yang tinggi besar itu, yang sebenarnya bernama Baureksa, dan bertugas sebagai kepala penjaga keamanan Kademangan Prambanan, merasa sangat tersinggung. Ia merasa direndahkan oleh orang asing itu, dengan mengesampingkannya dari pembicaraan. Karena itu ia membentak dengan suaranya yang lantang. “Apa perlunya Kakang Demang meladeni orang semacam kau? Sekarang saja kau bicara.” Perlakuan orang itu sebenarnya sudah keterlaluan. Tetapi Mahesa Jenar masih berusaha untuk menahan diri, dan menjawab dengan baik. “Apa yang perlu kau ketahui telah aku katakan.” “Belum cukup,” jawab Baureksa semakin marah. “Apa yang akan kau katakan kepada kakang Demang?” Mahesa Jenar memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia dapat menerima permintaan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat menyakiti hati bawahannya yang merupakan tulang punggung kademangannya. Memang, Demang tua itu sendiri sering merasa tidak senang akan sikap Baureksa. Tetapi orang ini terlalu berpengaruh karena kehebatannya. Malahan pernah terpikir olehnya untuk suatu waktu memberi pelajaran sedikit kepada Baureksa, sebab meskipun usianya telah lanjut tetapi ia masih merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi hal yang demikian akan tidak baik pengaruhnya terhadap rakyat yang justru sekarang memerlukan perlindungan dari bahaya yang setiap saat dapat mengancam. Dan tiba-tiba saja ia mendapat suatu pikiran baik. Menilik tubuh, sikap dan gerak-gerik Mahesa Jenar, orang tua yang sudah banyak pengalaman itu segera mengenal, bahwa Mahesa Jenar bukan orang yang pantas direndahkan. Ia tersenyum dalam hati karena pikiran itu. “Lalu bagaimanakah sebaiknya Baureksa?” tanya Demang tua itu. Sikap Baureksa semakin garang. Ia merasa bahwa demangnya akan menyerahkan segala sesuatu kepadanya. “Orang itu harus berkata sebenarnya,” katanya. “Kalau tidak mau?” pancing Demang itu. “Dipaksa!” jawab Baureksa tegas-tegas. Dan jawaban ini memang diharapkan sekali oleh demang tua itu. “Bagus… terserah kepadamu. Yang lain sebagai saksi atas apa yang terjadi,” katanya. Keadaan berubah menjadi tegang. Tak seorangpun mengerti maksud dari kepala daerahnya itu. Sebenarnya orang-orang itu sama sekali tak menghendaki kejadian-kejadian semacam itu, sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar adalah orang yang sopan dan baik. Kalau sekali Baureksa sudah bertindak, biasanya tak dapat dikendalikan lagi. Dan orang yang diperiksanya biasanya kesehatannya tak dapat pulih kembali. Tetapi tak seorang pun yang berani menghalang-halanginya sifat-sifatnya yang mengerikan itu. Apalagi kalau orang itu benar-benar pegawai istana, maka apakah kiranya yang akan terjadi?. Berbeda sekali dengan pikiran menjadi gembira seperti anak-anak yang mendapat mainan. Meskipun ia juga mempunyai otak, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik. Adatnya keras dan lekas marah. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, pada waktu terjadi huru hara, dan ia tidak mampu untuk mengatasinya. Maka sekarang ia ingin mengembalikan kepercayaan rakyat atas kehebatannya dengan menumpahkan segala dendamnya kepada orang asing itu. Tetapi untuk itu ia tidak akan segera turun tangan sendiri. Ia ingin melihat dahulu sampai dimana kekuatan barang mainannya. Sebab bagaimana tumpulnya otak Baureksa, namun ia masih juga melihat suatu kemungkinan yang ada pada calon korbannya. Sebaliknya Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Cepat ia dapat menangkap maksud Demang tua yang bijaksana itu dengan menangkap pandangan matanya. “Permainan berbahaya. Demang tua itu sama sekali belum mengenal aku, sebaliknya aku pun belum mengenal orang macam Baureksa itu,” pikir Mahesa Jenar. Tetapi bagaimana pun, Mahesa Jenar terpaksa melayaninya kalau ia tidak mau menjadi bulan-bulanan celaka. “Gagak Ijo…!” tiba-tiba terdengar Baureksa berteriak keras-keras. Dan orang yang dipanggilnya Gagak Ijo itu dengan gerak yang cekatan meloncat ke hadapan Baureksa. Gagak Ijo yang nama sebenarnya adalah Jagareksa adalah seorang pembantu, bahkan tangan kanan Baureksa. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menjorok keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya. “Suruh orang itu bicara,” perintah Baureksa. “Bicara tentang apa Kakang?” tanya Gagak Ijo. Mendengar pertanyaan itu, Baureksa memaki keras-keras, “Bodoh kau. Suruh dia bicara, di mana rumahnya, di mana gerombolannya, dan suruh dia katakan kapan gerombolannya akan datang lagi untuk menculik gadis.”- Gagak Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah tahu tugasnya. Memeras keterangan dari orang asing itu. Perlahan-lahan Gagak Ijo memutar tubuhnya, menghadap Mahesa Jenar. Sebentar ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan pula ia mendekati korbannya. Suasana menjadi bertambah tegang. PERISTIWA semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi. “Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Ijo dengan garangnya. Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit. “Siapa namamu?” Pertanyaan yang pertama ini mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak menduga bahwa dari mulut orang itu akan keluar pertanyaan yang demikian. Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Mahesa Jenar menjawab dengan tenangnya. “Namaku Mahesa Jenar.” Rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Ijo, apalagi Baureksa. “Bagus…” dengus Gagak Ijo. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Mahesa Jenar.” Gagak Ijo lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Mahesa Jenar tenang bukan kepalang. Dan ini sangat menjengkelkannya. “Kau sudah dengar perintah kakang Baureksa? Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.” “Tak ada yang akan aku katakan,” jawab Mahesa Jenar. Gagak Ijo terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keras. “Bicaralah!” Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak usah memaksamu.” Mahesa Jenar kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Ijo yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Ijo marah. “Baiklah aku berkata, bahwa rumahku adalah jauh sekali seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak Demang tadi. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis.” Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya orang asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum. Sebaliknya Gagak Ijo menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Baureksa. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Mahesa Jenar yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Mahesa Jenar. Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Ijo itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Ijo, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar. Tetapi gerakan ini bagi Mahesa Jenar adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Mahesa Jenar tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Mahesa Jenar telah dapat menghindari terkaman Gagak Ijo itu. Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Ijo menjadi kehilangan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Ijo. Tetapi Mahesa Jenar tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Ijo dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung Gagak Ijo dengan arah yang sama. Gagak Ijo yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah. Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Ijo. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Ijo itu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi. Tetapi dengan demikian Mahesa Jenar tambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Ijo adalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Ijo akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Ijo sendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali. Tokoh seperti Gagak Ijo dengan bulat-bulat terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala. Seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan. Tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta. Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati. Dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Gagak Ijo dapat berdiri tegak kembali, Mahesa Jenar telah membalas menyerang dadanya. Tetapi Gagak Ijo cukup waspada. GAGAK IJO membuat gerakan setengah lingkaran ke belakang untuk menghindari serangan Mahesa Jenar. Bersamaan dengan itu, kakinya menyambar tangan Mahesa Jenar. Mahesa Jenar cepat-cepat menarik serangannya, dan secepat itu pula tangannya yang lain menyentuh kaki Gagak Ijo itu ke atas. Sekali lagi Gagak Ijo kehilangan keseimbangan, dan kali ini ia jatuh terlentang. Dengan gugup Gagak Ijo berguling dan kemudian berusaha tegak kembali. Sementara itu Mahesa Jenar telah jemu dengan permainan ini. Ia ingin segera mengakhirinya. Maka ketika Gagak Ijo hampir berhasil menegakkan dirinya, seperti sambaran kilat telapak tangan Mahesa Jenar melekat di dada Gagak Ijo. Meskipun Mahesa Jenar hanya mempergunakan tenaga dorong yang tidak seberapa, tetapi akibatnya hebat sekali. Nafas Gagak Ijo mendadak serasa berhenti, dan pandangannya menjadi kuning berkunang-kunang. Meskipun dengan susah payah, ia mencoba untuk menahan diri, tetapi perlahan-lahan ia terjatuh kembali. Ia terduduk di tanah dengan nafas tersenggal-senggal, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk menahan berat badannya. Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Gagak Ijo termasuk orang yang dikagumi di desa itu. Tetapi Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat menjatuhkannya. Ilmu macam apakah yang dimilikinya? Belum lagi mereka sempat berpikir lebih banyak, mereka dikejutkan oleh gertak Baureksa yang gemuruh seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Gagak Ijo, orang kepercayaannya dipermainkan orang asing itu, hatinya menjadi panas. Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was. Ternyata orang yang dianggapnya barang mainan itu, adalah barang mainan yang mahal. Itulah sebabnya maka sebelum mengadu tenaga, Baureksa akan berusaha untuk mengurangi kegesitan lawannya dengan melukainya lebih dahulu. Cambuknya yang besar dan panjang dengan potongan-potongan besi, batu dan tulang-tulang itu diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing. Mahesa Jenar kini harus benar-benar waspada. Suara yang berdesing-desing itu sedikit-banyak dapat menunjukkan kira-kira sampai di mana kekuatan Baureksa. Hanya apakah Baureksa dapat mempergunakan kekuatan serta tenaganya dengan baik, itulah yang masih perlu diuji. Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat Baureksa akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya Mahesa Jenar dapat menyelamatkan diri. Cambuk Baureksa yang berputar-putar itu, cepat sekali menyambar leher Mahesa Jenar, tetapi secepat itu pula Mahesa Jenar membungkuk menghindari, sehingga cambuk itu tidak mengenai sasarannya. Baureksa yang merasa serangannya gagal menjadi semakin marah. Dengan cepat ia mengubah arah cambuknya dan dengan mendatar ia menyerang arah dada. Mahesa Jenar sadar bahwa dalam jarak yang agak jauh sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan cambuk Baureksa yang cukup cepat dan keras. Karena itu sebelum cambuk Baureksa sempat mengenainya, Mahesa Jenar dengan gerakan kilat meloncat maju, dekat sekali di samping Baureksa, dan menggempur tangan Baureksa yang memegang senjata itu. Gempuran itu terasa hebat sekali dan tak terduga-duga. Terasa tulang-tulang Baureksa gemertak. Perasaan sakit serta panas menyengat-nyengat, tidak hanya pada bagian yang terkena, tetapi seakan-akan menjalar sampai ke ubun-ubun. Cambuknya segera terlepas dan melontar jauh. Baureksa sama sekali tidak mengira bahwa hal yang semacam itu bisa terjadi. Karena itu sama sekali ia tak dapat memberikan perlawanan, dan membiarkan cambuknya terlontar. Mengalami hal semacam itu, meskipun terpaksa menahan sakit, Baureksa menjadi bertambah kalap. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan ingin menebus malunya dengan mematahkan leher lawannya. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga Mahesa Jenar tak dapat mengukur akibat gempurannya dengan pasti. Baureksa cepat-cepat menarik diri untuk segera bersiap-siap menyerang, sedangkan Mahesa Jenar pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Kembali Baureksa menyerang lawannya ke dua arah sekaligus. Tangan kanannya menyodok perut, sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis. Mendapat serangan ini Mahesa Jenar segera merendahkan diri serta memutar tubuh. Tetapi ketika Baureksa melihat bahwa Mahesa Jenar mencoba menghindar, segera Baureksa mengubah arah serangannya. Cepat-cepat ia menarik tangannya dan dengan satu gerakan dahsyat ia meloncat dan menendang kepala lawannya. Mahesa Jenar tidak menduga bahwa Baureksa dapat meloncat secepat itu. Karena itu ia tidak lagi sempat mengelak. Sebenarnya Mahesa Jenar masih akan menghindari bentrokan-bentrokan secara langsung, sebab sampai sekian ia masih belum dapat menjajagi sampai di mana kekuatan Baureksa yang sebenarnya. Tetapi kali ini, ia harus melawan serangan kaki Baureksa itu. Maka untuk tidak mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki atas dirinya, terpaksa Mahesa Jenar mempergunakan sebagian besar dari tenaganya yang dipusatkan pada siku tangan kanannya. Ia merendah sedikit sambil memiringkan tubuhnya. Maka, terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Baureksa dengan siku tangan Mahesa Jenar. Akibatnya hebat pula. Baureksa ternyata telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan ketika ia melihat bahwa Mahesa Jenar tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali. Tetapi dugaan itu ternyata meleset sama sekali. Ketika kaki Baureksa yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu menyentuh siku tangan Mahesa Jenar, Baureksa merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang bergemeretakan, sedangkan ia terpental oleh kekuatannya sendiri dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak hatinya bergetar, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Baureksa terbanting di tanah hingga pingsan. Demang Pananggalan, demikian nama Demang tua itu, hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu hal, dia lah yang harus bertanggungjawab. Cepat-cepat ia mendekati Baureksa yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Baureksa yang membentur siku Mahesa Jenar. Kaki itu terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak lekas-lekas mendapat pertolongan. Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan orang asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Gagak Ijo dan kemudian sekaligus Baureksa. SEMENTARA itu Baureksa dan Gagak Ijo telah diangkat orang ke dalam sambil menunggu Ki Asem Gede. Kini perhatian orang seluruhnya tertumpah kepada Mahesa Jenar yang masih belum bergeser dari tempatnya. Hanya sebentar mereka melirik juga kepada Demang Pananggalan, sambil bertanya-tanya di dalam hati, apakah seterusnya yang akan diperbuat oleh demang tua itu? Sebenarnya pada saat itu Demang Pananggalan telah mengambil keputusan untuk mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke rumah kademangan dan memberikan keterangan-keterangan. Tetapi segera keadaan menjadi tegang kembali ketika seseorang dengan langkah yang tegap dan tenang memasuki gelanggang. “Kakang Demang,” kata orang itu dengan nada yang berat berwibawa, “perkenankanlah aku memperkenalkan diri terhadap orang asing ini.” Alangkah terkejutnya Demang Pananggalan melihat orang itu memasuki gelanggang. Ia menjadi kebingungan, sebab sama sekali ia tidak menduga bahwa persoalannya akan berlarut-larut. Orang itu adalah pemimpin pasukan yang menangkap Mahesa Jenar tadi, dan ia adalah adik kandung demang tua itu. Beberapa kali adik kandungnya yang bernama Mantingan itu menyatakan ketidaksenangannya atas sikap Baureksa yang sering adigang-adigung-adiguna. Dan mendadak ia ingin membelanya. Melihat kebingungan dan keragu-raguan Demang Pananggalan, Mantingan menyambung, “Aku tidak akan membela seseorang, Kakang. Tetapi aku tidak mau orang lain menyangka betapa lemahnya kademangan ini. Kami tidak tahu siapakah orang asing itu. Syukurlah kalau ia bermaksud baik, tetapi kalau orang itu ingin menjajagi kekuatan kita, alangkah berbahayanya. Sedangkan keterangan yang diberikan bukanlah berarti suatu kebenaran yang harus kita percaya demikian saja.” “Tetapi maksudku bukan kau, Mantingan,” kata demang itu tergagap. Sebab ia tahu bahwa adiknya adalah orang yang berilmu. Ia adalah orang yang lebih hebat daripada dirinya sendiri. Ia adalah murid kedua Ki Ageng Supit di Wanakerta. Mantingan adalah seorang dalang yang secara kebetulan sedang mengunjungi kampung halamannya, yang baru saja didatangi oleh gerombolan yang menculik gadis-gadis. Dan Mantingan diminta untuk sementara tetap tinggal, kalau ada kemungkinan gerombolan penculik itu datang kembali. Tetapi saat itu Mantingan seperti tidak mendengar kata-kata kakaknya. Ia segera menyerahkan trisulanya kepada orang terdekat yang dengan gugup menerima senjata itu tanpa kesadaran. “Ki Sanak,” kata Mantingan kepada Mahesa Jenar dengan sopan, “aku belum pernah bertemu dengan kau sebelumnya dan juga belum pernah mempunyai suatu persoalan apapun. Tetapi tadi kau telah mempertunjukkan ketangkasan dan ketangguhanmu. Maka perkenankanlah aku sekarang mencoba untuk melayanimu dengan sedikit pengetahuan yang aku miliki.” Mahesa Jenar sibuk menduga-duga dalam hati. Orang ini sikapnya agak berbeda dengan orang lain yang berada di situ. Menilik sikapnya, sudah seharusnya kalau Mahesa Jenar lebih berhati-hati melawannya. “Dan sekarang,” sambung Mantingan, “awaslah… aku mulai.” Dan sesudah itu, benar-benar ia mulai menyerang. Langkahnya tetap ringan. Ia membuka serangannya dengan kaki, sedangkan kedua tangannya bersilang melindungi dada. Melihat serangan ini, Mahesa Jenar terkejut. Ia kenal gerakan pembukaan ini. Ketika orang itu dipanggil namanya, sama sekali ia tidak menduga bahwa orang itu pulalah yang berdiri di hadapannya. Bahkan sedang mengadu tenaga dengan dirinya. Ia adalah Dalang Mantingan dari Wanakerta, murid Ki Ageng Supit. Ia sering mendengar nama itu. Bahkan pernah tersebar khabar di Demak bahwa Dalang Mantingan seorang diri dapat menangkap tiga saudara perampok dari Jarakah, di kaki Gunung Merapi, yang dikenal dengan satu nama Samber Nyawa. Gerak pembukaan ini jelas berasal dari Ki Ageng Supit, yang meskipun belum setaraf dengan gurunya tetapi Ki Ageng Supit juga mempunyai nama yang dikagumi. Tetapi Mahesa Jenar tidak sempat berpikir banyak. Sebab ia segera sibuk melayani lawannya, yang bergerak menyambar-nyambar dengan gerakan-gerakan yang cukup tangguh. Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat hanya bersikap mengelak dan menghindar saja. Ia tidak bisa hanya bersikap mempertahankan diri saja. Untuk mengurangi kebebasan gerak lawannya, ia harus ganti menyerang. Serangan Ki Dalang Mantingan semakin lama menjadi semakin hebat pula. Tangannya bergerak-gerak dengan cepat dibarengi gerak kakinya yang ringan cekatan. Sekali tangan Mantingan itu sudah berubah menyambar kening. Tetapi Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja, dan ia adalah murid Pangeran Handayaningrat yang juga disebut Ki Ageng Pengging Sepuh. Untuk melawan Mantingan, sengaja Mahesa Jenar mempergunakan tanda-tanda khusus dari perguruannya, sebab jelas bahwa perguruannya mempunyai beberapa persamaan dengan gerak-gerak yang dilakukan oleh Mantingan. Segera Mantingan pun dapat pula mengenal tata berkelahi Mahesa Jenar yang juga seperti ilmunya sendiri, mempunyai sumber yang sama. Yaitu peninggalan almarhum Bra Tanjung, yang diwarisi oleh Raden Alit yang sedikit bercampur dengan gerak-gerak penyerangan yang mantap dari Lembu Amisani. Tetapi yang ia tidak tahu dari manakah Mahesa Jenar mempelajari tata berkelahi itu, yang memiliki banyak perubahan dan penyempurnaan-penyempurnaan dengan gabungan-gabungan yang tepat dan berbahaya. Itulah sebabnya Mantingan harus berhati-hati benar dan memeras segala kepandaiannya untuk memenangkan pertandingan ini. KETIKA Mantingan berhasrat untuk cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini, ia memusatkan segala tenaga dan pikiran untuk kemudian sebagai angin ribut melanda lawannya. “Hebat …!” pikir Mahesa Jenar ketika ia menerima serangan bertubi-tubi dari Mantingan. “Memang perguruan Wanakerta memiliki keistimewaan yang tak dapat diabaikan.” Kemudian terpaksa ia membuat beberapa langkah surut. Tetapi Ki Dalang Mantingan tidak menyia-nyiakan tiap kesempatan. Cepat ia maju dengan melancarkan gempuran-gempuran hebat. Rupa-rupanya Ki Dalang Mantingan menjadi agak gusar ketika serangan serangannya tidak segera dapat mengenai lawannya, bahkan lawannya itu dapat pula mendesaknya. Karena itu gerakan-gerakan serta serangan-serangannya menjadi bersungguh-sungguh. Ia tidak mau mengorbankan namanya seperti Gagak Ijo dan Baureksa. Demang Panggalan menjadi semakin cemas dan bingung. Ia tidak menghendaki orang asing yang belum diketahuinya benar-benar asal-usulnya itu mendapat cedera, sebab tidak mungkin ia berdiri sendiri. Apalagi kalau benar-benar ia orang Istana Demak. Tetapi disamping itu, Demang Pananggalan sangat sayang kepada adiknya, dan ia sama sekali tidak rela kalau adiknya mengalami hal-hal yang tidak diharapkan, baik tubuhnya maupun namanya. Sementara itu pertarungan menjadi semakin sengit. Serangan-serangan Mantingan menjadi semakin dahsyat dan ia sudah hampir kehilangan pengamatan diri sehingga geraknya tak terkekang lagi. Ketika serangannya yang dilancarkan dengan kedua tangannya sekaligus mengarah ke sasaran yang berbeda dapat dihindari oleh Mahesa Jenar, cepat ia mengubah serangan itu dengan serangan berikutnya, dengan kaki yang mengarah ke perut Mahesa Jenar. Melihat perubahan itu Mahesa Jenar terpaksa meloncat mundur. Tetapi Mantingan rupa-rupanya sudah bertekad untuk memenangkan pertempuran itu dengan segera. Maka, demikian Mahesa Jenar meloncat mundur, disusulnya pula dengan kaki yang lain setelah ia memutarkan tubuhnya setengah lingkaran atas kaki yang pertama. Rupa-rupanya Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa serangan-serangan Mantingan akan sedemikian bertubi-tubi datangnya, sehingga terasalah tumit Mantingan mengenai pinggangnya. Gempuran ini demikian hebat sehingga tubuh Mahesa Jenar bergetar dan hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Meskipun tubuh Mahesa Jenar sudah cukup terlatih serta mempunyai daya tahan yang kuat, namun terasa juga bahwa tumit yang mengenai pinggangnya itu menimbulkan rasa sakit. Kena tendangan ini, hati Mahesa Jenar menjadi agak panas juga. Karena itu ia berketetapan hati untuk melayani Ki Demang Mantingan dengan lebih bersungguh-sungguh lagi. Maka segera geraknya berubah menjadi semakin cepat dan keras. Ia membalas setiap serangan dengan serangan pula. Dan ia sama sekali tidak mau tubuhnya disakiti oleh lawannya lagi. Ki Dalang Mantingan terkejut melihat perubahan tendangan lawannya. Maka segera ia sadar bahwa orang yang dilawannya itu berilmu tinggi. Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur. Satu-satunya kemungkinan baginya adalah, lawannya menghendaki pertempuran itu akan berlangsung mati-matian. Dan memang sebenarnyalah demikian. Serangan-serangan Mahesa Jenar berikutnya datang bertubi-tubi seperti ombak yang bergulung-gulung menghantam pantai. Bagaimanapun kukuhnya batu-batu karang tebing, namun akhirnya segumpal demi segumpal berguguran jatuh juga ke laut. Dalang Mantingan mengeluh di dalam hati. Sebagai seorang yang telah banyak mempunyai pengalaman, ia merasa bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih tinggi. Dan yang kemudian terjadi adalah, Ki Dalang Mantingan mulai tampak terdesak. Bagaimanapun ia berusaha, kini ia terpaksa untuk bertahan saja. Ia sama sekali tidak berkesempatan untuk menyerang. Bahkan beberapa kali ia telah dapat dikenai oleh lawannya, meskipun tidak di tempat-tempat yang berbahaya. Tubuh Mantingan terasa nyeri sekali. Meskipun demikian ia bukanlah Mantingan kalau sampai ia menyerah. Demang Pananggalan semakin kebingungan. Ia segera melihat kesulitan adiknya. Bagaimanapun, ia mempunyai perasaan tidak rela melihat hal yang demikian itu berlangsung. Mantingan yang dibangga-banggakan seluruh penduduk Kademangan, sekarang akan dikalahkan oleh orang asing di hadapan penduduknya sendiri. Karena itu hampir di luar sadarnya ia meloncat maju. Meskipun umurnya sudah lanjut dan tidak sekuat Mantingan, namun karena pengalamannya maka Demang tua ini nampaknya berbahaya juga. Langsung ia menyerang Mahesa Jenar dengan gerakan-gerakan yang tak terduga-duga untuk mengurangi tekanannya pada Mantingan. Maka segera Mahesa Jenar menjadi sibuk berpikir, apakah maksud yang sebenarnya dari Demang tua ini. Penduduk yang mengitari pertarungan itu dengan asyiknya menyaksikan gerak masing-masing dengan keheran-heranan, sebagai suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya. Mendadak mereka terkejut sekali melihat Demang terjun langsung ke arena. Mereka serentak merasa bangun dari sebuah mimpi yang dahsyat. Dalam hal yang demikian, bagaimanapun hebatnya lawan, mereka merasa wajib membela pemimpin mereka meskipun harus menyerahkan nyawanya. Serentak mereka menggenggam senjata masing-masing makin erat. Sedangkan beberapa orang yang berdiri di baris paling depan sudah mulai bergerak. Mahesa Jenar segera melihat kesulitan yang bakal datang. Karena itu ia semakin waspada. Ia mulai menghimpun kekuatan-kekuatannya untuk membuat gempuran-gempuran terakhir, meskipun hal itu dilakukan dengan berat hati. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa ia harus terlibat dalam masalah yang sama sekali tak diketahui sebab-sebabnya. Tetapi bagaimanapun, ia tidak mau dijadikan bulan-bulanan dari peristiwa-peristiwa yang tak diketahui ujung- pangkalnya itu. Tiba-tiba ketika keadaan sudah sedemikian memuncaknya, halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan nyaring. “Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, apa yang terjadi?” Teriakan yang dilontarkan sepenuh tenaga itu bergetar memenuhi halaman Kademangan, sehingga semuanya terkejut karenanya. Dan pertarungan itu pun segera terhenti. Ternyata yang berteriak itu adalah Ki Asem Gede, yang datang untuk mengobati Baureksa dan Gagak Ijo. “Apa yang terjadi …?” ulangnya. Perlahan-lahan matanya memandang berkeliling, ke wajah-wajah yang berdiri di sekitar halaman itu, kemudian dipandanginya wajah Mantingan dan Demang Pananggalan dengan matanya yang bening, sehingga membawa pengaruh yang sejuk. Alangkah damainya hati seorang yang mempunyai wajah dan mata yang begitu lunak. Umurnya sudah lanjut, dan hampir seluruh rambutnya sudah putih. KI Asem Gede berjalan perlahan mendekati Mahesa Jenar. Lalu membungkuk dengan hormatnya. “Anakmas, apa yang terjadi?” tanyanya, dan kemudian ia menoleh kepada Demang Pananggalan dan Ki Dalang Mantingan “Apa yang terjadi?” ulangnya kembali. Demang Pananggalan merasa sulit untuk memberi jawaban. Memang ia sendiri bertanya kepada dirinya, kenapa ini sampai terjadi? Ketika Pananggalan tidak segera menjawab, Ki Asem Gede kembali memandang kepada Mahesa Jenar. Matanya hampir tiada berkedip, seakan-akan ia masih belum yakin kepada penglihatannya. Ketika ia memasuki halaman itu, dan melihat pertarungan yang sengit, hatinya tersirap. Ia pernah melihat orang yang bertempur melawan Demang Pananggalan kakak-beradik. Ia merasa pernah bertemu dengan orang itu di Demak, ketika ia bersama-sama dengan kakaknya, yang juga seorang ahli obat-obatan, memenuhi panggilan Panji Danapati, untuk mengobati anaknya yang sakit. “Anakmas…” katanya kemudian, “bolehkah aku ini, orang tua yang tak berharga menanyakan sesuatu kepada anakmas?” Melihat wajah orang tua itu, hati Mahesa Jenar menjadi lunak seketika, bahkan ia agak malu kepada diri sendiri yang masih sedemikian mudahnya terbakar oleh nafsu. “Silahkan, Bapak…” jawabnya. “Apakah kiranya yang ingin Bapak ketahui?” “Maafkanlah orang tua ini,” kata orang tua itu selanjutnya sambil menatap Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. “Maafkan aku, kalau aku berani mengatakan bahwa aku pernah bertemu dengan Anakmas di Demak.” Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia mulai mengingat-ingat, apakah ia benar-benar pernah bertemu dengan orang itu. “Aku pernah datang ke Demak,” sambung Ki Asem Gede, “bersama-sama dengan kakakku, untuk mencoba menyembuhkan sakit putera Panji Danapati, salah seorang perwira dari perajurit pengawal raja.” Mendengar kata-kata Ki Asem Gede, tiba-tiba Mahesa Jenar jadi teringat pertemuannya dengan orang tua itu. Pada saat itu ia sedang berkunjung ke rumah kawan sepasukan yang pada saat yang bersamaan sedang memanggil dua orang tua untuk mengobati anaknya yang sedang sakit. Dan ia jadi teringat, bahwa salah seorang dari kedua orang itu, adalah yang sekarang berdiri di hadapannya. “Di sana…” Ki Asem Gede melanjutkan, “aku bertemu pula dengan seorang perwira lain, kawan Panji Danapati itu. Kenalkah Anakmas dengan Panji Danapati?” Mahesa Jenar agak ragu, tetapi perlahan-lahan ia mengangguk juga. “Nah…” kata orang tua itu pula, “kalau begitu aku tidak salah lagi, Anakmaslah yang aku jumpai di ndalem Danapaten. Benarkah?” Mahesa Jenar masih saja ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin melupakan saja apa yang pernah terjadi. Meskipun sebenarnya ia masih ingin mengabdikan diri kepada negerinya, tetapi dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga, saudara seperguruannya, lebih baik ia menyingkirkan diri, dan mencari cara pengabdian yang lain. Juga penegasan tentang dirinya akan mempermudah setiap usaha untuk menangkapnya, apabila ia dianggap berbahaya seperti Ki Kebo Kenanga. Ia tidak ingin kalau sampai terjadi bentrokan dengan orang-orang yang sedang menjalankan kewajibannya, serta,kawan-kawan seperjuangannya dahulu. Maka lebih baik baginya untuk menjauhkan diri saja dari setiap kemungkinan itu. Tetapi sekarang ia tidak dapat mengingkari pertanyaan orang tua itu. Karena itu, kembali Mahesa Jenar mengangguk lemah. Oleh anggukan itu, tiba-tiba Ki Asem Gede membungkuk lebih hormat lagi dan dengan suaranya yang lembut ia berkata, “Kalau begitu Anakmas ini adalah tuanku Rangga Tohjaya.” Perkataan Ki Asem Gede itu seperti petir datang menyambar telinga Ki Dalang Mantingan serta Demang Pananggalan. Ia pernah mendengar nama itu, bahkan nama itu terlalu besar untuk disebut-sebut sebagai seorang pahlawan yang sudah mengamankan Demak dari gangguan-gangguan kejahatan. Mahesa Jenar sendiri agak terkejut juga mendengar nama itu disebutkan. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada mengiyakan. Sebab Ki Asem Gede itu pasti pernah mendengarnya dari Panji Danapati, bahwa ia sebagai seorang perwira pengawal raja, disamping namanya sendiri mendapat gelar Rangga Tohjaya. Demang Pananggalan dan Ki Demang Mantingan masih berdiri termangu-mangu. Mereka masih belum yakin benar akan kata-kata Ki Asem Gede, sampai Ki Asem Gede menyapanya. “Adi Pananggalan dan Adi Mantingan, belumkah adi berdua pernah mendengar nama itu?” Mereka berdua tersadar oleh sapa itu. Dengan hati-hati Demang Pananggalan mencoba bertanya, “Ki Asem Gede, aku memang pernah mendengar gelar itu serta kebesarannya, tetapi aku belum mengenal wajahnya, karena aku orang yang picik dan sama sekali tak berarti. Tetapi perkenankanlah aku bertanya bahwa beliau tadi berkenan menyebut gelarnya dengan Mahesa Jenar …?” Ki Asem Gede tertawa lirih. “Benar Adi berdua, Mahesa Jenar adalah namanya, sedang gelarnya sebagai seorang prajurit adalah Rangga Tohdjaja.” Hati Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan berdegup keras. Tetapi pandangan mata mereka masih mengandung seribu macam pertanyaan, sehingga akhirnya Mahesa Jenar sendiri mengambil keputusan untuk mengatakan keadaannya yang sebenarnya sebagai suatu hal yang tak mungkin lagi diingkari. “Bapak Demang dan Kakang Mantingan, memang sebenarnyalah aku yang bernama Mahesa Jenar, telah menerima anugerah nama sebagai seorang prajurit, Rangga Tohjaya.” Mendengar penjelasan itu detak jantung Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan serasa akan berhenti. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa mereka telah berhadap-hadapan dengan seorang yang sakti. Untunglah bahwa segala sesuatunya belum terlanjur. Kalau sampai terjadi Rangga Tohjaya mengeluarkan segala kesaktiannya maka sulitlah bagi mereka semua untuk dapat keluar dari halaman itu dengan masih bernafas. Seperti digerakkan oleh satu tenaga penggerak, Dalang Mantingan dan Demang Pananggalan cepat-cepat melangkah maju ke hadapan Mahesa Jenar, dan bersama-sama membungkuk hormat. Dengan agak terputus-putus karena berbagai perasaan yang berdesakan di dada, Demang Pananggalan berkata, “Kami mohon ampun ke hadapan Anakmas Rangga Tohjaya, bahwa kami telah berbuat suatu kesalahan yang besar sekali. Serta mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas kemurahan Anakmas yang tidak sekaligus menghabisi jiwa kami. Dan sekarang kami menjerahkan diri untuk menerima segala hukuman yang seharusnya kami jalani.” MAHESA Jenar terharu juga melihat Demang tua itu ketakutan. Sejak semula ia sudah menduga bahwa Demang tua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya. Hanya karena perkembangan keadaan saja maka semuanya itu terjadi. Bahkan mungkin di luar dugaan Demang tua itu sendiri. Maka berkatalah Mahesa Jenar, “Bapak Demang Pananggalan dan Kakang Mantingan, tak ada sesuatu yang harus aku maafkan. Yang sudah terjadi tak perlu disesali. Yang perlu, sekarang silahkan Ki Asem Gede mengobati kedua orang-orangmu yang terluka. Tetapi percayalah, aku sama sekali tidak bermaksud untuk melukainya benar-benar.” Kembali Demang Pananggalan dan Mantingan mengagguk hormat, lalu mereka mempersilahkan Mahesa Jenar masuk ke Kademangan. Orang-orang yang berada di halaman menyaksikan semuanya itu dengan keheran heranan. Mereka yang pernah mendengar nama Rangga Tohjaya dan pernah mendengar kesaktiannya, segera bercerita dengan suara yang berderai derai, seakan akan dengan mengenal nama itu mereka sudah terhitung orang yang terkemuka dalam kalangan kepahlawanan. Sementara itu Ki Asem Gede sudah mulai melakukan kewajibannya. Ternyata luka Gagak Ijo dan Baureksa tidak ringan. Beberapa kali mereka tak sadarkan diri. Untung Ki Asem Gede segera turun tangan. Kalau sampai terlambat satu malam saja, mungkin mereka sudah tak tertolong lagi. Kecuali itu, ternyata Ki Dalang Mantingan juga mengalami cedera. Beberapa bagian tubuhnya tidak bekerja seperti biasa dan di beberapa bagian yang terkena serangan Mahesa Jenar tampak membengkak dan kemerah-merahan. Untunglah, daya tahan tubuh Mantingan cukup kuat sehingga Ki Asem Gede tidak perlu bekerja terlalu keras untuk menolongnya. Ketika keadaan sudah agak reda, dan Ki Asem Gede sudah tidak sibuk lagi, duduklah mereka di atas bale-bale besar di pendapa Kademangan, mengelilingi lampu minyak yang nyalanya bergoyang-goyang diayun-ayunkan angin. Di luar, gelap malam mulai turun sebagai tabir raksasa berwarna hitam kelam. Sedangkan di langit satu demi satu bintang mulai bercahaya menembus hitamnya malam. Mereka mulai berbicara dan bercerita tentang diri masing-masing. Mahesa Jenar tidak lagi menyembunyikan sesuatu. Diceritakannya seluruh masalah mengenai dirinya, kenapa ia sampai meninggalkan Demak. “Aku telah menanggalkan pakaian keprajuritan dan telah menyisihkan segala macam senjata, dengan suatu keinginan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi rupa-rupanya Tuhan sendiri belum berkenan, sehingga aku masih dikendalikan oleh nafsu,” kata Mahesa Jenar. Semuanya yang mendengarkan mengangguk-anggukan kepala, dan mereka merasa juga bersalah, sehingga Mahesa Jenar terpaksa menyesali dirinya. Sementara itu mulailah hidangan mengalir. Demang Pananggalan yang merasa telah menyakiti hati Mahesa Jenar, ingin sedikit mengurangi kesalahannya dengan menghidangkan apa yang mungkin dihidangkan pada saat itu. Sedangkan Ki Asem Gede, kecuali seorang yang bijaksana serta mempunyai ilmu obat-obatan, ternyata juga seorang yang jenaka. Banyak hal yang dapat ia ceritakan tentang dirinya dengan lucu sekali, sehingga suasana menjadi meriah dan akrab. Diceritakan, bagaimana ia terpaksa sekali mengobati seorang yang sakit, hanya dengan air saja, tanpa ramu-ramuan obat yang lain. Sebab, pada saat itu ia sedang berada dalam perjalanan dan tak membawa obat-obatan yang diperlukan. “Tetapi… tiga hari kemudian orang itu datang kepadaku, dengan membawa empat ikan gurameh sebesar penampi, sebagai ucapan terima kasih atas obat-obatku yang mujarab,” kata Ki Asem Gede. “Sebabnya,” sambung Ki Asem Gede, kenapa obat-obatku banyak yang dapat berhasil, adalah sebagian besar dari mereka yang aku obati mempunyai kepercayaan kepadaku. Bahwa seseorang yang menderita sakit merasa berbesar hati, adalah merupakan obat yang banyak menolongnya. Lebih daripada itu, semuanya adalah berkat kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi… —suara Ki Asem Gede terputus—. Mereka yang mendengarkan jadi bertanya-tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba saja wajah Ki Asem Gede yang cerah menjadi muram? Beberapa kali ia menelan ludah, seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya. “Tetapi…” ulang Mahesa Jenar yang ingin mendengar kelanjutan ceritera Ki Asem Gede itu. “Ah tak apalah,” tukasnya. “Segala sesuatu ada pengecualiannya. Sebagai seorang yang beratus bahkan beribu kali menyembuhkan orang sakit, maka sekali-kali Tuhan tak memperkenankan juga. Itu adalah suatu bukti akan kebesaran-Nya,” lanjut Ki Asem Gede. Mahesa Jenar maklum bahwa ada sesuatu yang tak mau ia sebutkan. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut. “Nah… Anakmas…” sambung Ki Asem Gede kemudian, sambil berusaha untuk mengembalikan suasana, “kenapa tidak saja Anakmas berceritera tentang apa yang Anakmas jumpai di perjalanan. Tidakkah Anakmas menjumpai kejadian kejadian yang lucu, misalnya, seperti yang terjadi di sini? Seorang seperti Adi Pananggalan dan Adi Mantingan berlagak sebagai seorang sakti.” Mendengar pertanyaan ini Mahesa Jenar tersenyum, demikian juga Demang Pananggalan dan Dalang Mantingan, meskipun kalau teringat akan hal itu, hati mereka masih tergetar. KARENA pertanyaan itu, Mahesa Jenar teringat akan keperluannya datang ke desa itu. Yaitu, ingin mengetahui jawaban teka-teki tentang adanya kerangka yang dijumpainya di puncak Gunung Ijo. “Ki Asem Gede, Bapak Demang Pananggalan serta Kakang Mantingan. Memang sebenarnya ada aku jumpai sesuatu dalam perjalananku yang ingin aku tanyakan. Itulah sebabnya maka aku datang kemari.” Ketika Mahesa Jenar tampaknya bersungguh-sungguh, maka mereka yang mendengarkanpun menjadi bersungguh-sungguh pula. “Di puncak Gunung Ijo,” sambung Mahesa Jenar, “aku jumpai sesuatu yang mencurigakan. Alat-alat minum yang berserak-serakan. Bekas unggun api. Dan yang paling mengherankan adalah adanya batu-batu yang disusun sebagai suatu tempat untuk sesaji, sedangkan di atasnya terdapat kerangka perempuan. Dan tidak jauh dari tempat itu, aku ketemukan pula kerangka yang lain. Juga seorang perempuan.” Mendengar pertanyaan itu Demang Pananggalan menundukkan muka dalam-dalam. Ki Asem Gede mengerutkan dahinya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis ketuaannya, sedangkan Dalang Mantingan menarik nafas dalam-dalam. Melihat keadaan itu maka makin nyatalah bagi Mahesa Jenar bahwa daerah ini pasti langsung mengalami bencana yang bertalian dengan peristiwa Gunung Ijo. “Anakmas…” jawab Ki Demang Pananggalan dengan suara yang dalam. “Akulah orangnya, kalau ada orang tua yang sama sekali tak berguna.” Ia berhenti sebentar menelan ludah, lalu sambungnya, “Apalagi aku sebagai seorang Demang, yang seharusnya dapat memberikan perlindungan kepada rakyatku. Tetapi nyatanya aku sama sekali tak mampu berbuat demikian.” Kembali Demang tua itu berhenti berbicara. Matanya memandang jauh menusuk gelapnya malam. Di halaman, beberapa orang masih duduk berkelompok-kelompok sambil berceritera tentang kehebatan pertarungan siang tadi. Demang Pananggalan mengeser duduknya sedikit. Matanya masih menembus gelap, seolah-olah ada yang dicarinya di kegelapan itu. Tetapi rupa-rupanya ia ingin melanjutkan ceriteranya. Ki Demang pun meneruskan ceritanya. “Ketika itu, di daerah ini lewat serombongan orang-orang berkuda. Didesa ini mereka berhenti dan minta untuk menginap barang semalam. Mereka memasuki desa ini menjelang senja. Karena tak ada tanda-tanda yang aneh pada mereka, serta sikap pimpinannya yang ramah maka kami tak dapat menolak permintaan itu. Rombongan itu dipimpin oleh dua orang suami-isteri yang akan mengadakan ziarah ke Gunung Baka. Tetapi ketika malam pertama telah lewat, mereka minta untuk diperkenankan bermalam semalam lagi sambil melepaskan lelah dan mengadakan persiapan-persiapan untuk sesaji. Permintaan ini pun tak dapat aku tolak.” Sekali lagi ia berhenti. Rupa-rupanya ia sedang mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Kemudian ia kembali menyambung ceritanya. “Tetapi terkutuklah mereka. Terkutuklah rombongan orang-orang berkuda itu. Pada malam kedua mereka menangkap seorang gadis yang sedang pergi ke sungai. Gadis ini sempat menjerit, dan seorang yang baru pulang dari mengairi sawahnya dapat menyaksikan peristiwa itu. Pengantar gadis itu, seorang pemuda tanggung dipukulinya sampai pingsan.” Maka ketika hal itu disampaikan kepada kami, meledaklah amarah kami. Segera Banjar Kademangan yang kami sediakan sebagai tempat penginapan mereka, kami kepung rapat-rapat. Mereka segera kami ancam untuk menyerah. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan kami. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiran kami, orang-orang hampir seluruh desa ini. Ketika kami mendengar gadis itu menjerit, hati kami tak tahan lagi. Cepat-cepat kami menyerbu masuk. Tetapi rupa-rupanya mereka telah siap menanti kedatangan kami. Dan segera terjadilah pertempuran. Orang-orang kami lebih banyak dikendalikan oleh kemarahan yang meluap-luap, daripada kesediaan untuk bertempur. Apalagi rombongan berkuda itu ternyata terdiri dari orang-orang yang tangguh. Maka lenyaplah segala kesan keramah-tamahan mereka. Bahkan tampaklah betapa dahsyat cara mereka menjatuhkan lawan. Beberapa saat pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya, tetapi segera tampak betapa lemahnya kami. Segera orang-orang kami dapat dihantam dan dicerai-beraikan. Aku tidak lagi dapat berpikir lain daripada bertempur mati-matian. Dan aku beserta Baureksa dan Gagak Ijo sebagai orang-orang yang paling dapat dipercaya pada waktu itu, berhasil menerobos masuk ke banjar, sehingga kami bertiga langsung terlibat dalam perkelahian melawan suami-istri pemimpin gerombolan itu. Mungkin terdorong oleh kemarahanku maka terasa seolah-olah tenagaku menjadi berlipat-lipat. Si istri itu pun ternyata mempunyai ilmu yang tinggi, ditambah lagi betapa kasarnya cara mereka bertempur. Si Suami menerkam dan mengaum seperti harimau, sedangkan si isteri menyerang dengan jari-jari yang dikembangkan. Wajah-wajah mereka yang ramah itu sekarang sudah berubah menjadi wajah-wajah iblis yang menakutkan. Tetapi aku sama sekali tidak peduli. Mungkin saat itu, akupun berkelahi seperti iblis. Tetapi kemudian ternyata bahwa kami bertiga bukanlah lawan mereka. Apalagi tenagaku adalah tenaga orang tua yang sangat terbatas. Ketika nafasku sudah mulai mengganggu, segera aku merasa terdesak, sedangkan serangan mereka semakin lama menjadi semakin kasar.” Demang tua itu menarik nafas sambil membetulkan duduknya, kemudian ia melanjutkan, “Saat itu aku sudah berpikir bahwa rupa-rupanya ajalku sudah hampir tiba. Sebab daya tahanku semakin lama menjadi semakin lemah. Apalagi Baureksa dan Gagak Ijo sama sekali tak dapat berbuat sesuatu. Tetapi ternyata Tuhan menghendaki lain. Rupa-rupanya salah seorang telah memberitahukan kesulitan-kesulitan kami ini kepada Ki Asem Gede, yang pada saat yang tepat datang menolong kami.” Demang itu berhenti berceritera. Pandangan matanya yang suram itu dilemparkan kepada Ki Asem Gede. Lalu katanya, “Selanjutnya Ki Asem Gede-lah yang lebih mengetahuinya.” Mahesa Jenar mendengarkan cerita Demang tua itu dengan penuh perhatian. Terbayang betapa Demang tua itu telah berusaha mati-matian untuk melindungi rakyatnya, sampai ia tidak memikirkan nasibnya sendiri. Tetapi rupa-rupanya lawannya adalah orang yang perkasa. Ki Asem Gede yang diminta melanjutkan cerita itu, berkisar sedikit. Dipandangnya pelita yang nyalanya bergerak-gerak oleh angin yang berhembus ke pendapa. Ia batuk-batuk sedikit, lalu mulailah ia bercerita. “Anakmas, sebenarnya bukanlah pertolongan yang aku berikan, tetapi semata-mata hanyalah karena kebetulan saja dan terutama atas kehendak Tuhan. Aku bukanlah orang yang mempunyai kepandaian yang cukup untuk bertanding. Kalau pada masa mudaku, sekali dua kali aku pernah terlibat dalam suatu pertarungan, itu sama sekali bukan karena aku mampu melakukannya, tetapi itu hanyalah karena kebodohan dan kesombonganku yang kosong saja.” DIAM-DIAM Mahesa Jenar mengamati tubuh Ki Asem Gede yang sudah tua itu. Kulitnya sudah melipat-lipat dan hampir seluruh rambutnya, bahkan alisnya pun telah memutih seluruhnya. Namun gerak-geriknya masih tampak tanda-tanda kelincahan. Ini menandakan bahwa pada masa mudanya ia adalah seorang yang kuat. Bahkan mungkin sampai saat ini pun ia masih memiliki kekuatan itu. “Pada masa mudaku,” sambung Ki Asem Gede, “memang aku pernah berguru kepada seseorang yang dikenal dengan nama Ki Tambak Manyar.” Mendengar nama itu disebut-sebut, Mahesa Jenar terhenyak, sebab ia pernah mendengar nama itu dari almarhum gurunya bahwa almarhum Ki Tambak Manyar adalah seorang prajurit Majapahit yang tangguh. Karena itu, mau tidak mau ia harus memandang Ki Asem Gede sebagai seorang yang berilmu, baik dalam obat-obatan maupun ilmu tata berkelahi. Bahkan rupa-rupanya ia memiliki kecerdasan otak yang tidak mengecewakan pula. “Tetapi,” lanjut Ki Asem Gede, “sebagai aku katakan tadi, aku tidak banyak mendapat kemajuan. Barangkali tubuhku terlalu ringkih untuk melakukan hal-hal yang berat dan keras. Karena itu Ki Tambak Manyar melatih aku dalam hal mempergunakan senjata sebaik-baiknya. Baik jarak pendek maupun jarak jauh. Dan ini adalah suatu keuntungan. Sebab ilmu ini dapat aku berikan kepada banyak orang sekaligus meskipun tidak sedalam-dalamnya, kecuali hanya kepada satu-dua orang saja. Terutama dalam hal mempergunakan bandil, panah, supit dan sebagainya.” Orang tua itu berhenti sebentar dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia melanjutkan, “Kepandaian yang tak berarti itu ternyata berguna juga dalam suatu waktu, dimana Adi Pananggalan hampir menjadi korban keganasan orang-orang berkuda itu. Ketika aku datang, penduduk kademangan ini telah kehilangan semangat dan hampir putus-asa. Sedangkan kalau sampai terjadi penduduk daerah ini melarikan diri, akibatnya akan hebat sekali. Orang-orang berkuda itu pasti akan melakukan tindakan-tindakan yang ganas dan kotor lainnya. Karena itu, segala usaha untuk mengusir mereka itu harus dijalankan. Pada saat itulah, maka aku mengumpulkan orang-orang yang sudah ketakutan itu dan berusaha untuk membangkitkan semangatnya kembali. Aku peringatkan kepada mereka bahwa sebaiknya kita melawan orang-orang berkuda itu dari jarak jauh, sebab dengan mengadu kekuatan sudah jelas bahwa kepandaian dan keperkasaan mereka jauh di atas kita. Dengan jumlah yang banyak dan serangan-serangan jarak jauh, mungkin kita akan berhasil mengacaukan mereka.” Dengan mempergunakan senjata ini, lanjut Ki Asem Gede, rupa-rupanya semangat mereka bangkit kembali. Dan sebentar kemudian, setelah segala siasat ditentukan, mulailah kami menyerang orang-orang berkuda itu dari jarak jauh dan dari segala jurusan. Orang-orang kami mempergunakan panah, supit dan bandil. Sedang rupa-rupanya orang-orang berkuda itu tidak bersiap untuk melakukan pertempuran jarak jauh, sehingga berhasilah siasat kami untuk mengacaukan perhatian mereka. Apalagi kami mempergunakan panah yang ujungnya kami balut dengan kain berminyak serta kami nyalakan. Akhirnya pemimpin mereka suami isteri itu terpaksa keluar dari Banjar dan akhirnya merekapun dapat kami usir pergi. “Tetapi yang menyedihkan kami adalah, Adi Demang Pananggalan, Baureksa dan Gagak Ijo, mengalami luka-luka yang cukup berat, serta tidak sadarkan diri. Apalagi gadis yang ditangkapnya itu. Ia mengalami ketakutan yang sangat sehingga akhirnya ia memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan kesadarannya.” Kembali Ki Asem Gede berhenti. Ia membetulkan duduknya dan seolah-olah menunggu Mahesa Jenar meresapi kata-katanya. Bagi Mahesa Jenar, persoalannya menjadi semakin jelas. Bahwa pernah terjadi percobaan untuk menculik gadis di daerah ini. Untunglah bahwa usaha itu dapat digagalkan. Tetapi meskipun demikian, rupanya, di daerah ini rombongan itu berhasil mendapatkan gadis-gadis untuk korban upacaranya yang aneh itu. “Kemudian sesudah itu…” Ki Asem Gede melanjutkan lagi, “di atas salah satu puncak pegunungan Baka, yaitu puncak Gunung Ijo, hampir tiap malam terlihat api yang menyala-nyala. Kami kemudian hampir memastikan bahwa rombongan orang-orang berkuda itu pergi ke sana. Kami merasa bahwa rombongan itu adalah rombongan yang berbahaya, tetapi kami tidak segera dapat memburunya sebab kami mengetahui kekuatannya. Meskipun demikian kami memutuskan untuk pada suatu saat akan menyusul mereka. Mengusir mereka atau kalau mungkin menghancurkan mereka sama sekali. Akan tetapi beberapa waktu kemudian tidak lagi pernah nampak nyala api di puncak Gunung Ijo. Dan sekarang Anakmas datang dengan membawa penjelasan tentang apa yang kira-kira pernah terjadi di atas puncak Gunung Ijo itu.” Cerita Ki Asem Gede diakhiri dengan suatu tarikan nafas yang panjang. Suatu tarikan nafas penjelasan. Mahesa Jenar sekarang sudah pasti, bahwa orang-orang berkuda itu adalah orang orang yang mempunyai kepercayaan sesat. Memang pernah terdengar adanya suatu aliran kepercayaan yang dalam upacaranya menggunakan gadis-gadis sebagai korban, disamping pemanjaan nafsu-nafsu lahirlah yang lain. Minuman keras, makan dengan suatu cara yang hampir dapat disebut buas, dan sebagainya. Suasana kemudian menjadi sepi. Sedang malam semakin lama semakin dalam. Mereka dihanyutkan oleh pikiran masing-masing serta gambaran-gambaran yang mengerikan tentang apa yang terjadi atas gadis-gadis yang dijadikan korban kepercayaan sesat semacam itu. DI bagian belakang rumah Kademangan itu, tampak adanya suasana yang berbeda sama sekali. Beberapa orang perempuan sedang sibuk mempersiapkan makan malam yang kali ini berbeda dengan kebiasaan, karena adanya seorang tamu yang sangat mereka hormati. Mereka telah menyembelih beberapa ekor ayam yang paling besar yang dapat mereka tangkap. Mereka juga telah mengundang juru masak yang paling terkenal di Kademangan itu. Sehingga tiba-tiba saja seolah-olah Demang Pananggalan sedang melangsungkan suatu perhelatan. Di pendapa Kademangan, Ki Asem Gede-lah yang mula-mula mencoba memecahkan kesepian, dan berusaha untuk mengubah suasana, melenyapkan ketegangan yang mencekam. “Adi Pananggalan, tidakkah Adi berhasrat menjamu Anakmas Mahesa Jenar? Tentang ceritera orang-orang berkuda itu, baiklah kita simpan lebih dahulu, sampai kesempatan lain. Aku kira Anakmas Mahesa Jenar perlu melepaskan lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh serta telah meladeni Adi berdua bermain loncat-loncatan. Nah, Adi Pananggalan, aku ada usul. Adi pasti setuju kalau gamelan Adi Pananggalan itu dibunyikan.” kata Ki Asem Gede kepada Demang Pananggalan. Demang Pananggalan tersenyum mendengar usul itu. Memang ia mempunyai seperangkat gamelan yang bagus, baik bahannya maupun bunyinya. Tentu saja Demang Pananggalan tidak dapat menolak usul itu. Maka, katanya kepada orang-orang yang berada di halaman, “Siapa yang di luar?” “Aku, Bapak Demang,” jawab salah seorang diantaranya. Sebentar kemudian orang itu berdiri dan melangkah naik ke pendapa. “Berapa orang seluruhnya?” tanya Demang tua itu lebih lanjut. “Enam atau tujuh orang, Bapak Demang,” jawab orang itu. “Nah, aku kira telah cukup. Mari kita bermain-main dengan gamelan. Ki Asem Gede ingin mengenang masa mudanya sebagai seorang penggemar gending,” ajak Demang Pananggalan. Ki Asem Gede tertawa terkekeh-kekeh. “Lebih dari itu…, aku adalah seorang penari juga. Tetapi tidak adakah seorang pesinden yang baik di desa ini?” sahut Ki Asem Gede. Kembali Ki Demang Pananggalan tersenyum, juga Mahesa Jenar dan Mantingan. Rupanya Ki Asem Gede adalah seorang penggemar uyon-uyon. “Nah, kalau begitu panggil Nyai Jae Manis,” kata Demang Pananggalan kepada orang tadi, yang sudah turun ke halaman. “Baik Bapak Demang,” jawabnya, sambil melangkah turun. Sebentar kemudian terdengar suara berbisik-bisik dan meledaklah tawa yang tertahan dari orang-orang yang berada di halaman. “Tetapi yang paling gembira dengan usul ini,” sambung Ki Asem Gede, “adalah Adi Mantingan, yang telah beberapa lama tidak mendengar suara gamelan.” Kembali terdengar mereka tertawa riuh. Sebentar kemudian mulailah segala sesuatunya berlangsung dengan meriah. Hidangan yang disiapkan oleh Nyai Demang satu demi satu mengalir keluar. Sementara itu bunyi gamelan yang berpadu dengan suara Nyai Jae Manis benar-benar dapat membelai hati pendengarnya. Di halaman, satu demi satu orang berdatangan untuk turut serta menikmati suara pesinden kenamaan dari daerah ini. Tetapi belum lagi mereka puas menikmati semuanya itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara derap kuda yang berlari kencang. Makin lama makin dekat dan makin dekat. Mendengar derap kuda itu, Demang Pananggalan, Mantingan, Ki Asem Gede dan Mahesa Jenar serentak mengangkat mukanya untuk mengetahui dari mana arah kedatangan mereka. Sedangkan di halaman segera terjadi keributan. Perempuan-perempuan berlari-lari kesana-kemari, anak-anak menangis menjerit-jerit. Mereka masih belum melupakan peristiwa beberapa waktu yang lalu, ketika ada rombongan orang-orang berkuda yang mengganggu ketenteraman desa mereka. Untunglah bahwa Demang Pananggalan cepat bertindak. Ia segera meloncat ke halaman dan mengatasi keadaan. “Perempuan dan anak-anak masuk ke rumah,” perintah Demang Pananggalan dengan suara nyaring. “Sedangkan semua laki-laki di halaman ini, segera memencar dan berusaha untuk mendapatkan senjata apa saja. Kita masih belum tahu siapakah yang datang, tetapi keselamatan desa ini di tangan kalian,” lanjut Demang. Laki-laki Kademangan ini bukanlah bangsa pengecut. Tetapi meskipun demikian, hati mereka berdebar-debar juga mengenangkan kebuasan orang-orang berkuda yang datang beberapa waktu yang lalu. Cepat-cepat mereka berpencar dengan senjata seadanya di tangan masing-masing. Karena mereka sama sekali tidak bersiaga, maka kecuali yang sedang bertugas ronda, mereka semuanya tidak bersenjata. Untuk mencukupi kebutuhan, ada yang memegang sabit rumput, kapak pembelah kayu, kayu penumbuk padi, kayu tajam untuk mengupas kelapa, bahkan ada yang bersenjata perunggu wilahan gamelan, di tangan kanan dan kiri. Beberapa orang yang rumahnya berdekatan dengan pendapa kademangan, berloncatan pulang untuk mengambil tombak, pedang dan apa saja yang ada untuk mempersenjatai kawan-kawan mereka. Tetapi getaran hati mereka terasa jauh berkurang ketika mereka melihat di atas tangga pendapa kademangan berdiri Ki Asem Gede dan Ki Dalang Mantingan dengan trisulanya di tangan, serta tamu mereka yang gagah perkasa, Mahesa Jenar, yang juga bergelar Rangga Tohjaya, dengan sikap yang tenang dan meyakinkan. Pada saat itu, suara derap kuda itu sudah demikian dekatnya. Sesaat kemudian mereka melihat empat orang penunggang kuda berturut-turut menyusup regol memasuki halaman Kademangan. Ketika para penunggang kuda itu melihat kesiap-siagaan orang-orang di halaman itu, mereka tampak terkejut, dan sekuat tenaga mereka menarik kendali kuda masing-masing sehingga kuda-kuda itu berdiri dan meringkik-ringkik. Secepatnya kuda itu menjejak kaki depannya di atas tanah, secepat itu pula para penunggangnya berloncatan turun. Bersamaan dengan itu, lega pulalah hati setiap orang yang berdiri di halaman, karena mereka menyaksikan bahwa kedua penunggang kuda yang di depan tampak samar-samar oleh cahaya lampu, memakai sabuk putih, serta segulung tali berjuntai di pinggangnya dan di pinggang yang lain tergantung kantong yang berisi batu-batu pilihan. Itulah ciri-ciri murid Ki Asem Gede yang bersenjatakan bandil. Dua orang yang lain pun tidak menunjukkan tanda-tanda yang berbahaya, meskipun di pinggang mereka tergantung kapak yang tajamnya putih berkilat-kilat oleh cahaya lampu. WAJAH Ki Asem Gede segera berkerut ketika menyaksikan orang-orang berkuda yang datang itu. Dijelaskan bahwa ia sedang berusaha untuk menguasai debar jantungnya. Begitu kedua murid Ki Asem Gede menjejakkan kakinya, segera mereka dengan cepat menghadap gurunya, sedangkan kedua orang yang lain berdiri sambil memegang kendali keempat ekor kuda itu. Kedua murid Ki Asem Gede itu segera membungkuk hormat, dan salah seorang diantara mereka berkata, “Ki Asem Gede, kedua kawan ini adalah murid-murid Ki Wirasaba.” Mendengar laporan itu wajah Ki Asem Gede makin berkerut. Ia memandang kepada kedua orang itu dengan gelisah, lalu dengan langkah cepat ia mendekatinya. Rupanya ia ingin berbicara dengan orang-orang itu tanpa didengar oleh orang lain. “Bagaimana?” tanya Ki Asem Gede, setelah orang itu mendekat. Meskipun kata-kata itu diucapkan perlahan-lahan, tetapi karena jaraknya tak begitu jauh, maka suara itu terdengar juga oleh orang-orang yang berdiri di atas tangga. Dua orang itu sebelum menjawab, matanya menyambar beberapa orang yang berdiri di halaman, lalu ke Ki Asem Gede. “Katakanlah,” desak Ki Asem Gede. “Mereka telah menculik Nyi Wirasaba,” jawab salah seorang diantaranya. “He..?” Ki Asem Gede terkejut bukan alang-kepalang, tubuhnya yang sudah kisut itu menggigil. “Kalian tak berbuat apa-apa?” Kedua orang itu menundukkan kepala. Mereka tak berani memandang wajah Ki Asem Gede yang sedang menahan gelora hatinya. “Kami telah mencoba, tetapi kekuatan kami tak berarti. Dua orang kakak seperguruan kami telah mereka lukai dengan berat, dan bagi kami satu-satunya adalah melaporkan ini kepada Ki Asem Gede. Tetapi kebetulan Ki Asem Gede tiada di rumah, sehingga kami tadi diantar kemari.” jawab orang itu. Tampaklah tubuh Ki Asem Gede semakin menggigil. Diluar dugaan mereka yang berada di halaman itu, tiba-tiba secepat kilat Ki Asem Gede meloncat ke atas salah satu kuda itu. Sekali tarik kendali, kuda itu telah berputar dan meluncur bagai anak panah. Mereka yang menyaksikannya menjadi terpaku diam, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Demikian juga keempat orang yang datang berkuda tadi, berdiri saja tegak seperti patung. Belum lagi mereka tersadar, mendadak mereka melihat sesosok tubuh melayang pula ke atas punggung kuda yang satu lagi. Dengan kecepatan yang luar biasa pula, kuda ini melompat mengikuti arah larinya kuda yang dinaiki oleh Ki Asem Gede. Orang itu tidak lain adalah Mahesa Jenar. Ketika ia mendengar percakapan Ki Asem Gede dengan keempat orang berkuda itu, ia sudah mengira kalau terjadi sesuatu. Maka ketika secepat itu Ki Asem Gede melarikan kudanya, ia makin yakin bahwa tentu ada kesulitan dengan menantunya. Dan dialah orang yang pertama-tama dapat menguasai dirinya dari pergolakan perasaannya, sehingga ia mengambil keputusan untuk mengikuti orang tua itu. Kuda Ki Asem Gede lari dengan kecepatan penuh di malam yang gelap dengan meninggalkan debu putih yang berhambur-hamburan, ke arah utara menyusur kali Opak. Jalannya begitu sempit dan berbahaya. Tapi Ki Asem Gede sama sekali tak menghiraukan. Ia ingin cepat-cepat sampai ke Pucangan, dimana ia yakin kalau anaknya, Nyi Wirasaba, ditahan. Ia tahu betul bahwa segerombolan orang-orang ternama di daerah itu, yang merasa cukup mempunyai kesaktian, menjadi takabur dan berbuat sewenang-wenang. Kejahatan-kejahatan seringkali mereka lakukan. Pemerasan dan penganiayaan. Dan yang paling jahat adalah pengambilan istri orang. Ini mereka lakukan, karena mereka merasa tak terkalahkan. Bahkan mereka juga mengambil gadis-gadis untuk dijadikan istri mereka yang keempat, kelima atau kesekian. Tak seorangpun yang dapat mencegahnya. Sedang kali ini yang menjadi korban adalah anak Ki Asem Gede. Mengingat semuanya itu, hati Ki Asem Gede bergolak hebat sekali karena marahnya. Sejak ia mengasingkan diri di Asem Gede, ia sudah tak pernah lagi berangan-angan bahwa pada suatu kali ia masih harus bertempur. Ia merasa sudah masanya menyepi dan mempergunakan sisa hidupnya untuk diabadikan pada perikemanusiaan. Tetapi menghadapi persoalan seperti sekarang ini? Wajah Ki Asem Gede yang lunak dan damai itu berubah menjadi merah darah. Mulutnya terkatub dan giginya gemeretak. Kudanya yang berlari seperti setan itu rasa-rasanya begitu lambatnya, sehingga berkali-kali Ki Asem Gede terpaksa menggebraknya. Debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki kuda Ki Asem Gede itu, telah menolong Mahesa Jenar untuk dapat mengikutinya dari jarak yang agak jauh. Untunglah bahwa kudanya agak lebih baik sedikit dari kuda Ki Asem Gede, sehingga jarak mereka makin lama makin dekat. Berapa lama mereka berkuda, tak lagi terasa, karena perasaan mereka masing-masing begitu tegangnya. Ki Asem Gede ingin segera sampai ke tempat tujuannya, sedangkan Mahesa Jenar sibuk menduga-duga apa yang sudah terjadi atas anaknya. Perjalanan mereka kini menyusup belukar, menjauhi Sungai Opak. Meskipun keadaan di dalam belukar itu gelapnya bukan main, Mahesa Jenar mempunyai penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam, sehingga dengan mendengarkan derap kuda Ki Asem Gede, ia dapat menyusup lewat jalan sempit itu ke arah yang benar. Setelah beberapa lama mereka menelusur jalan belukar, akhirnya mereka sampai ke mulutnya. Begitu mereka muncul dari belukar, terasa hawa sejuk menyapu muka. Mahesa Jenar lebih merasakan segarnya udara, sebab Ki Asem Gede perhatiannya penuh tertumpah kepada putrinya. Kini jalan yang mereka lalui mulai menanjak dan berliku-liku. Rupanya mereka telah sampai di kaki Gunung Merapi. Lama-lama di sebelah timur telah membayang warna merah. “Hampir fajar,” dengus Mahesa Jenar seorang diri. Kuda-kuda mereka kini telah mulai menyusur jalan persawahan. Juga di daerah ini padi sedang berbunga. Batang-batangnya yang berwarna hijau segar itu ditaburi oleh warna kemerahan fajar menjadi sedemikian bagusnya, sehingga untuk sementara Mahesa Jenar terpaku perhatiannya. Tetapi ketika diingatnya orang tua yang di depannya itu semakin melarikan kudanya, ia pun segera mengesampingkan keindahan fajar. Sekali ia sentakkan kakinya, kudanya berlari semakin cepat seperti terbang. Tiba-tiba kuda Ki Asem Gede membelok ke timur, dan sebentar kemudian menyusup masuk ke sebuah desa. ITULAH Pucangan. Mahesa Jenar tidak mau kehilangan jejak. Dengan ujung kendali, kudanya dicambuk agar melaju lebih cepat lagi. Ki Asem Gede tak sedikit pun mengurangi kecepatan kudanya. Ketika sampai di muka sebuah rumah yang berhalaman luas dan beregol besar, ia membelokkan kudanya memasuki halaman. Kuda yang semula lari seperti kuda gila itu, langsung menuju ke pendapa rumah itu. Baru ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, Ki Asem Gede menarik kendali dan berhenti di muka pendapa. Pendapa itu ternyata tertutup dinding di empat sisinya. Pintunya masih tertutup rapat, dan lampu di dalamnya hanya menyala remang-remang. Cepat Ki Asem Gede turun dari kudanya. Sebentar ia tertegun. Tempat itu tampaknya sunyi. Tetapi ia yakin kalau putrinya berada di tempat itu. Itulah rumah pemimpin gerombolan orang-orang yang merasa dirinya tak dapat dirintangi kemauannya, bernama Samparan. Ki Asem Gede mengetok pintu itu keras-keras. Sekali, dua kali, tak ada yang menyahut. Akhirnya Ki Asem Gede tak sabar lagi. Dengan kedua sisi telapak tangannya ia memukul daun pintu itu sekuat tenaga, hingga berderak-derak. Maka patahlah palang pintu itu, sehingga terbuka lebar-lebar. Cepat-cepat ia meloncat masuk, dan tampaklah olehnya lima orang sedang duduk di atas sebuah balai-balai bambu yang besar menghadapi meja kecil berisi bermacam-macam makanan dan minuman keras. Kelima orang itu memandang Ki Asem Gede dengan pandangan kosong, dan sikap yang acuh tak acuh, sehingga Ki Asem Gede semakin marah. ”Kalian menculik anakku!” teriaknya. Sikap Ki Asem yang sudah tua itu tampak garang dan sama sekali berobah dari sifat keramah-tamahannya. ”Kami sudah mengira kalau kau akan datang ke pondokku yang jelek ini,” jawab salah satu dari kelima orang itu, yang rupanya adalah pemimpinnya, Samparan. ”Tetapi adalah kurang bijaksana kalau seorang tamu mesti merusak pintu,” sambung orang itu. Lalu terdengarlah suara mereka berlima tertawa berderai-derai. Direndahkan demikian, Ki Asem Gede semakin marah. Cepat ia membungkuk mengambil palang pintu yang telah dipatahkannya tadi, dan dilemparkan sekuat tenaga ke arah meja kecil di atas bale-bale di antara kelima orang itu. Begitu hebatnya lemparan Ki Asem Gede sehingga meja kecil yang tertimpa palang pintu itu pecah berserak-serakan. Suara tertawa kelima orang itu jadi terputus karena terkejut. Mereka cepat-cepat meloncat menjauh, dan turun dari balai-balai itu. Mereka sama sekali tidak mengira kalau orang tua itu masih memiliki tenaga yang sedemikian kuatnya. Sebentar kemudian terdengar Samparan tertawa terbahak-bahak. ”Bagus …, bagus …. Alangkah hebatnya,” kata Samparan. Ki Asem Gede sudah tidak mau mendengarkan lagi. Kembali ia berteriak. ”Aku datang untuk mengambil anakku.” Lagi, Samparan tertawa, tapi kali ini tawanya dingin. ”Kami telah berbuat suatu kebaikan bagi penduduk di sekitar daerah ini, dengan menyimpan anakmu.” ”Apa kau bilang?” potong Ki Asem Gede. ”Anakmu telah melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk dengan mengganggu ketentraman rumah tangga orang, meskipun ia sudah bersuami.” ”Omong kosong!” teriak Ki Asem Gede semakin marah. Kembali Samparan tertawa. ”Sudah seharusnya kau tidak percaya, sebab kau ayahnya. Tetapi ketahuilah bahwa di daerah ini telah timbul keributan karena pokal anakmu. Bahkan lebih dari itu, di daerah barat daya telah timbul wabah penyakit. Kau tahu sebabnya? Ketahuilah, bahwa itu disebabkan karena salah istrimu itu pula, sehingga danyang-danyang menjadi marah.” sambung Samparan. Ki Asem Gede sudah sampai pada puncak kemarahannya sehingga seluruh tubuhnya bergetar. Ia tahu benar betapa liciknya orang-orang itu, dan betapa pandainya mereka memutar balik kenyataan. ”Samparan…” jawab Ki Asem Gede dengan suara menggigil. ”Aku tahu siapakah kau. Jadi kau tak usah banyak bicara di hadapanku. Aku tahu bahwa anakku menolak menuruti kehendakmu dan kawan-kawanmu, gerombolan iblis ini, sehingga kau terpaksa menculiknya dan menyimpannya. Sekarang aku minta anakku itu kau serahkan kepadaku.” Samparan mendengus lewat hidungnya, lalu berkata lagi, ”Aku tetap pada keteranganku. Dan kami berlima atas persetujuan rakyat di daerah ini, telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan hukuman atas anakmu itu. Aku hanya meniru apakah hukuman yang dijatuhkan pada orang demikian pada jaman dahulu, yaitu dilempari batu sampai mati.” Mendengar jawaban itu, tubuh Ki Asem Gede semakin menggigil dan giginya gemertak menahan marah yang hampir meledak. ”Hanya Sultan di Demak yang berhak menjatuhkan hukuman mati, atau orang yang telah mendapat kuasanya. Orang-orang Pucangan ini pun tak berhak melakukan itu, apalagi iblis-iblis macam kau ini.” teriak Ki Asem Gede. Samparan mengangguk-angguk, lalu kembali terdengar tawa iblisnya. ”Betul…, betul Ki Asem Gede, tetapi di daerah terpencil sejauh ini, jari-jari kekuasaan Demak tak begitu terasa. Maka sudah sewajarnyalah kalau kami yang merasa sedikit ada kemampuan, membantu berlakunya undang-undang di daerah ini, menghapuskan kekhianatan.” Hampir Ki Asem Gede tak dapat menahan dirinya. Untunglah bahwa pikirannya masih dapat bekerja. Ia merasa tak akan mampu melawan kelima orang itu. ”Di Demak,” kata Ki Asem Gede kemudian, ”untuk tiap-tiap keputusan ada hak pembelaan. Berlaku jugakah peraturan ini?” Mendengar pertanyaan ini kelima orang itu tampak berpikir. Tetapi sebentar kemudian terdengar kembali tawa iblis keluar dari mulut Samparan. ”Kau cerdik sekali Ki Asem Gede. Kau ingin menjadikan persoalan ini menjadi persoalan umum.” ”Bukankah telah kau katakan bahwa putusanmu itu atas persetujuan penduduk di daerah ini? Bukankah dengan demikian hal itu sudah menjadi persoalan umum?” SAMPARAN kembali merenung. Tampak ia berpikir untuk mengatasi usul Ki Asem Gede itu. Kalau sampai terjadi ada semacam pengadilan bagi persoalan ini, dimana dapat hadir saksi-saksi, maka terang hal ini tidak menguntungkan pihaknya. Tetapi akhirnya ia ketemukan juga suatu cara untuk mengatasinya. “Ki Asem Gede, kami adalah bangsa yang mengenal keadilan. Kenapa kami keberatan kalau diadakan pembelaan? Tetapi karena kekuasaan tertinggi dalam persoalan ini adalah di tangan kami, maka kamilah yang menentukan cara pembelaan itu.” “Bagaimana caranya?” Dalam kesulitan ini Ki Asem Gede hanya dapat mengharap suatu perkembangan persoalan yang dapat menguntungkan dirinya. Samparan menarik alisnya tinggi-tinggi, kemudian menjawab, “Keadilan yang tertinggi terletak di tangan takdir. Karena itu pembelaan dalam persoalan ini pun sudah seharusnya kalau didasarkan atas hal itu. Tegasnya, pembelaan itu hanya dapat dilakukan dengan sebuah pertarungan. Kau boleh memilih seorang pembela, atau barangkali kau sendiri? Sedang di pihak kami pun akan ada seorang yang harus mempertahankan keputusan kami itu. Nah, kemudian segala sesuatu terserah pada kehendak takdir.” Kemudian Samparan menarik nafas panjang-panjang. Ia yakin kalau pihaknya pasti akan menang. Sebab bagaimana hebatnya Ki Asem Gede, tetapi karena umurnya yang sudah lanjut itu, tentu tidak akan berbahaya lagi. “Setan…,” dengus Ki Asem Gede. Tetapi meskipun demikian ia masih berusaha untuk mendapat suatu kesempatan. “Bagus…, aku terima cara itu. Sekarang aku minta ditetapkan waktu. Minggu depan barangkali?” Samparan jadi tertawa terbahak-bahak. Ia menangkap maksud Ki Asem Gede. “Kau memang licik sekali. Kau mengharap bahwa kau dapat mencari bantuan orang lain. Atau dalam kesempatan itu kau dapat membebaskan anakmu. Nah Ki Asem Gede… supaya persoalan ini tidak berlarut-larut, aku tetapkan hari pertarungan ini adalah hari ini. Bukankah fajar sudah datang?” Seperti disengat ribuan lebah, Ki Asem Gede mendengar putusan Samparan itu. Bahwa setan itu betul-betul licik, kini telah terbukti. Dan ia sesali ketergesa-gesaannya tadi. Kalau saja ia tadi membicarakan soal ini dengan sahabat-sahabatnya. Ki Asem Gede sendiri bukan berarti takut menghadapi persoalan itu, meskipun misalnya ia harus menyerahkan nyawanya. Tetapi taruhannya terlalu besar. Kalau ia kalah, berarti kekalahan itu berlipat dua, sedangkan ia sendiri sadar bahwa tenaganya sudah mulai surut. Apalagi menghadapi iblis-iblis yang segar dan sedang tumbuh. Kembali Ki Asem Gede menyesali dirinya. Biasanya ia berlaku tenang. Tetapi menghadapi persoalan satu-satunya anak yang diharapkan dapat melanjutkan namanya, ia jadi kehilangan ketenangan itu. Tetapi pada saat ia sedang kebingungan, tiba-tiba terdengarlah suatu suara yang berat, dan mengandung pengaruh yang luar biasa. “Ki Asem Gede akan menerima ketetapan hari itu. Dan Ki Asem Gede akan menunjuk aku sebagai pembelanya.” Mendengar suara itu, semua yang berada di dalam ruangan segera memandang ke arah pintu di mana berdiri seorang dengan sikap yang tenang meyakinkan. Itulah Mahesa Jenar. Melihat kehadiran Mahesa Jenar tanpa diduga-duga itu, Ki Asem Gede menjadi girang bukan kepalang, sampai hampir-hampir ia berteriak. Cepat-cepat ia melangkah mendekati dan menggoyang-goyangkan tangan sahabatnya yang baru saja dikenalnya itu. Sementara itu kelima orang penghuni rumah itu memandang dengan heran dan mencoba menebak-nebak. Siapakah gerangan orang yang begitu besar kepala sehingga berani menawarkan diri untuk membela anak Ki Asem Gede itu? Sedang wajah orang itu belum pernah dikenalnya. “Siapakah dia?” tanya Samparan kemudian. Hampir saja Ki Asem Gede menyebut gelar Rangga Tohjaya untuk sekaligus menakut-nakuti kelima orang itu. Tetapi melihat gelagat itu, segera Mahesa Jenar mendahului, “Aku adalah Mahesa Jenar, sahabat Ki Asem Gede.” “Mahesa Jenar?” ulang Samparan. Nama itu pun sama sekali tak terkenal di daerah ini. Orang yang paling mereka takuti adalah Dalang Mantingan, yang beberapa waktu lalu berhasil menangkap tiga serangkai perampok yang bernama tunggal Samber Nyawa. Dan seandainya Dalang Mantingan pada saat itu ada di situ pun belum tentu dapat mengalahkan mereka berlima yang merasa mempunyai kekuatan dua kali lipat dari kekuatan Samber Nyawa itu. Hanya tentu saja kalau Mantingan ada di situ, ia takkan berani membuat tantangan pertarungan yang demikian. Tetapi sekarang yang ada hanya orang yang sama sekali tak ternama. Melihat keragu-raguan orang-orang itu, serta takut kalau mereka mengubah peraturannya, segera Mahesa Jenar menambahkan, “Aku kira tak ada lagi persoalan. Apapun yang akan terjadi atas diri kami nanti, yang melaksanakan pertandingan itu, bukanlah suatu soal yang perlu direnungkan. Aku adalah laki-laki seperti kalian juga.” Perkataan Mahesa Jenar ini rupa-rupanya telah berhasil menyentuh harga diri Samparan serta kawan-kawannya, apalagi mereka telah merasa bahwa kehebatan mereka sukar mendapat tandingan. Dalam pada itu salah seorang kawan Samparan segera melangkah setindak maju, dan dengan suaranya yang nyaring berkata, “Kakang Samparan, apa yang sudah terucapkan sebaiknya dilaksanakan. Aku belum kenal orang ini, dan orang ini pun rupa-rupanya belum kenal kami. Baiklah kini kami saling berkenalan. Aku usulkan sebagai pelaksanaan dari peraturan itu, pertandingan diadakan di halaman rumah ini secara terbuka. Siapa saja boleh menyaksikan. Dan satu soal lagi, pertarungan dilaksanakan sampai selesai. Maksudku, sampai salah satu pihak tak mampu melawan. Jadi tidak boleh menarik diri. Siapa yang menang mempunyai hak untuk berbuat apapun atas yang kalah, dan atas barang taruhan.” Kata-kata itu diucapkan dengan penuh keyakinan, bahwa Mahesa Jenar merupakan sebuah umpan yang sangat lunak. Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Sedang Ki Asem Gede yang semula sangat girang, kini menjadi agak cemas juga. “Kalau… seandainya… Mahesa Jenar kalah…? Akh tak mungkin,” pikir Ki Asem Gede. Sementara itu Samparan tak mengangguk meskipun ia tidak seyakin Watu Gunung, kawannya yang telah melengkapi peraturan tadi. Ia menduga bahwa orang itu pun sedikit-banyak mempunyai pegangan sehingga berani menyatakan dirinya sebagai pembela. Bersambung… ________________________ Pengarang dan Hakcipta© oleh Singgih Hadi Mintardja Di kompilasi ulang oleh Daniel SNS taxdsns Nagasasra dan Sabuk Inten adalah buku cerita silat klasik karya Mahesa Jenar pergi mengembara meninggalkan Istana Demak karena perselisihan soal keyakinan agama Mahesa Jenar adalah murid Syekh Siti Jenar, seperti juga Ki Kebo Kenanga alias Ki Ageng Pengging dan karena hilangnya pusaka-pusaka Kesultanan Demak, di antaranya keris-keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabukinten. Keris-keris itu ternyata tengah menjadi rebutan tokoh-tokoh golongan hitam, karena dianggap bisa menjadi sipat kandel Jawa modal spiritual bagi penguasa Tanah itu dalam perjalanannya menemukan kembali keris Nagasasra dan Sabukinten, Mahesa Jenar menemukan beberapa persoalan lain yang saling kait mengait. Menghilangnya ayah Rara Wilis, yang kemudian menjadi kepala gerombolan di Gunung Tidar. Sementara itu sahabatnya, Ki Ageng Gajah Sora yang menjadi Kepala Daerah Perdikan Banyu Biru, difitnah oleh adiknya, Ki Ageng Lembu Sora, yang tamak ingin menguasai wilayah Banyu Biru, dan pada akhirnya harus ditangkap dan ditahan di Demak. Dalam pada itu, semua gerombolan dari golongan hitam itu berdatangan menyerbu ke Banyu Biru, karena adanya isu keberadaan keris Nagasasra dan Sabukinten di daerah Jenar, dengan dibantu sahabat-sahabatnya, berupaya keras menyelamatkan Banyu Biru dari bencana, sambil mendidik Arya Salaka sebagai pewaris wilayah Banyu Biru pada masa depan. Sedangkan keris-keris Nagasasra dan Sabukinten diselamatkan oleh seorang sakti yang selalu diliputi oleh rahasia, namun sangat dihormati oleh Baginda Sultan Trenggana dari Demak. Loading.... NAGASASRA dan SABUK INTEN Judul Buku Nagasasra dan Sabuk Inten Karya SH Mintardja Gambar Kulit Kentardjo Illustrasi R. Soesilo Jilid 29 Jilid Format A5 Halaman 80 halaman Kertas Buram Penerbit Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Tahun Jilid 1 dicetak tahun 1966 Prakata Penulis apa yang dapat kuutarakan dalam buku kecil ini, sama sekali tak berarti, meskipun aku bermaksud untuk mengatakan sesuatu, tentang jiwa kepahlawanan, kecintaan kepada rakyat dan tanah air, kesetiaan pada kebenaran, serta hukuman pada setiap kemungkaran, lebih dari pada itu, aku ingin mengutarakan, betapa tanah air memiliki pula bahan-bahan yang dapat disusun untuk sebuah cerita seperti ini. Mahesa Jenar dikutip dari Mahesa Jenar merupakan tokoh utama dalam cerita Nagasasra dan Sabukinten karya Mintardja. Cerita yang populer tahun 1960 ini mengisahkan tentang sosok mantan prajurit Kasultanan Demak dalam upaya mencari pusaka kerajaan, yakni keris Nagasasra dan Sabukinten. Penggambaran tokoh Mahesa Jenar dikenal pula sebagai Senapati Rangga Tohjaya. Gelar itu didapatnya saat masih menjabat sebagai salah satu prajurit pilihan di Kerajaan Demak. Mahesa Jenar berasal dari Kadipaten Pandan Arang Semarang. Dia adalah murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh alias Pangeran Handayaningrat, putra dari Prabu Brawijaya kelima. Saudara seperguruannya adalah Ki Ageng Pengging alias Ki Kebo Kenanga adalah putra dari Ki Ageng Pengging Sepuh. Di dalam perantauannya, Mahesa Jenar juga dikenal sebagai Manahan. Nama itu dipakainya saat melarikan diri dari kejaran laskar banyubiru demi menyelamatkan Arya Salaka, putra sahabatnya, Ki Ageng Gajah Sora. Masa kecilnya dilalui sebagai teman bermain “Nis” yang dikenal juga sebagai Ki Ageng Sela Enom. Nis Sela atau yang dikenal juga dengan sebutan Ki Ageng Ngenis adalah putra dari Ki Ageng Sela Sepuh. Legenda mengatakan bahwa Ki Ageng Sela Sepuh yang tinggal di daerah Sela, Boyolali, Jawa Tengah memunyai kelincahan yang luar biasa sehingga mampu menangkap petir. Dan kemampuan ini menurun pada anaknya Nis Sela Dalam cerita rekaan ini, tokoh fiktif ini digambarkan dekat dengan beberapa tokoh yang masuk dalam sejarah Jawa, di antaranya Sultan Trenggana, Jaka Tingkir, Panjawi, dan sosok-sosok lainnya. Hubungan dengan beberapa tokoh nyata ini karena jalan ceritanya mengambil latar ketika masih berkuasanya Kasultanan Demak. Mahesa Jenar merupakan salah satu prajurit yang sangat dihormati di lingkungan kerajaan, termasuk oleh Sultan Trenggana sendiri. Sayang saat terjadi peristiwa terbunuhnya Ki Kebo Kenanga ditambah pencurian pusaka kerajaan, Kyai Nagasasra dan Kyai Sabukinten, Mahesa Jenar dianggap sebagai seteru kerajaan, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan mulai merantau untuk melacak keberadaan kedua keris pusaka itu. Mahesa Jenar dikenal dengan sikapnya yang jantan dan ksatria. Dia adalah tipikal prajurit yang berjuang tanpa berharap imbalan. Begitu gigihnya dalam perjuangan, Mahesa Jenar sampai kadang melupakan kepentingan pribadinya. Mahesa Jenar juga tipe pria yang keras hati dan kadangkala dianggap kaku oleh kaum perempuan. Kekakuannya itu sebenarnya adalah cerminan dari ketulusan jiwanya dan kerelaannya berkorban untuk sesuatu yang dianggapnya benar. Termasuk jika dia harus mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Sikapnya yang demikian juga karena kecanggungannya jika berhadapan dengan wanita sehingga membuatnya bisa bersikap tidak wajar. Peristiwa yang melibatkan dirinya dengan Nyai Wirasaba menunjukkan betapa Mahesa jenar kurang peka dalam menyelami perasaan seorang wanita. Dalam perjalanannya, suatu hari di Hutan Tambak Baya, dirinya menolong seorang gadis cantik bernama Dewi Rara Wilis dari cengkeraman penjahat yang menamakan dirinya Jaka Soka dan Lawa Ijo setelah melalui pertempuran sengit dan nyaris tewas oleh kekuatan pusaka Lawa Ijo. Dari situlah Mahesa Jenar kemudian menaruh bibit cinta pada Rara Wilis. Rara Wilispun ternyata membalas cintanya, meskipun kemudian Mahesa Jenar berusaha meninggalkannya karena tahu dirinya tidak bisa memberikan apa-apa pada gadis yang sangat dicintainya itu. Hal itu dilakukannya setelah mengetahui saudara perguruan Rara Wilis, Demang Sarayuda yang kaya raya juga mencintai Rara Wilis. Tidak diketahui apakah sikap Mahesa Jenar yang demikian itu benar-benar keluar dari dasar hatinya ataukah sekedar akibat kecemburuan sesaat. Beruntung kemudian Mahesa Jenar mendapat nasihat dari Ki Ageng Pandan Alas, kakek sekaligus guru dari Rara Wilis. Dalam perantauannya, Mahesa Jenar bersahabat dengan Ki Ageng Gajah Sora dari Banyubiru. Ki Ageng Gajah Sora adalah putra sekaligus murid dari Ki Ageng Sora Dipayana yang juga adalah sahabat gurunya. Uniknya, sebelum saling menyadari, keduanya terlibat pertarungan dahsyat yang nyaris merenggut nyawa mereka berdua. Persahabatan mereka berdua pula yang membawa Mahesa Jenar terlibat perang saudara di Banyubiru dan akhirnya harus melarikan diri setelah Ki Ageng Gajah Sora difitnah telah mencuri keris Nagasasra dan Sabukinten. Dalam pelariannya itu, dia membawa putra Ki Ageng Gajah Sora, Arya Salaka yang belakangan diangkatnya sebagai anak dan murid. Secara tidak diduga, dalam pelariannya selama hampir lima tahun itu, dia bertemu dengan paman gurunya Ki Kebo Kanigara saudara seperguruan sekaligus anak tertua Ki Ageng Pengging Sepuh , yang memiliki kesaktian jauh lebih dahsyat dari gurunya sendiri. Dan lewat bimbingan dari Kebo Kanigara pulalah Mahesa Jenar akhirnya bisa melewati batas kemampuan ilmunya sendiri yang membuat ilmunya meningkat berlipat-lipat hingga diapun juga berhasil melampaui kesaktian gurunya. Kesaktian Mahesa Jenar menguasai Ilmu Sasra Birawa dari perguruan Pengging dengan baik. Sebelum mendapat bimbingan dari Ki Kebo Kanigara, ilmunya masih belum seberapa, hanya setingkat lebih tinggi dari kesaktian para pendekar level menengah seperti Mantingan, Wirasaba, Jaka Soka atau Lawa Ijo. tapi setelah menggembleng diri di bawah bimbingan Ki Kebo Kanigara, ilmunya meningkat tajam, bahkan jika harus melawan para sesepuh dunia persilatan sekalipun Mahesa Jenar tidak akan kalah Sehingga Mahesa Jenar kemudian disebut sebagai titisan dari Almarhum Pangeran Handayaningrat sendiri. Bahkan oleh sebagian kalangan tua, Mahesa Jenar dipandang lebih hebat dari gurunya tersebut. Tata Gerak yang diperagakan oleh Mahesa Jenar selain murni dari tata gerak perguruan Pengging, juga dikembangkan dengan kemampuannya menirukan gerak binatang di alam liar, sehingga perkembangan gerakan Perguruan Pengging menjadi semakin bervariasi. Mahesa Jenar kerap disebut memiliki kelincahan seekor kijang dengan tenaga seekor banteng. Dia juga bisa menggunakan berbagai macam senjata dengan baik berkat latihannya sebagai prajurit, segala benda yang ada di tangannya bisa digunakan sebagai senjata yang mematikan. Mahesa Jenar juga gemar mengamati setiap tata gerak dari setiap lawannya membuatnya mampu membaca setiap gerakan lawannya. Ki Kebo Kanigara menyebutnya bertarung dengan kecerdasan. Tidak salah jika disebut demikian karena Mahesa Jenar selain jeli juga memiliki otak yang cemerlang. Kecerdasannya dibuktikan saat mengungkap teka-teki keberadaan tokoh misterius bernama Pasingsingan, bahkan dia berhasil pula menghubungkan keberadan Pasingsingan dengan Panembahan Ismaya, sesepuh Padepokan Karang Tumaritis, yang sejatinya adalah guru dari seluruh Pasingsingan yang ada. Berkat kecerdasannya pula dia berhasil menyempurnakan ilmu Sasrabirawa tidak hanya sebagai ilmu untuk menyerang, tapi juga bisa berfungsi sebagai pertahanan. Pasingsingan yang bernama Umbaran pernah merasakan bagaimana ilmunya berhasil dipatahkan dengan perlindungan Sasrabirawa yang disempurnakan oleh Mahesa jenar. Mahesa Jenar juga kebal racun karena di dalam darahnya mengalir bisa ular Gundala Seta yang terkenal mampu menetralisir segala macam racun. Bisa ular Gundala Seta tersebut diperolehnya dari Ki Ageng Sela. Kemampuannya dibuktikan saat mengobati kaki Wirasaba, salah satu sahabatnya yang disebut juga sebagai Seruling Gading. Dan sekali lagi saat memunahkan racun dari pusaka Lawa Ijo yang dikenal dengan sebutan Akik Kelabang Sayuta. Wedaran naskah Naskah diunggah satu demi satu sesuai ketersediaan wajtu untuk editing. Tautan link sudah disediakan di bawah ini, tetapi mungkin belum semuanya terdapat tautan ke naskah. Mohon bersabar. 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29

nagasasra sabuk inten jilid 10